Adopsi Pembayaran Kripto, HSBC dan Deutsche Bank Bakal Hadapi Risiko Besar

- 21 April 2026 - 09:28

Peralihan perusahaan ke pembayaran berbasis kripto mulai dipandang sebagai ancaman baru bagi model bisnis bank tradisional. RBC Capital Markets menilai bank-bank Eropa dengan bisnis pembayaran korporasi besar, terutama HSBC dan Deutsche Bank, berpotensi kehilangan pendapatan jika perusahaan mulai menggunakan aset digital dan stablecoin untuk transaksi lintas negara.


Fokus:

■ HSBC dan Deutsche Bank disebut paling rentan karena bisnis pembayaran korporasi menyumbang lebih dari 10% pendapatan grup.
■ Survei RBC menunjukkan 72% bank Eropa melihat pembayaran lintas negara sebagai penggunaan utama kripto dalam waktu dekat.
■ Meski masih hati-hati, sejumlah bank besar mulai masuk ke bisnis stablecoin dan layanan aset digital.


Gelombang adopsi kripto di sektor korporasi mulai menimbulkan kekhawatiran baru bagi industri perbankan Eropa. Jika perusahaan semakin banyak menggunakan aset digital untuk transaksi lintas negara, sejumlah bank besar berpotensi kehilangan sebagian sumber pendapatan utamanya.

Laporan terbaru RBC Capital Markets menyebut bank-bank dengan bisnis manajemen kas korporasi terbesar menjadi yang paling rentan terhadap perubahan ini. Dua nama yang paling disorot adalah HSBC dan Deutsche Bank.

Mengutip Reuters, Menurut RBC, kedua bank tersebut memiliki eksposur tinggi terhadap bisnis pembayaran korporasi, yang selama ini menjadi salah satu mesin utama pendapatan mereka. Kontribusi bisnis pembayaran korporasi di HSBC dan Deutsche Bank mencapai 10% atau lebih dari total pendapatan grup.

Jika korporasi mulai beralih menggunakan stablecoin atau aset digital lain untuk pembayaran lintas negara, bank bisa kehilangan pendapatan dari biaya transaksi, layanan treasury, pengelolaan likuiditas, hingga layanan konversi mata uang.
RBC memperkirakan bank dengan eksposur terbesar terhadap pembayaran korporasi berpotensi kehilangan hingga 7% pendapatan. Risiko itu muncul bukan hanya karena penurunan fee based income, tetapi juga akibat kenaikan biaya pendanaan dan berkurangnya dana murah yang selama ini tersimpan dalam rekening operasional nasabah korporasi.

Survei RBC terhadap 18 bank Eropa menunjukkan 72% responden melihat pembayaran lintas negara sebagai penggunaan utama kripto dalam waktu dekat. Segmen pembayaran korporasi dinilai menjadi area yang paling siap menerima adopsi aset digital karena transaksi lintas negara selama ini masih mahal, lambat, dan melibatkan banyak perantara.

Bagi perusahaan multinasional, stablecoin dan teknologi blockchain menawarkan proses pembayaran yang jauh lebih cepat dan murah. Transaksi dapat berlangsung hampir real-time tanpa harus menunggu jam operasional bank atau proses kliring antarnegara.

Fenomena ini juga sejalan dengan tren global. Nilai transaksi stablecoin diperkirakan telah melampaui US$27 triliun sepanjang 2025, lebih besar dibanding gabungan volume transaksi Visa dan Mastercard. Stablecoin semakin banyak digunakan oleh perusahaan untuk kebutuhan remitansi, treasury, hingga pembayaran pemasok lintas negara.

Namun, di balik potensi ancaman itu, mayoritas bank Eropa masih belum melihat aset digital sebagai layanan inti. Sebanyak 83% responden dalam survei RBC menyatakan aset digital belum dianggap sebagai pengganti produk perbankan tradisional.

Selain itu, 67% bank menilai permintaan terhadap stablecoin saat ini masih terbatas. Seluruh responden juga menyebut dampaknya terhadap likuiditas dan manajemen kas korporasi sejauh ini masih minim.

Meski begitu, bank-bank besar mulai sadar bahwa mereka tidak bisa hanya menjadi penonton. Sejumlah lembaga keuangan seperti Barclays, BNP Paribas, dan Deutsche Bank dilaporkan mulai terlibat dalam pengembangan stablecoin bersama konsorsium perbankan.

Langkah itu menunjukkan industri perbankan mulai mengubah pendekatan terhadap kripto. Jika sebelumnya aset digital dipandang sebagai ancaman, kini banyak bank mulai melihatnya sebagai peluang sumber pendapatan baru.

Bank dapat masuk melalui layanan kustodian aset digital, penyelesaian transaksi berbasis blockchain, tokenisasi aset, hingga penerbitan stablecoin sendiri. Model bisnis seperti ini diperkirakan akan semakin penting dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika regulasi di Eropa dan Amerika Serikat semakin jelas.

Di Eropa, regulasi Markets in Crypto-Assets Regulation atau MiCA mulai membuka jalan bagi lembaga keuangan tradisional untuk masuk ke bisnis aset digital dengan kepastian hukum yang lebih baik. Sementara di Amerika Serikat, sejumlah bank besar juga terus mendorong regulasi stablecoin agar mereka dapat bersaing dengan perusahaan teknologi finansial dan platform kripto.

Temuan RBC memperlihatkan bahwa ancaman terbesar bagi bank bukan sekadar munculnya teknologi baru, melainkan perubahan perilaku nasabah korporasi. Ketika perusahaan mulai menemukan cara yang lebih murah dan efisien untuk memindahkan uang lintas negara, bank tradisional akan dipaksa menyesuaikan model bisnis mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.


Digionary:

● Aset digital: Instrumen keuangan berbasis teknologi digital seperti kripto, stablecoin, dan token.
● Blockchain: Teknologi pencatatan digital terdesentralisasi yang digunakan dalam transaksi kripto.
● Fee based income: Pendapatan bank yang berasal dari biaya layanan, bukan dari bunga kredit.
● Likuiditas: Kemampuan perusahaan atau bank memenuhi kebutuhan dana jangka pendek.
● MiCA: Regulasi Uni Eropa yang mengatur pasar aset kripto dan stablecoin.
● Stablecoin: Jenis kripto yang nilainya dipatok ke mata uang atau aset tertentu agar lebih stabil.
● Treasury: Pengelolaan arus kas, pendanaan, dan risiko keuangan perusahaan.
● Treasury management: Sistem pengelolaan kas dan transaksi keuangan perusahaan.
● Valuta asing: Mata uang negara lain yang digunakan dalam perdagangan internasional.
● Wallet digital: Dompet elektronik untuk menyimpan aset kripto atau uang digital.

#HSBC #DeutscheBank #Kripto #Stablecoin #Blockchain #AsetDigital #PembayaranDigital #BankEropa #RBC #Treasury #Likuiditas #MiCA #PembayaranLintasNegara #ValutaAsing #BNPParibas #Barclays #Visa #Mastercard #Perbankan #Crypto

Comments are closed.