Tahan Suku Bunga 4,75%, BI Pilih Stabilkan Rupiah di Tengah Gejolak Global

- 20 Februari 2026 - 11:37
RAPAT Koordinasi (Rakor) Tingkat Tinggi Akselerasi Sertifikasi Halal dan Penguatan Ekosistem Global Halal Hub pada Rabu (5/10/2022) menginisiasi sejumlah program strategis dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai pusat produk dan destinasi halal.

Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Februari 2026, menegaskan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga inflasi tetap dalam target 2,5±1% sekaligus membuka ruang penurunan suku bunga di masa mendatang jika kondisi memungkinkan, sembari mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi.


Fokus:

■ Menahan BI Rate di 4,75% untuk menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian pasar global.
■ Menjaga daya beli dan kredibilitas kebijakan moneter dengan proyeksi inflasi yang tetap terkendali hingga 2027.
■ Mengoptimalkan KLM dan sistem pembayaran digital untuk memperkuat transmisi kebijakan dan pertumbuhan ekonomi.


Bank Indonesia kembali menahan BI Rate di 4,75% pada Februari 2026. Fokus utama: stabilisasi rupiah, inflasi 2,5±1%, dan dorongan kredit serta digitalisasi sistem pembayaran di tengah ketidakpastian global.


Di tengah bayang-bayang ketidakpastian pasar keuangan global dan volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia memilih tidak tergesa-gesa. Rapat Dewan Gubernur Februari 2026 memutuskan menahan BI Rate di level 4,75%—sebuah sinyal kuat bahwa stabilitas tetap menjadi jangkar utama kebijakan moneter Indonesia tahun ini.

Keputusan tersebut disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (19/2). Menurutnya, langkah mempertahankan suku bunga sejalan dengan fokus kebijakan saat ini.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.

Ini menjadi kali kedua sepanjang 2026 bank sentral menahan suku bunga acuan. Sikap tersebut mencerminkan pendekatan “wait and see” di tengah dinamika global—termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia dan ketegangan geopolitik yang memicu fluktuasi arus modal.

Inflasi Terkendali, Ruang Pelonggaran Masih Ada

BI memproyeksikan inflasi 2026–2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Dengan proyeksi itu, ruang penurunan suku bunga tetap terbuka, meski tidak dalam waktu dekat.

Perry menegaskan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh, sembari mencermati peluang penurunan BI Rate lebih lanjut.

Secara historis, level 4,75% relatif moderat jika dibandingkan periode pengetatan agresif pascapandemi. Namun, BI kini lebih berhitung terhadap dampak eksternal, terutama pergerakan dolar AS dan aliran dana asing di pasar obligasi domestik.

Kredit Mengalir, Tapi PR Suku Bunga Perbankan

Di sisi lain, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan pro-pertumbuhan. BI mendorong peningkatan kredit ke sektor riil, khususnya sektor prioritas pemerintah, melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Langkah ini diharapkan mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan, yang selama ini dinilai masih lambat mengikuti tren pelonggaran.
Data perbankan terbaru menunjukkan likuiditas industri tetap longgar, namun transmisi ke penurunan bunga kredit belum sepenuhnya optimal. BI menekankan prinsip kehati-hatian tetap dijaga agar kualitas kredit tidak memburuk.

Sistem Pembayaran Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Tak hanya moneter, BI juga menggarap sisi sistem pembayaran. Digitalisasi transaksi terus diperluas untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik.

“Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sinergi dalam perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran,” tegas Perry.

Ekosistem pembayaran digital yang semakin inklusif dinilai menjadi bantalan penting bagi konsumsi rumah tangga—penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyumbang lebih dari 50% terhadap PDB.


Digionary:

● BI Rate: Suku bunga acuan Bank Indonesia yang menjadi referensi bunga perbankan dan instrumen moneter lainnya.
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.
● KLM (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial): Instrumen BI untuk memberikan insentif likuiditas kepada bank agar meningkatkan kredit ke sektor prioritas.
● Makroprudensial: Kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
● Nilai Tukar Rupiah: Harga mata uang rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS.
● Rapat Dewan Gubernur (RDG): Forum pengambilan keputusan tertinggi di Bank Indonesia terkait kebijakan moneter.
● Transmisi Kebijakan Moneter: Proses bagaimana perubahan suku bunga acuan memengaruhi suku bunga kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

#BankIndonesia #BIRate #SukuBunga #KebijakanMoneter #InflasiIndonesia #NilaiTukarRupiah #EkonomiIndonesia #PertumbuhanEkonomi #KreditPerbankan #Makroprudensial #PasarKeuangan #StabilitasRupiah #DigitalPayment #SistemPembayaran #RDGBI #PerryWarjiyo #LikuiditasPerbankan #Investasi #EkonomiGlobal #StrategiMoneter

Comments are closed.