Bank Indonesia melaporkan kredit perbankan tumbuh 9,96% secara tahunan (YoY) pada Januari 2026, menguat dari 9,69% pada Desember 2025. Di tengah ketidakpastian global, likuiditas perbankan tetap longgar dengan rasio AL/DPK 27,54% dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,48%. Namun, ruang ekspansi masih besar karena undisbursed loan—fasilitas kredit yang belum ditarik—menumpuk hingga Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari total plafon kredit.
Fokus:
■ Kredit tumbuh 9,96% (YoY) pada Januari 2026, didorong lonjakan kredit investasi 22,38%.
■ AL/DPK 27,54% dan DPK tumbuh 13,48%, menunjukkan kapasitas pembiayaan tetap kuat.
■ Sebesar 22,65% plafon kredit belum dimanfaatkan—ruang ekspansi masih terbuka lebar.
Kredit perbankan tumbuh 9,96% pada Januari 2026. Bank Indonesia mencatat likuiditas longgar, namun Rp2.506 triliun fasilitas kredit belum dimanfaatkan. Apa dampaknya bagi ekonomi?
Di saat ekonomi global dibayangi perlambatan dan suku bunga tinggi di sejumlah negara maju, mesin kredit perbankan nasional justru menghangat di awal tahun.
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit mencapai 9,96% (YoY) pada Januari 2026, naik tipis dari posisi Desember 2025 sebesar 9,69%. Angka ini menjadi sinyal bahwa transmisi kebijakan moneter yang lebih akomodatif mulai terasa di sektor riil.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penguatan kredit ditopang oleh membaiknya aktivitas ekonomi domestik serta pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial.
“Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia serta realisasi program prioritas pemerintah,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026, Kamis (19/2).
Investasi Melonjak, Modal Kerja dan Konsumsi Tertahan
Struktur pertumbuhan kredit menunjukkan dinamika yang tidak merata. Kredit investasi melesat 22,38% (YoY), mencerminkan ekspansi sektor usaha dan proyek-proyek strategis. Sebaliknya, kredit modal kerja tumbuh 4,13% dan kredit konsumsi 6,58%.
Lonjakan kredit investasi selaras dengan percepatan belanja infrastruktur dan hilirisasi industri yang didorong pemerintah. Sejumlah proyek manufaktur dan pengolahan sumber daya alam mulai masuk tahap konstruksi dan ekspansi kapasitas pada awal tahun.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga—penopang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB)—masih bergerak moderat. BI sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,7%–5,5%, dengan konsumsi domestik sebagai penopang utama.
Rp2.506 Triliun Kredit Belum Ditarik
Di balik pertumbuhan hampir dua digit tersebut, tersimpan pekerjaan rumah besar: undisbursed loan yang mencapai Rp2.506,47 triliun. Angka ini setara 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia.
Artinya, hampir seperempat fasilitas kredit yang sudah disetujui bank belum dimanfaatkan debitur. “Dari sisi permintaan pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan terutama untuk fasilitas pinjaman yang belum digunakan alias undisbursed loan yang masih cukup besar,” kata Perry.
Fenomena ini lazim terjadi saat dunia usaha bersikap hati-hati, menunggu kepastian permintaan dan stabilitas harga. Namun di sisi lain, besarnya kredit yang belum ditarik menunjukkan kapasitas pembiayaan perbankan masih sangat memadai.
Likuiditas Longgar, Dana Masyarakat Tumbuh
Dari sisi penawaran, perbankan berada dalam posisi likuid. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) naik menjadi 27,54%. Sementara DPK tumbuh 13,48% (YoY) pada Januari 2026.
Pertumbuhan simpanan yang lebih tinggi dibanding kredit memberi ruang bagi bank untuk terus menyalurkan pembiayaan tanpa tekanan likuiditas berarti. Kondisi ini juga ditopang keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam RDG Februari 2026, guna menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Meski demikian, standar penyaluran kredit tidak sepenuhnya longgar. BI mencatat persyaratan kredit relatif lebih selektif pada segmen konsumsi dan UMKM, seiring masih adanya risiko kredit di dua sektor tersebut. “Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8% sampai 12%,” pungkas Perry.
Menjaga Momentum di Tengah Risiko Global
Secara historis, pertumbuhan kredit di kisaran 10% mencerminkan ekspansi ekonomi yang sehat tanpa memicu overheating. Namun tantangan eksternal tetap membayangi: volatilitas harga komoditas, kebijakan suku bunga global, hingga tensi geopolitik.
Jika permintaan domestik menguat dan dunia usaha mulai menarik fasilitas kredit yang tersedia, laju pertumbuhan kredit berpotensi menembus dua digit pada paruh kedua 2026.
Untuk saat ini, sinyalnya jelas: likuiditas tersedia, ruang pembiayaan terbuka, dan perbankan siap menyalurkan dana. Tinggal menunggu seberapa cepat sektor riil mengakselerasi langkahnya.
Digionary:
● AL/DPK: Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga, indikator kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana masyarakat yang dihimpun bank dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito.
● Kredit Investasi: Pembiayaan untuk kebutuhan ekspansi usaha atau pembelian aset produktif.
● Kredit Konsumsi: Pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga seperti KPR dan kredit kendaraan.
● Kredit Modal Kerja: Pembiayaan operasional usaha jangka pendek.
● RDG (Rapat Dewan Gubernur): Forum pengambilan keputusan kebijakan moneter di Bank Indonesia.
● Undisbursed Loan: Fasilitas kredit yang telah disetujui tetapi belum ditarik debitur.
● YoY (Year on Year): Perbandingan kinerja dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
#BankIndonesia #KreditPerbankan #LikuiditasBank #UndisbursedLoan #EkonomiIndonesia #RDGBI #PerryWarjiyo #Moneter #PertumbuhanEkonomi #DPK #ALDPK #KreditInvestasi #KreditKonsumsi #KreditModalKerja #SukuBunga #BIrate #StabilitasKeuangan #PerbankanNasional #EkonomiGlobal #BeritaEkonomi
