Di tengah pesatnya transformasi digital di Indonesia, ancaman siber yang semakin kompleks dan lintas negara kini menjadi tantangan nyata bagi stabilitas nasional. Kejahatan digital saat ini tidak lagi sekadar aksi individu, melainkan telah berkembang menjadi operasi sindikat global yang memanfaatkan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) untuk mengeksploitasi data pribadi dan infrastruktur kritis negara. Dampak yang ditimbulkan pun sangat luas, mulai dari kerugian ekonomi yang masif hingga potensi lumpuhnya layanan publik yang dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Menanggapi situasi yang kian mendesak ini, Ardi Sutedja K., seorang praktisi keamanan siber dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sekaligus pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), menekankan perlunya solusi terintegrasi melalui pembentukan fusion center. Dalam perbincangan dengan Deddy H. Pakpahan dari digitalbank.id, dia memaparkan bagaimana fusion center akan berperan sebagai simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk mendeteksi ancaman sejak dini dan menjaga kedaulatan digital Indonesia. Melalui sinergi lintas sektor dan kemitraan internasional, inisiatif ini diharapkan menjadi pilar utama dalam membangun ekosistem keamanan siber yang tangguh dan adaptif di masa depan. Berikut petikan perbincangannya.
Transformasi digital di Indonesia berkembang sangat pesat, namun tantangannya pun tidak main-main. Bagaimana Anda melihat lanskap ancaman saat ini?
Benar sekali, transformasi ini telah mengubah layanan publik hingga transaksi bisnis kita. Namun, kita menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks, canggih, dan lintas negara. Saat ini, kejahatan siber bukan lagi sekadar aksi individu, melainkan dilakukan oleh sindikat lintas negara yang memanfaatkan celah teknologi dan kecanggihan Artificial Intelligence (AI). Target utamanya adalah data pribadi, aset digital, dan infrastruktur kritis kita.

Dampaknya bisa sangat melumpuhkan? Apa risiko konkret yang Anda paling khawatirkan jika kita tidak siap?
Serangan ransomware, pencurian identitas, hingga eksploitasi aset kripto kini semakin sering terjadi. Dampaknya sangat luas: mulai dari kerugian ekonomi, gangguan layanan publik, hingga yang paling berbahaya adalah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itulah, pendekatan tradisional yang terfragmentasi sudah tidak memadai lagi.
Indonesia membutuhkan fusion center, yaitu sebuah pusat kolaborasi dan integrasi intelijen yang menjadi simpul penghubung antara aparat penegak hukum, pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga mitra internasional.
Lalu, apa solusi strategis yang Anda tawarkan? Anda sangat mendorong pembentukan ‘fusion center’. Bisa ceritakan apa itu?
Tepat. Indonesia membutuhkan fusion center, yaitu sebuah pusat kolaborasi dan integrasi intelijen yang menjadi simpul penghubung antara aparat penegak hukum, pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga mitra internasional.
Ini bukan sekadar ruang kerja bersama, melainkan ekosistem yang menggabungkan data, pengetahuan, dan pengalaman dari berbagai sumber. Model ini sudah terbukti efektif di Amerika Serikat dan negara maju lainnya dalam mendeteksi ancaman siber dan terorisme.”
Seberapa mendesak kebutuhan ini bagi Indonesia, terutama terkait kejahatan di sektor keuangan digital dan kripto?
Sangat mendesak. Ancaman seperti kejahatan kripto dan fraud digital membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lintas negara. Melalui inisiatif seperti ICSF Knowledge Sharing Session Series yang melibatkan pakar dari Homeland Security dan National Guard Hawaii, Indonesia menunjukkan komitmen untuk membangun jejaring global tersebut.
Fusion Center akan berperan sebagai early warning system yang mendeteksi ancaman sejak dini dengan mengintegrasikan laporan insiden siber dan transaksi keuangan mencurigakan.
Ada kekhawatiran mengenai privasi jika semua data diintegrasikan. Bagaimana Anda menjawab tantangan kritis soal tata kelola data ini?
Ini poin yang sangat krusial. Pembentukan Fusion Center memang menghadapi tantangan besar pada isu tata kelola data dan privasi. Kita harus menjunjung tinggi perlindungan hak-hak sipil. Fondasi utamanya haruslah regulasi yang jelas, proses kerja transparan, dan akuntabilitas agar tidak terjadi penyalahgunaan data. Kepercayaan publik hanya bisa didapat melalui komitmen pada etika dan keterbukaan.
Selain regulasi, apa lagi ‘bahan bakar’ utama agar Fusion Center ini sukses?
Investasi pada teknologi mutakhir seperti AI dan analitik data, serta SDM yang berkualitas adalah kunci. Pemerintah harus memastikan adanya dukungan anggaran yang memadai. Selain itu, keterlibatan sektor swasta dan akademisi akan memperluas cakupan analisis kita. Melalui kemitraan global, kita bisa memanfaatkan jaringan intelijen dunia untuk mempercepat respons insiden siber.
Apakah sudah ada bukti nyata bahwa kolaborasi internasional ini membuahkan hasil bagi kedaulatan kita?
Sudah terlihat. Kolaborasi ICSF dengan mitra global telah berhasil memperkuat kedaulatan siber kita, terutama dalam mengunci celah kejahatan kripto dan meningkatkan kepercayaan pada sistem digital nasional. Namun ke depan, kita tetap perlu memperkuat regulasi di tingkat nasional dan daerah karena jaringan pelaku seringkali lintas yurisdiksi.
Fusion Center bukan sekadar institusi teknis, tapi pilar strategis penjaga kedaulatan digital dan stabilitas nasional. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari kecanggihan teknis, tapi dari kemampuannya membangun kepercayaan dan menjadi jembatan antar sektor. Sinergi, inovasi, dan komitmen lintas sektor adalah modal utama kita untuk memastikan masa depan digital yang aman dan berdaulat bagi seluruh bangsa. ■
Digionary:
● Akuntabilitas: Kewajiban institusi mempertanggungjawabkan tindakan dan kebijakan secara transparan.
● Analitik Data: Proses pengolahan data untuk menemukan pola dan menghasilkan insight strategis.
● Early Warning System: Sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi ancaman sebelum berdampak luas.
● Fraud: Penipuan yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan ilegal.
● Fusion Center: Pusat integrasi intelijen dan kolaborasi lintas lembaga untuk mendeteksi serta merespons ancaman.
● Kedaulatan Siber: Kemampuan negara menjaga keamanan dan kontrol atas ruang digitalnya.
● Ransomware: Malware yang mengenkripsi data korban dan meminta tebusan.
● Transnasional: Melintasi batas negara.
#KetahananSiber #FusionCenter #KeamananDigital #IndonesiaCyberSecurity #ICSF #CyberSecurityIndonesia #PerlindunganData #UUDataPribadi #Ransomware #FraudDigital #KejahatanKripto #StabilitasNasional #DigitalTransformation #AIAnalytics #CyberResilience #KedaulatanDigital #PenegakanHukumSiber #TeknologiIndonesia #KeamananNasional #CyberThreat
