Stablecoin Masuk Arus Utama, Visa–Bridge Bidik 100 Negara di 2026

- 4 Maret 2026 - 10:38

Visa menggandeng Bridge—perusahaan stablecoin milik Stripe—untuk memperluas kartu pembayaran berbasis stablecoin ke lebih dari 100 negara hingga akhir 2026. Produk yang sudah aktif di 18 negara ini memungkinkan pengguna membelanjakan stablecoin lewat jaringan Visa, memanfaatkan infrastruktur blockchain yang diklaim lebih cepat dan efisien dibanding sistem pembayaran tradisional. Langkah ini menandai percepatan adopsi stablecoin dalam ekosistem pembayaran global.


Fokus:

■ Kartu stablecoin Visa kini aktif di 18 negara dan ditargetkan hadir di lebih dari 100 negara pada 2026.
■ Bridge dan Lead Bank memperkuat ekosistem penerbitan kartu berbasis stablecoin untuk bisnis dan fintech.
■ Stablecoin semakin menjadi infrastruktur inti pembayaran lintas negara, bukan lagi sekadar instrumen kripto.


Stablecoin—yang dulu dianggap sekadar instrumen parkir dana di dunia kripto—kini melangkah lebih jauh ke kasir toko dan mesin EDC. Visa bersama Bridge, perusahaan stablecoin milik Stripe, mengumumkan ekspansi besar-besaran kartu pembayaran berbasis stablecoin ke lebih dari 100 negara hingga akhir tahun ini. Ini bukan sekadar uji coba, melainkan manuver strategis untuk menjadikan blockchain bagian dari arsitektur pembayaran global.

Dari Amerika Latin ke Panggung Dunia

Produk kartu Visa berbasis stablecoin yang diluncurkan tahun lalu awalnya difokuskan di Amerika Tengah dan Selatan. Kini, kartu tersebut telah aktif di 18 negara dan digunakan melalui platform kripto seperti Phantom dan MetaMask.

Visa dan Bridge milik Stripe memperluas kartu pembayaran berbasis stablecoin ke lebih dari 100 negara pada 2026. Stablecoin kian masuk arus utama sistem pembayaran global.

Ekspansi berikutnya mencakup Eropa, Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah. Targetnya ambisius: lebih dari 100 negara sebelum 2026 berakhir. Bridge juga bekerja sama dengan Lead Bank—yang sebelumnya diumumkan sebagai peserta dalam program uji coba penyelesaian stablecoin Visa—untuk memperluas infrastruktur penerbitan kartu berbasis stablecoin bagi bisnis dan perusahaan fintech.

Kepala kripto Visa, Cuy Sheffield, mengatakan,
“Memperluas kerja sama kami dengan Bridge memberi kami satu cara lagi untuk menghadirkan kecepatan, transparansi, dan kemampuan pemrograman stablecoin langsung ke dalam proses penyelesaian transaksi. Tonggak ini memberi mitra kami lebih banyak pilihan dalam memindahkan nilai, sekaligus memperkuat peran Visa sebagai jaringan tepercaya yang menghubungkan stablecoin dan ekosistem pembayaran global,” ujarnya kepada Coindesk.com.

Pernyataan itu menegaskan arah baru Visa, yakni bukan melawan kripto, melainkan merangkulnya.

Stablecoin: Dari Alternatif ke Infrastruktur

Dalam beberapa tahun terakhir, stablecoin menjadi tulang punggung transaksi kripto global. Nilai kapitalisasi pasar stablecoin global telah melampaui US$150 miliar, dengan volume transaksi tahunan mencapai triliunan dolar AS, menurut berbagai laporan industri blockchain.

Stablecoin menawarkan tiga hal yang sulit disaingi sistem tradisional:
1. Penyelesaian transaksi hampir instan.
2. Biaya lebih rendah untuk remitansi dan pembayaran lintas negara.
3. Transparansi berbasis blockchain.

Tak heran raksasa pembayaran global berlomba masuk. Stripe mempercepat langkahnya setelah mengakuisisi Bridge senilai US$1,1 miliar. PayPal telah meluncurkan stablecoin sendiri. Visa bahkan mengembangkan platform untuk membantu bank menerbitkan token berbasis fiat di jaringan Ethereum.

Pendiri Bridge, Zach Abrams, menyatakan ekspansi ini memungkinkan perusahaan yang menerbitkan stablecoin khusus (custom stablecoins) dapat mengintegrasikannya langsung dalam program kartu mereka tanpa hambatan teknis.

Artinya, perusahaan bisa menerbitkan stablecoin sendiri dan langsung dipakai berbelanja lewat jaringan Visa.

Persaingan dan Regulasi Mengintai

Namun ekspansi agresif ini datang di tengah sorotan regulator global. Otoritas keuangan internasional telah memperingatkan potensi penggunaan stablecoin untuk penghindaran sanksi dan pencucian uang. CEO JPMorgan Jamie Dimon bahkan menyatakan penerbit stablecoin yang membayar bunga seharusnya diatur seperti bank.

Artinya, masa depan stablecoin bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga kepastian regulasi.
Visa tampaknya menyadari hal itu. Dengan masuk lebih awal dan membangun kemitraan bersama bank serta institusi keuangan, perusahaan ini mencoba memposisikan diri sebagai jembatan antara sistem keuangan lama dan dunia blockchain. ●


Digionary:

● Blockchain: Teknologi buku besar digital terdesentralisasi yang mencatat transaksi secara transparan dan permanen.
● Fintech: Perusahaan teknologi yang menyediakan layanan keuangan berbasis digital.
● MetaMask: Dompet kripto populer untuk mengakses aplikasi berbasis blockchain.
● Phantom: Dompet kripto yang banyak digunakan dalam ekosistem blockchain modern.
● Settlement: Proses penyelesaian akhir transaksi keuangan antar pihak.
● Stablecoin: Aset kripto yang nilainya dipatok pada aset stabil seperti dolar AS.
● Tokenisasi: Proses mengubah aset menjadi token digital di blockchain.

#Visa #Stripe #Bridge #Stablecoin #PembayaranDigital #Blockchain #FintechGlobal #Kripto #CryptoPayment #EkonomiDigital #InovasiKeuangan #DigitalAsset #Tokenisasi #MetaMask #PhantomWallet #Remittance #CrossBorderPayment #RegulasiKripto #Web3 #TransformasiDigital

Comments are closed.