OCBC Bank memasang target ambisius pembiayaan berkelanjutan senilai S$25 miliar untuk 12.000 UKM hingga 2028—menjadi bank pertama di Asia yang secara khusus membidik segmen ini. Langkah ini menandai pergeseran strategi perbankan regional: dari sekadar pembiayaan konvensional menuju peran aktif dalam mendorong transformasi bisnis UKM agar lebih hijau, efisien, dan tahan krisis.
Fokus:
■ OCBC menjadi bank pertama di Asia yang menetapkan target khusus sustainable finance untuk UKM.
■ Pembiayaan hijau diproyeksikan melonjak dari S$13 miliar (2025) menjadi S$25 miliar (2028).
■ Perubahan mindset pelaku UKM menjadi kunci keberhasilan transformasi ekonomi berkelanjutan.
Di tengah tekanan perubahan iklim dan volatilitas ekonomi global, bank mulai mengubah cara mereka menyalurkan kredit. Bukan lagi sekadar pembiayaan, tetapi mendorong transformasi bisnis. Di garis depan pergeseran ini, OCBC Bank menetapkan target agresif: menyalurkan pembiayaan berkelanjutan senilai S$25 miliar kepada 12.000 usaha kecil dan menengah (UKM) hingga 2028—sebuah langkah yang menandai babak baru dalam lanskap keuangan Asia.
Langkah OCBC Bank bukan sekadar ekspansi bisnis. Ini adalah sinyal kuat bahwa sektor perbankan melihat UKM sebagai pusat transformasi ekonomi berkelanjutan.
Pada 2025, bank ini telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan kepada sekitar 5.000 UKM dengan total komitmen hampir S$13 miliar. Dalam waktu tiga tahun, angka tersebut ditargetkan hampir dua kali lipat—baik dari sisi jumlah pelaku usaha maupun nilai pembiayaan.
Sebagian besar UKM tersebut berasal dari Singapura, diikuti oleh Hong Kong, Indonesia, dan Malaysia. Ke depan, distribusi geografis ini diperkirakan tetap stabil, dengan pertumbuhan merata di seluruh pasar utama.
Sinyal Perubahan: UKM Mulai Melihat ESG sebagai Strategi, Bukan Beban
Kepala global commercial banking OCBC, Elaine Heng, menilai momentum ini bukan kebetulan. “Kami melihat momentum yang sangat kuat, dan ini sangat menggembirakan. Ini benar-benar menunjukkan bahwa UKM mulai melihat keberlanjutan sebagai bagian dari cara mereka beroperasi, tumbuh, dan bersaing secara berbeda,” katanya dalam wawancara dengan The Business Times.
Data internal bank menunjukkan, jumlah UKM yang menerima pembiayaan berkelanjutan meningkat 34% secara tahunan pada 2025, sementara nilai komitmen kredit naik 40%.
Tren ini sejalan dengan laporan berbagai lembaga global seperti World Bank dan OECD yang menyebutkan bahwa integrasi ESG kini menjadi faktor penting dalam daya saing bisnis, terutama di sektor manufaktur, logistik, dan energi.
Strategi “Triple-A”: Dari Edukasi hingga Akses Modal
Untuk mencapai target ambisius tersebut, OCBC mengandalkan pendekatan tiga pilar: awareness, action, dan access.
Salah satu instrumen utamanya adalah program SME Start-ESG yang dikembangkan bersama Enterprise Singapore. Program ini membantu UKM mengukur baseline kinerja ESG mereka—langkah awal sebelum mengakses pembiayaan hijau.
Sejak diluncurkan pada 2025, lebih dari 180 UKM telah mengikuti program ini.
Selain itu, bank juga menawarkan pinjaman berbasis sustainability-linked loan (terkait target ESG), advisory untuk efisiensi energi dan operasional, dan pembiayaan khusus bagi wirausaha perempuan melalui program Women Unlimited.
Tantangan Utama: Mindset Pelaku Usaha
Meski tren menguat, hambatan terbesar justru bukan pada akses modal, melainkan pola pikir. Elaine Heng menegaskan, “Apa risiko terbesar? Sebenarnya ada pada pola pikir UKM yang mengatakan: ‘Ini bisa ditunda’ atau ‘ini tidak penting’. Justru UKM yang tangguh dan visioner adalah yang bisa berkata—kita mulai hari ini,” tuturnya.
Contoh konkret terlihat pada sektor transportasi. UKM yang lebih dulu berinvestasi pada elektrifikasi armada kini lebih tahan terhadap lonjakan harga energi global—yang dalam dua tahun terakhir meningkat tajam akibat ketegangan geopolitik.
Mengapa Ini Penting bagi Indonesia dan ASEAN?
Bagi Indonesia, langkah OCBC ini menjadi relevan. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, lebih dari 64 juta UMKM menyumbang sekitar 60% PDB nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja.
Namun, akses ke pembiayaan hijau masih terbatas. Menurut laporan Asian Development Bank, kesenjangan pembiayaan UKM di Asia Tenggara masih mencapai ratusan miliar dolar AS.
Dengan masuknya bank-bank besar seperti OCBC ke segmen ini, ekosistem pembiayaan berkelanjutan berpotensi berkembang lebih cepat—termasuk di Indonesia.
Digionary:
● Access to Capital: Kemudahan pelaku usaha mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan
● ESG: Environmental, Social, Governance—standar keberlanjutan dalam bisnis
● Green Finance: Pembiayaan yang mendukung proyek ramah lingkungan
● SME/UKM: Usaha kecil dan menengah sebagai tulang punggung ekonomi
● Sustainability-Linked Loan: Pinjaman dengan syarat berbasis pencapaian target keberlanjutan
● Sustainable Finance: Sistem pembiayaan yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial
#OCBC #SustainableFinance #ESG #GreenFinance #UKM #SME #EkonomiHijau #PerbankanAsia #InvestasiBerkelanjutan #KeuanganGlobal #BankDigital #EkonomiASEAN #UMKMIndonesia #PembiayaanHijau #ClimateFinance #FinancialInnovation #Sustainability #EkonomiDigital #BisnisHijau #FutureEconomy
