DBS Indonesia Catat Portofolio ESG Rp15,6 Triliun, Lampaui Tren Industri

- 8 Juni 2026 - 19:10

PT Bank DBS Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu pelaku utama keuangan berkelanjutan di Indonesia setelah mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun pada 2025 atau setara 19,1% dari total pinjaman. Di tengah pertumbuhan laba bersih 15,8% menjadi Rp1,72 triliun, bank ini menunjukkan bahwa strategi ESG (Environmental, Social, Governance) tidak hanya menghasilkan dampak sosial dan lingkungan, tetapi juga mendukung profitabilitas, ketahanan bisnis, dan pertumbuhan jangka panjang. Kinerja tersebut diperkuat oleh pembiayaan inklusif, program pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan produk keuangan berkelanjutan yang selaras dengan agenda transisi ekonomi hijau Indonesia.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Bank DBS Indonesia mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun pada 2025 atau setara 19,1% dari total kredit, meningkat 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
■ Laba bersih tumbuh 15,8% menjadi Rp1,72 triliun, sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,22%, menunjukkan fondasi keuangan yang kuat untuk mendukung ekspansi bisnis berkelanjutan.
■ Melalui pembiayaan inklusif, DBS Indonesia telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan menjangkau lebih dari 141.000 individu melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.


Komitmen terhadap keberlanjutan semakin menjadi strategi bisnis utama industri perbankan. PT Bank DBS Indonesia membuktikan hal tersebut dengan mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun sepanjang 2025, meningkat 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus mendorong pertumbuhan laba bersih dan memperluas dampak sosial kepada masyarakat.

PT Bank DBS Indonesia mencatat peningkatan signifikan dalam pembiayaan berkelanjutan sepanjang 2025. Berdasarkan Laporan Tahunan dan Keberlanjutan 2025, portofolio pembiayaan untuk Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) mencapai Rp15,6 triliun setelah dikurangi pembayaran kembali hingga akhir tahun. Nilai tersebut meningkat dari Rp14,1 triliun pada 2024 dan setara dengan 19,1% dari total portofolio kredit bank.

Pencapaian ini menempatkan Bank DBS Indonesia sebagai salah satu institusi keuangan yang konsisten mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam strategi bisnis inti.

Dalam beberapa tahun terakhir, pembiayaan berkelanjutan menjadi salah satu fokus utama industri perbankan global. Bank tidak lagi hanya berperan sebagai penyalur kredit, tetapi juga menjadi katalisator transisi menuju ekonomi rendah karbon, inklusif, dan berkelanjutan.

Laba Bersih Tumbuh 15,8%

Dari sisi kinerja keuangan, Bank DBS Indonesia membukukan laba bersih sebesar Rp1,72 triliun pada 2025, meningkat 15,8% dibandingkan Rp1,49 triliun pada tahun sebelumnya. Pendapatan bunga bersih naik menjadi Rp6,13 triliun dari Rp5,98 triliun pada 2024 atau tumbuh sekitar 2,5%.

Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah kondisi industri perbankan yang masih menghadapi tekanan margin akibat tingginya biaya dana dan persaingan penghimpunan dana pihak ketiga.

Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 22,22%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Modal yang kuat menjadi fondasi penting bagi bank untuk memperluas pembiayaan, termasuk pembiayaan sektor hijau dan proyek-proyek yang mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

ESG Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong mengatakan keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari pengambilan keputusan bisnis perusahaan.

Dalam menjalankan bisnis, Bank DBS Indonesia tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada dampak positif untuk masa depan. Kami menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG) yang terintegrasi dalam setiap keputusan bisnis.

“Kinerja ini menegaskan posisi Bank DBS Indonesia dalam sustainability financing dengan menyalurkan pendanaan ke sektor usaha yang berkontribusi pada ekonomi hijau dan inklusif di Indonesia. Hal ini merupakan tonggak penting dalam penguatan pembiayaan Kategori Keuangan Usaha Berkelanjutan (KKUB) dan manifestasi komitmen kami terhadap kesejahteraan nasabah dan masyarakat luas,” ujarnya.

Strategi tersebut sejalan dengan implementasi POJK No. 51/POJK.03/2017 mengenai penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan di Indonesia.

Bank DBS Indonesia menjalankan strategi keberlanjutan melalui tiga pilar utama, yakni Perbankan Bertanggung Jawab, Praktik Bisnis Bertanggung Jawab, dan Dampak Melampaui Perbankan.

Pendekatan ini tercermin dalam pengembangan berbagai produk seperti Spark Savings (sebelumnya Green Savings), reksa dana tematik ESG, hingga obligasi hijau.

Pembiayaan Inklusif dan Dampak Sosial

Selain pembiayaan hijau, Bank DBS Indonesia juga memperluas akses keuangan bagi kelompok rentan dan masyarakat berpenghasilan rendah. Secara kumulatif, bank telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui berbagai mitra pembiayaan terpercaya.

Di sektor UMKM, DBS Indonesia menyalurkan fasilitas modal kerja beredar sebesar Rp70 miliar guna memperkuat ketahanan dan produktivitas pelaku usaha kecil.

Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) bank mencapai 6,97%, melampaui target internal yang telah ditetapkan.

Pada saat yang sama, berbagai program sosial perusahaan menjangkau lebih dari 141.000 individu rentan di Indonesia.

Sejak 2024, DBS Foundation telah mengalokasikan lebih dari SGD18,2 juta untuk mendukung organisasi sosial dan bisnis berdampak yang berfokus pada kebutuhan dasar, pemberdayaan ekonomi, dan inklusi keuangan.

Lima penerima hibah utama DBS Foundation di Indonesia meliputi DoctorTool, Nazava Water Filters, Parongpong RAW Lab, Sosial Business Indonesia, dan KONEKIN.

Ketahanan Pangan hingga Literasi Digital

Fokus keberlanjutan Bank DBS Indonesia tidak hanya terbatas pada sektor keuangan. Melalui program FEAST! di Flores, Nusa Tenggara Timur, perusahaan memberdayakan masyarakat desa melalui pelatihan pertanian cerdas iklim, literasi keuangan, gizi keluarga, dan diversifikasi pangan.

Sementara itu, program Food Rescue Warrior bersama FoodCycle Indonesia telah mendistribusikan lebih dari 744.500 porsi makanan kepada lebih dari 62.400 penerima manfaat dan menyelamatkan lebih dari 425.600 kilogram limbah makanan dari rantai pasok.

Di bidang pendidikan dan transformasi digital, sebanyak 146 relawan karyawan memberikan pelatihan soft skill dan literasi teknologi kepada lebih dari 2.700 siswa SMK dan mahasiswa melalui DBS Foundation Coding Camp bersama Dicoding.

Secara keseluruhan, kontribusi relawan karyawan meningkat 12% secara tahunan menjadi lebih dari 54.800 jam pengabdian sosial.

ESG Semakin Menentukan Daya Saing Perbankan

Transformasi industri perbankan global menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan.

ESG kini menjadi faktor penting dalam penilaian investor, regulator, dan nasabah. Bank yang mampu mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam model bisnis cenderung memiliki akses pendanaan yang lebih baik, risiko jangka panjang yang lebih rendah, dan loyalitas nasabah yang lebih tinggi.

Di Indonesia, tren pembiayaan hijau diperkirakan terus meningkat seiring target pemerintah mencapai Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Kebutuhan pembiayaan untuk transisi energi, pembangunan infrastruktur hijau, pengelolaan limbah, serta penguatan UMKM berkelanjutan diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah dalam beberapa dekade mendatang.

Raih Pengakuan Global

Konsistensi strategi keberlanjutan DBS Indonesia mendapat pengakuan internasional. Bank ini meraih penghargaan World’s Best Bank for Corporate Responsibility 2025 dari Euromoney untuk kedua kalinya, Best Bank for Sustainable Finance dari Global Finance, serta mempertahankan gelar Best Sustainable Bank dari FinanceAsia Awards 2026.

Selain itu, DBS Indonesia juga meraih penghargaan Project Finance House of the Year dan Project Finance Advisory House of the Year dari Triple A Sustainable Infrastructure Awards 2026.

Menutup pernyataannya, Lim Chu Chong menegaskan bahwa keberlanjutan akan tetap menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Dengan dukungan para pemangku kepentingan dan seluruh pendekatan holistik yang kami lakukan dalam memberikan dampak berkelanjutan, kami optimis Bank DBS Indonesia dapat menjadi mitra tepercaya bagi nasabah, karyawan, dan masyarakat luas, sekaligus terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. ●


DIGI-INSIGHTS:

Pertumbuhan portofolio pembiayaan berkelanjutan DBS Indonesia menunjukkan bahwa ESG telah bergeser dari fungsi kepatuhan menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Di tengah meningkatnya tuntutan regulator, investor global, dan nasabah korporasi terhadap praktik keberlanjutan, bank yang mampu membangun kompetensi pembiayaan hijau akan memiliki keunggulan kompetitif dalam merebut proyek-proyek transisi energi, infrastruktur rendah karbon, dan ekonomi sirkular. Dalam konteks ini, keberlanjutan bukan lagi biaya tambahan, melainkan sumber pendapatan baru.

Lebih jauh, keberhasilan DBS Indonesia menggabungkan profitabilitas dengan dampak sosial mengindikasikan perubahan paradigma industri perbankan Asia. Bank tidak lagi dinilai hanya berdasarkan pertumbuhan kredit dan laba, tetapi juga kontribusinya terhadap ketahanan sosial, inklusi keuangan, dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Tren ini akan semakin menguat seiring meningkatnya penggunaan data analytics, AI, dan teknologi digital untuk mengukur dampak sosial dan lingkungan secara lebih akurat.

Bagi industri perbankan Indonesia, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan volume pembiayaan hijau, tetapi memastikan kualitas dan dampaknya. Persaingan ke depan akan bergeser dari siapa yang memiliki portofolio ESG terbesar menjadi siapa yang mampu membuktikan hasil nyata terhadap pengurangan emisi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penciptaan ekonomi yang lebih inklusif. Dalam era AI dan transparansi data, klaim keberlanjutan akan semakin mudah diverifikasi, sehingga tata kelola, integritas data, dan kemampuan mengukur dampak akan menjadi faktor pembeda utama di sektor perbankan. (NCK)


DIGIONARY:

● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko dan menjaga stabilitas keuangan.
● Climate-Smart Agriculture: Praktik pertanian yang meningkatkan produktivitas sekaligus adaptif terhadap perubahan iklim.
● ESG: Environmental, Social, and Governance sebagai standar keberlanjutan perusahaan.
● Green Bond: Obligasi yang digunakan untuk membiayai proyek ramah lingkungan.
● Green Finance: Pembiayaan yang mendukung aktivitas ekonomi berkelanjutan.
● Impact Investing: Investasi yang mengejar keuntungan finansial sekaligus dampak sosial atau lingkungan.
● Inklusi Keuangan: Upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
● KKUB: Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan yang diatur regulator keuangan.
● Keuangan Berkelanjutan: Sistem keuangan yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
● Net Zero Emissions: Kondisi ketika emisi karbon yang dihasilkan setara dengan emisi yang diserap atau dikurangi.
● POJK: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang menjadi dasar regulasi sektor jasa keuangan.
● Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM): Indikator kontribusi bank terhadap pembiayaan sektor inklusif.
● Reksa Dana ESG: Produk investasi yang mengutamakan perusahaan dengan praktik keberlanjutan.
● Sustainability Financing: Pembiayaan yang mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

#BankDBSIndonesia #DBSIndonesia #SustainabilityFinance #ESG #GreenFinance #PembiayaanBerkelanjutan #KeuanganBerkelanjutan #EkonomiHijau #InklusiKeuangan #UMKM #DigitalBanking #SustainableBanking #GreenEconomy #ImpactInvesting #NetZeroEmission #DBSFoundation #SustainableDevelopment #BankingIndustry #FinancialInclusion #IndonesiaEconomy

Comments are closed.