Pasar kripto Indonesia memasuki fase baru. Investor ritel muda—khususnya Gen Z—kini menjadi kekuatan utama, dengan orientasi investasi jangka panjang dan preferensi pada aset berkapitalisasi besar. Temuan ini menepis stigma kripto sebagai arena spekulasi semata dan menandai pergeseran menuju perilaku investasi yang lebih rasional dan terstruktur.
Fokus Utama:
■ Gen Z dan milenial muda menjadi tulang punggung adopsi kripto Indonesia.
■ Orientasi investasi jangka panjang mengalahkan spekulasi jangka pendek.
■ Preferensi pada aset besar menandai kematangan perilaku investor ritel.
Pasar kripto Indonesia tak lagi didorong oleh euforia sesaat. Data terbaru menunjukkan wajah baru industri ini: generasi muda, terutama Gen Z, tampil sebagai pemain dominan dengan pendekatan yang semakin matang. Alih-alih berjudi pada aset berisiko tinggi, mayoritas investor muda justru menempatkan kripto sebagai instrumen investasi jangka panjang—sejajar dengan saham dan emas.
Dominasi generasi muda dalam pasar kripto Indonesia kini tak terbantahkan. Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, riset kolaboratif Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), mengungkapkan bahwa 81,6% investor kripto Indonesia berasal dari rentang usia 18–34 tahun. Dari total 1.851 responden lintas wilayah dan kelompok usia, Gen Z berusia 18–24 tahun mencakup 51,8%, disusul kelompok 25–34 tahun sebesar 29,8%.
Tingkat adopsinya pun bukan sekadar wacana. Sebanyak 93% responden menyatakan sudah familiar dengan aset kripto, dan sebagian besar dari mereka benar-benar menggunakannya secara aktif. Fakta ini menegaskan bahwa kripto di Indonesia berkembang sebagai praktik finansial nyata, bukan sekadar tren musiman. Paparan kripto yang masif melalui media sosial, komunitas digital, serta jejaring pertemanan membentuk proses social learning yang kuat, membuat legitimasi kripto tumbuh secara organik di kalangan muda.
Menariknya, orientasi investor kripto Indonesia cenderung konservatif. Sebanyak 58,2% responden menggunakan kripto untuk investasi jangka panjang, sementara trading jangka pendek hanya dipilih oleh 20,2%. Dengan jumlah investor kripto nasional yang telah menembus sekitar 19 juta orang, pola ini menantang narasi lama yang kerap menyebut pasar kripto Indonesia sebagai arena spekulasi ekstrem. Kripto kini lebih diperlakukan sebagai bagian dari portofolio, bukan sekadar alat mengejar keuntungan cepat.
Pilihan aset pun mencerminkan sikap tersebut. Investor kripto Indonesia menunjukkan preferensi kuat terhadap aset berkapitalisasi besar, dengan Bitcoin berada di posisi teratas, diikuti USDT, Solana, Ethereum, BNB, dan XRP. Aset-aset ini dinilai menawarkan likuiditas tinggi, ekosistem matang, serta ketahanan pasar yang lebih baik. Sebaliknya, memecoin dan altcoin kecil hanya mengambil porsi minor—menandakan bahwa aset spekulatif bukan inti strategi mayoritas investor.
Dari sisi geografis, Jawa–Bali masih menjadi episentrum adopsi kripto dengan kontribusi 77,6% responden, ditopang infrastruktur digital, kepadatan penduduk, dan literasi finansial yang relatif lebih baik. Namun, Sumatra mulai menunjukkan peran signifikan sebagai wilayah dengan pertumbuhan adopsi yang kian menguat, terutama di kota-kota besar dan pusat ekonomi regional.
Secara keseluruhan, laporan ini menggambarkan pasar kripto Indonesia yang semakin dewasa. Dominasi Gen Z bukan sekadar fenomena demografis, melainkan indikator pergeseran struktural: investor ritel muda tampil lebih sadar risiko, lebih rasional, dan lebih terencana dalam mengelola aset digital.
Digionary:
● Airdrop: Distribusi token gratis kepada pengguna sebagai strategi promosi proyek kripto
● Altcoin: Aset kripto selain Bitcoin
● Blockchain: Teknologi pencatatan data terdesentralisasi dan transparan
● Gen Z: Generasi yang lahir sekitar 1997–2012 dan tumbuh di era digital
● Kapitalisasi Pasar: Nilai total suatu aset berdasarkan harga dan jumlah beredar
● Likuiditas: Kemudahan aset diperjualbelikan tanpa memengaruhi harga
● Memecoin: Aset kripto berbasis tren atau humor internet
● Staking: Mengunci aset kripto untuk mendukung jaringan dan memperoleh imbal hasil
● Web3: Generasi internet berbasis blockchain dan desentralisasi
#KriptoIndonesia #InvestorGenZ #AsetDigital #BlockchainIndonesia #BitcoinIndonesia #Web3 #InvestasiKripto #CryptoAdoption #FintechIndonesia #GenZMelekFinansial #EkonomiDigital #Altcoin #Stablecoin #PasarKripto #LiterasiKeuangan #RitelInvestor #IndustriBlockchain #CryptoMarket #DigitalAsset #KeuanganMasaDepan
