Selama hampir lima dekade sejak menyalurkan KPR pertama pada 1976, Bank Tabungan Negara (BTN) telah membiayai 5,97 juta unit rumah dengan total kredit Rp555,11 triliun. Mayoritas disalurkan melalui KPR subsidi, menegaskan posisinya sebagai tulang punggung pembiayaan perumahan nasional. Di tengah tantangan suku bunga dan daya beli, BTN tetap mencetak laba Rp3,5 triliun pada 2025, naik 16,4% YoY, ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga.
Fokus:
■ Skala Pembiayaan Besar – 5,97 juta unit rumah dibiayai dengan total Rp555,11 triliun sejak 1976.
■ Dominasi KPR Subsidi – 4,4 juta unit berasal dari skema subsidi, menegaskan peran BTN dalam program perumahan rakyat.
■ Kinerja Keuangan Solid – Laba 2025 naik 16,4% YoY, kredit tumbuh 11,9%, DPK naik 14,6% di tengah tantangan sektor properti.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) melaporkan telah menyalurkan 5,97 juta unit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan total nilai Rp555,11 triliun sejak pertama kali menyalurkan KPR pada 1976 hingga Desember 2025.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan pembiayaan perumahan menjadi fokus utama perseroan sejak penyaluran KPR pertama di Indonesia pada 1976. “Sejak saat itu, pembiayaan perumahan menjadi DNA perseroan,” kata Nixon dalam keterangan resmi, Selasa (17/2).
Dari total penyaluran tersebut, sebanyak 4,4 juta unit merupakan KPR subsidi dengan nilai Rp300,99 triliun. Rinciannya, KPR subsidi konvensional sebanyak 4,06 juta unit senilai Rp258,27 triliun dan KPR subsidi syariah 338.097 unit dengan plafon Rp42,72 triliun.
Sementara itu, KPR non-subsidi mencapai 1,3 juta unit dengan nilai Rp218,57 triliun, terdiri atas KPR non-subsidi konvensional 1,18 juta unit senilai Rp191,46 triliun dan KPR non-subsidi syariah 125.410 unit senilai Rp27,1 triliun.
Selain KPR, BTN juga menyalurkan Kredit Agunan Rumah (KAR) dan Kredit Bangun Rumah (KBR) sebanyak 262.876 unit dengan nilai Rp35,5 triliun.
Pada 2025, BTN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun, meningkat 16,4% dibandingkan laba tahun sebelumnya Rp3,0 triliun. Kenaikan laba didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga 23,0% YoY menjadi Rp36,3 triliun dari Rp29,6 triliun pada 2024.
Beban bunga relatif stabil, naik tipis 0,4% YoY menjadi Rp17,9 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih meningkat 57,5% YoY menjadi Rp18,4 triliun dibandingkan Rp11,7 triliun pada 2024.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian tumbuh 11,9% YoY menjadi Rp400,6 triliun dari Rp358,9 triliun pada 2024. Mayoritas kredit disalurkan ke sektor perumahan dengan nilai Rp328,4 triliun atau naik 7,5% YoY.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BTN tumbuh 14,6% YoY menjadi Rp437,4 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp381,7 triliun pada tahun sebelumnya.
Digionary:
● Backlog Perumahan – Selisih antara kebutuhan rumah dan ketersediaan rumah layak huni.
● Dana Pihak Ketiga (DPK) – Dana masyarakat yang dihimpun bank melalui tabungan, giro, dan deposito.
● FLPP – Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, skema subsidi pemerintah untuk KPR masyarakat berpenghasilan rendah.
● Intermediasi – Fungsi bank menyalurkan dana dari penabung kepada peminjam.
● Kredit Agunan Rumah (KAR) – Pinjaman dengan jaminan properti yang sudah dimiliki.
● Kredit Bangun Rumah (KBR) – Kredit untuk membangun atau merenovasi rumah.
● Kredit Pemilikan Rumah (KPR) – Fasilitas pembiayaan bank untuk membeli rumah.
● Laba Bersih – Keuntungan setelah dikurangi seluruh beban dan pajak.
● Non-Performing Loan (NPL) – Rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
● Year-on-Year (YoY) – Perbandingan kinerja dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
#BTN #BankTabunganNegara #KPR #KPRSubsidi #PropertiIndonesia #PerumahanRakyat #FLPP #BacklogPerumahan #BankBUMN #Himbara #LabaBank #DPK #KreditPerumahan #RumahSubsidi #EkonomiIndonesia #InvestasiProperti #PembiayaanRumah #BTN2026 #SektorProperti #KeuanganIndonesia
