Visa Ungkap Lonjakan Scam AI di Industri Pembayaran Digital, Kini Menyasar Manusia

- 27 Mei 2026 - 14:43

Industri pembayaran digital global menghadapi ancaman baru ketika pelaku kejahatan siber mulai beralih dari membobol sistem teknologi menjadi memanipulasi manusia menggunakan artificial intelligence (AI). Visa mengungkap hampir US$1 miliar aktivitas scam terdeteksi sepanjang semester II-2025. Di tengah lonjakan fraud berbasis AI, Google Pay justru mempercepat inovasi one-click checkout untuk mendorong pengalaman transaksi digital yang lebih cepat dan mulus. Pergeseran ini menunjukkan bahwa masa depan industri pembayaran tidak lagi hanya ditentukan oleh kecepatan inovasi digital, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan dan keamanan konsumen.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Visa mendeteksi hampir US$1 miliar aktivitas scam sepanjang semester II-2025. Pelaku fraud kini lebih banyak memanfaatkan AI, deepfake, impersonasi suara, dan manipulasi psikologis untuk menipu konsumen digital.
■ Google Pay mempercepat fitur Express Checkout di Android untuk mendukung transaksi one-click berbasis Google Wallet. Strategi ini memperlihatkan persaingan industri pembayaran kini fokus pada pengalaman transaksi instan.
■ Industri pembayaran global memasuki era baru ketika AI, cybersecurity, fraud detection, dan customer experience menjadi faktor utama persaingan bank, fintech, dan perusahaan teknologi pembayaran.


Keamanan sistem pembayaran digital global terus meningkat, tetapi ancaman siber justru berkembang lebih cepat. Visa mengungkap pelaku scam kini semakin banyak menargetkan manusia melalui manipulasi psikologis dan teknologi berbasis artificial intelligence (AI), di tengah percepatan adopsi mobile wallet dan transaksi digital global.

Perubahan besar sedang terjadi dalam industri pembayaran digital global. Jika sebelumnya pelaku kejahatan siber fokus membobol kelemahan sistem teknologi, kini mereka mulai mengalihkan strategi dengan memanfaatkan kelemahan perilaku manusia.

Laporan terbaru Visa bertajuk “Spring 2026 Biannual Threats Report” yang dipublikasikan pekan ini menunjukkan scam menjadi ancaman dengan pertumbuhan tercepat di industri pembayaran global. Sepanjang Juli hingga Desember 2025, Visa mendeteksi hampir US$1 miliar aktivitas penipuan terkait scam di jaringan pembayarannya.

Chief Risk and Client Services Officer Visa, Paul Fabara, mengatakan keamanan pembayaran digital di level jaringan sebenarnya terus mengalami peningkatan. Namun pola ancaman berubah jauh lebih cepat dibanding perkembangan sistem keamanan.

“Jaringan pembayaran terus menjadi lebih aman, tetapi ancaman berkembang lebih cepat dibanding sebelumnya,” ujarnya seperti diberitakan PYMNTS.com.

Menurut dia, pelaku kejahatan kini lebih sering menargetkan manusia dibanding teknologi. Mereka memanfaatkan manipulasi psikologis, rasa panik, hingga teknologi berbasis AI untuk membangun kepercayaan korban. “Pelaku kejahatan kini semakin banyak menargetkan manusia dibanding teknologi, dengan memanfaatkan penipuan, rasa urgensi, dan alat berbasis AI untuk mengeksploitasi kepercayaan,” katanya.

AI Jadi Senjata Baru Fraud Digital

Visa mengungkap teknologi AI kini menjadi alat utama dalam berbagai modus scam modern. Pelaku fraud menggunakan AI untuk membuat suara palsu, video deepfake, hingga pesan digital yang tampak meyakinkan.

Laporan tersebut menyebut AI membuat skala penipuan meningkat drastis karena scam dapat dipersonalisasi secara otomatis dan dilakukan secara masif.

“Transformasi digital meningkatkan efisiensi pembayaran, tetapi juga memperluas risiko keamanan siber,” tulis laporan Visa.

Kondisi ini memaksa industri perbankan, fintech, dan perusahaan pembayaran global mengubah strategi mitigasi risiko. Pendekatan keamanan tradisional dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi scam berbasis manipulasi perilaku manusia.

Senior Vice President Payment Ecosystem Risk and Control Visa, Michael Jabbara, mengatakan kecepatan adopsi AI oleh pelaku kejahatan membuat industri harus bergerak lebih cepat.
“Melalui laporan ini, tujuan kami adalah membantu para pemimpin industri bertindak lebih cepat sebelum fraud mencapai konsumen,” ujarnya.

Visa kini mengembangkan sistem pengawasan transaksi berbasis AI secara real-time, membentuk tim khusus pembongkar jaringan scam, dan memperkuat kolaborasi dengan bank, merchant, perusahaan teknologi, serta aparat penegak hukum.

Era Baru: Deception Defense

Visa menilai industri pembayaran global kini memasuki era baru yang membutuhkan “deception defense” atau sistem pertahanan terhadap manipulasi psikologis.

Tantangan utama scam modern adalah korban sering kali secara sadar mengotorisasi transaksi karena percaya transaksi tersebut sah.

Vice President of Global Professional Services and Networks Visa, Aman Cheema, mengatakan fraud modern menjadi jauh lebih sulit ditangani karena korban merasa sedang melakukan transaksi normal.

Visa menilai institusi keuangan perlu mengombinasikan analisis perilaku transaksi, verifikasi identitas, serta pertukaran data intelijen lintas ekosistem pembayaran untuk mempercepat respons terhadap pola serangan baru. “Bank digital mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan deteksi fraud secara real-time.”

Bagi industri perbankan, kondisi ini memperlihatkan bahwa investasi cybersecurity kini menjadi bagian utama strategi bisnis digital, bukan lagi sekadar fungsi teknologi informasi.

Google Pay Dorong Pembayaran Instan

Di tengah meningkatnya ancaman fraud, perusahaan teknologi global justru terus mempercepat pengalaman pembayaran digital.
Google mengumumkan fitur terbaru Express Checkout untuk Google Pay di aplikasi Android. Teknologi ini memungkinkan transaksi dilakukan lebih cepat menggunakan data pembayaran dan alamat yang tersimpan di Google Wallet.

Google juga menghadirkan fitur dynamic callbacks yang memungkinkan biaya pengiriman, pajak, dan total pembayaran diperbarui secara real-time tanpa menutup halaman pembayaran.

Developer Relations Engineer for Payments Google, Dominik Mengelt, mengatakan fitur tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman checkout instan yang lebih mulus.

“Dynamic callbacks memungkinkan pengalaman Express Checkout yang sesungguhnya,” ujarnya.
Google menilai pengalaman pembayaran cepat kini menjadi faktor penting dalam meningkatkan conversion rate bisnis digital.

Mobile Wallet Makin Dominan

Laporan PYMNTS Intelligence menunjukkan mobile wallet semakin menjadi arus utama transaksi digital global.

Sebanyak 31% konsumen tercatat menggunakan mobile wallet untuk transaksi offline dalam satu minggu terakhir. Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.

Penggunaan Google Pay juga meningkat signifikan secara tahunan. Selain itu, sekitar 84% konsumen kini memprioritaskan fitur one-click checkout, sementara 80% pengguna memilih menyimpan kredensial pembayaran untuk mempercepat transaksi digital. Customer experience menjadi faktor utama persaingan industri pembayaran digital.

Peningkatan penggunaan mobile wallet menunjukkan konsumen semakin mengutamakan kecepatan, kemudahan, dan pengalaman transaksi yang seamless.

Pemerintah AS Percepat Digitalisasi Pembayaran

Transformasi pembayaran digital juga mulai dipercepat regulator. Internal Revenue Service (IRS) tengah membangun sistem pelacakan pembayaran elektronik setelah ditemukan sekitar US$3,2 miliar pembayaran pajak tidak teridentifikasi sepanjang 2022-2024.

Masalah tersebut sebagian besar dipicu kesalahan data pembayaran, termasuk nomor rekening dan identitas wajib pajak.

Pemerintah Amerika Serikat juga mulai mengurangi penggunaan cek kertas dalam transaksi federal untuk mempercepat modernisasi sistem pembayaran nasional.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pembayaran kini menjadi agenda strategis tidak hanya bagi industri keuangan, tetapi juga regulator dan pemerintah global.

Persaingan Pembayaran Digital Berubah

Perubahan lanskap pembayaran global menunjukkan persaingan industri kini tidak lagi hanya soal inovasi fitur pembayaran.

Ke depan, faktor pembeda utama akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan membangun kombinasi antara AI, keamanan siber, analitik data, perlindungan konsumen, dan pengalaman transaksi tanpa hambatan. Transformasi digital menjadi faktor utama persaingan industri pembayaran dan perbankan global. ●


DIGI-INSIGHT:

Lonjakan scam berbasis AI menunjukkan bahwa industri pembayaran digital global memasuki fase baru ketika kepercayaan menjadi aset paling mahal. Dalam era mobile banking, embedded finance, dan transaksi instan, keamanan tidak lagi cukup hanya dibangun di sisi infrastruktur teknologi. Bank dan fintech kini harus mampu membaca pola manipulasi perilaku manusia secara real-time menggunakan AI dan behavioral analytics.

Percepatan fitur one-click checkout oleh Google Pay memperlihatkan arah industri pembayaran global yang semakin mengutamakan frictionless experience. Namun semakin cepat proses transaksi, semakin kecil pula ruang pengguna untuk melakukan verifikasi. Kondisi ini menciptakan paradoks baru: pengalaman transaksi yang semakin seamless justru dapat memperbesar potensi fraud jika sistem risk management tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Bagi industri perbankan Indonesia, tren ini memiliki implikasi strategis besar. Persaingan bank digital ke depan bukan lagi sekadar soal jumlah pengguna aplikasi atau fitur mobile banking, melainkan kemampuan membangun trust ecosystem berbasis AI, cybersecurity, fraud intelligence, dan customer experience. Bank yang mampu mengintegrasikan keamanan dan kenyamanan secara simultan akan memiliki keunggulan kompetitif lebih kuat di era pembayaran digital berbasis AI. ●


DIGIONARY:

● AI Fraud Detection: Teknologi AI untuk mendeteksi pola transaksi mencurigakan secara otomatis.
● Artificial Intelligence: Teknologi kecerdasan buatan yang mampu memproses dan menganalisis data otomatis.
● Conversion Rate: Tingkat keberhasilan pengguna menyelesaikan transaksi digital.
● Cybersecurity: Sistem perlindungan terhadap ancaman dan serangan digital.
● Deepfake: Manipulasi suara atau video menggunakan AI agar tampak asli.
● Deception Defense: Sistem pertahanan terhadap manipulasi psikologis dalam fraud digital.
● Digital Payment: Sistem pembayaran elektronik tanpa uang tunai fisik.
● Dynamic Callbacks: Teknologi pembaruan data pembayaran secara real-time saat checkout.
● Express Checkout: Metode pembayaran cepat menggunakan data tersimpan.
● Fraud: Tindakan penipuan dalam transaksi keuangan atau digital.
● Google Pay: Platform pembayaran digital milik Google.
● Google Wallet: Dompet digital untuk menyimpan instrumen pembayaran elektronik.
● Mobile Wallet: Dompet digital berbasis perangkat seluler.
● Real-Time Monitoring: Pemantauan transaksi secara langsung tanpa jeda waktu.
● Scam: Penipuan berbasis manipulasi untuk memperoleh uang atau data korban.

#Visa #GooglePay #ArtificialIntelligence #Cybersecurity #DigitalPayment #FraudDetection #Fintech #MobileWallet #Scam #Deepfake #DigitalBanking #PaymentSecurity #OneClickCheckout #FinancialTechnology #CyberFraud #AI #CloudComputing #CustomerExperience #EmbeddedFinance #CashlessSociety

Comments are closed.