Ambisi AI Terancam, Hanya 14 % Perusahaan yang Berhasil Optimalkan Nilai Cloud untuk AI

- 13 April 2026 - 14:28

NTT DATA mengungkap paradoks besar dalam era kecerdasan buatan: hampir semua perusahaan mengandalkan cloud untuk AI, tetapi hanya 14% yang benar-benar mampu memaksimalkan nilainya. Ketimpangan antara ambisi dan kesiapan infrastruktur ini berpotensi menghambat transformasi digital global, terutama ketika sistem lama dan kompleksitas teknologi masih menjadi beban utama.


Fokus:

■ Ketergantungan tinggi pada AI tidak diimbangi kesiapan cloud.
■ Sistem legacy dan kompleksitas teknologi menjadi penghambat utama.
■ Perusahaan “cloud leader” unggul jauh dalam memanfaatkan AI.


Di tengah euforia kecerdasan buatan yang menjanjikan revolusi bisnis, sebuah kenyataan pahit muncul: fondasi utamanya justru belum siap. Laporan terbaru dari NTT DATA mengungkap hanya segelintir perusahaan global yang benar-benar mampu mengubah cloud menjadi mesin nilai bagi AI.

Lompatan besar kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan celah serius. Laporan bertajuk Cloud-led Innovation in the Era of AI yang dirilis NTT DATA menunjukkan bahwa hanya 14% perusahaan global yang mencapai tingkat kematangan cloud tertinggi—angka yang mencerminkan kesenjangan besar antara ambisi dan realitas transformasi digital.

Survei terhadap lebih dari 2.300 eksekutif senior di 33 negara mengungkap paradoks yang kian nyata: sebanyak 99% perusahaan mengakui AI meningkatkan kebutuhan investasi cloud, namun 88% justru menilai investasi saat ini belum cukup dan berpotensi menghambat inisiatif AI, termasuk pengembangan sistem cloud-native dan modernisasi teknologi.

Dengan kata lain, perusahaan ingin berlari dengan AI, tetapi masih terseok-seok di fondasi. “Perkembangan AI melampaui tingkat kematangan cloud di perusahaan. Cloud kini telah berkembang jauh dari sekadar infrastruktur menjadi lapisan eksekusi dalam menjalankan AI. Perusahaan yang gagal mengembangkan fondasi cloud berisiko menghambat pertumbuhan dan nilai investasi AI mereka sendiri. Klien kami yang berhasil adalah mereka yang memandang cloud sebagai pencipta nilai, bukan sekadar inisiatif teknologi,” ujar Charlie Li, President, Global Head of Cloud and Security, NTT DATA, Inc.

Masalah Lama di Dunia Baru: Legacy Jadi Beban

Salah satu temuan paling mencolok adalah dominasi sistem lama (legacy) yang masih menjadi penghambat utama inovasi. Sekitar separuh responden mengakui bahwa aplikasi dan platform data lama menghambat adopsi teknologi baru.

Fenomena ini bukan hal baru. Banyak perusahaan besar, terutama di sektor perbankan dan manufaktur, masih mengandalkan sistem yang dibangun puluhan tahun lalu. Ketika AI membutuhkan kecepatan, fleksibilitas, dan integrasi data real-time, sistem lama justru menjadi “rem tangan” yang sulit dilepas. Tak heran jika modernisasi menjadi agenda utama dalam dua tahun ke depan.

Cloud Leader vs Sisanya: Jurang yang Kian Lebar

Laporan ini juga menyoroti munculnya kelompok elit yang disebut cloud leaders—perusahaan yang telah mencapai tahap “cloud evolved”. Mereka bukan hanya mengadopsi cloud, tetapi berhasil mengintegrasikannya dengan strategi bisnis dan AI secara menyeluruh.

Hasilnya signifikan: perusahaan ini lebih cepat mengadopsi AI, lebih efisien dalam operasional, dan lebih unggul dalam menciptakan nilai bisnis.
Sebagai perbandingan, 47% cloud leaders telah menggunakan AI dalam proyek migrasi cloud terakhir mereka, jauh di atas perusahaan lain yang hanya 35%.

Kompleksitas Cloud: Antara Fleksibilitas dan Risiko

Ekosistem cloud kini semakin kompleks. Perusahaan tidak lagi hanya memilih satu model, tetapi mengombinasikan berbagai pendekatan—mulai dari public, private, hingga hybrid cloud. Bahkan, tren sovereign cloud diprediksi melonjak hingga 50% dalam dua tahun ke depan, seiring meningkatnya kebutuhan kedaulatan data.
Namun fleksibilitas ini datang dengan harga mahal: kompleksitas operasional dan tantangan keamanan.

Meski keamanan menjadi prioritas utama, tingkat kepercayaan masih timpang. Sebanyak 68% pemimpin merasa sangat yakin terhadap keamanan cloud mereka, sementara sisanya masih ragu—menunjukkan adanya gap dalam implementasi dan tata kelola.

Enam Kunci: Dari Teknologi ke Nilai Bisnis

Untuk menjembatani kesenjangan ini, NTT DATA menggarisbawahi enam prinsip utama: menyelaraskan strategi AI dan cloud, memilih arsitektur yang tepat, memodernisasi aplikasi, mengadopsi pendekatan platform, mengubah KPI ke arah bisnis, serta memperkuat fondasi keamanan.

Intinya sederhana namun krusial: cloud bukan lagi sekadar infrastruktur IT, melainkan mesin pencipta nilai di era AI.


Digionary:

● AI (Artificial Intelligence): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia
● Cloud Computing: Layanan komputasi berbasis internet untuk penyimpanan dan pemrosesan data
● Cloud-native: Aplikasi yang dirancang khusus untuk berjalan di lingkungan cloud
● Hybrid Cloud: Kombinasi cloud publik dan privat dalam satu sistem
● Legacy System: Sistem teknologi lama yang masih digunakan namun sulit diintegrasikan
● Private Cloud: Infrastruktur cloud yang digunakan secara eksklusif oleh satu organisasi
● Public Cloud: Layanan cloud yang tersedia untuk umum melalui internet
● Sovereign Cloud: Cloud yang mematuhi regulasi kedaulatan data suatu negara
● KPI (Key Performance Indicator): Indikator utama untuk mengukur kinerja bisnis
● Modernisasi IT: Proses pembaruan sistem teknologi agar lebih relevan dan efisien

#AI #CloudComputing #NTTDATA #DigitalTransformation #ArtificialIntelligence #CloudStrategy #TechInnovation #BigData #CyberSecurity #HybridCloud #FutureOfWork #DigitalEconomy #ITModernization #CloudNative #EnterpriseAI #DataDriven #TechnologyTrends #BusinessTransformation #InnovationStrategy #GlobalTech

Comments are closed.