Prabowo Tantang Danantara Cetak ROA 7%, Bos Himbara: Ambisius, Tapi Bisa Dikejar

- 18 Februari 2026 - 17:26

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menantang Danantara untuk membukukan return on asset (ROA) 7%, sebuah target yang jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional. Dengan total aset konsolidasi BUMN mencapai sekitar US$900 miliar atau Rp15.152 triliun, Danantara dituntut menghasilkan sekitar Rp106 triliun. Bank-bank BUMN menyebut target itu ambisius, namun menyatakan siap bersinergi dan menyiapkan strategi untuk mencapainya.


Fokus:

■ Target Ambisius – ROA 7% berarti Danantara harus menghasilkan sekitar Rp106 triliun dari aset Rp15.152 triliun.
■ Standar Industri Lebih Rendah – Rata-rata ROA perbankan nasional hanya 2%–3%, jauh di bawah target yang diminta Presiden.
■ Ujian Tata Kelola – Pencapaian 7% bukan hanya soal laba, tetapi efisiensi, restrukturisasi BUMN, dan manajemen risiko investasi negara.


Presiden Prabowo menargetkan ROA 7% bagi Danantara. Dengan aset Rp15.152 triliun, lembaga ini harus membukukan Rp106 triliun. Seberapa realistis?


Tantangan itu dilontarkan tanpa basa-basi. Di hadapan para pelaku industri, Presiden Prabowo Subianto meminta Danantara mencetak return on asset (ROA) 7%. Angka yang terdengar sederhana, tetapi implikasinya sangat besar: ratusan triliun rupiah dipertaruhkan.

“Saya menuntut return on asset 7%. Lah kenapa senyum? Kepala Danantara bisa?” kata Prabowo dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta.

CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, menyatakan siap. Namun di balik pernyataan singkat itu, industri keuangan langsung menghitung ulang angka-angka.

Aset Raksasa, Target Rp106 Triliun

COO Danantara Dony Oskaria sebelumnya mengungkapkan total aset hasil konsolidasi BUMN mencapai sekitar US$900 miliar atau Rp15.152 triliun. Dengan target ROA 7%, lembaga ini harus membukukan imbal hasil sekitar Rp106 triliun.

Sebagai pembanding, rata-rata ROA industri perbankan Indonesia dalam lima tahun terakhir berada di kisaran 2%–3%. Bahkan bank-bank besar BUMN yang tergabung dalam Himbara—seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Tabungan Negara—umumnya mencatat ROA sekitar 3%, dengan return on equity (ROE) di atas 18%–22%. Artinya, target 7% hampir dua kali lipat standar industri domestik.

Respons Himbara: Optimistis, Tapi Realistis

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan perbedaan mendasar antara model bisnis bank dan perusahaan investasi. “Kalau bank kan approach-nya ke ROE karena di dalam aset bank itu ada dana pihak ketiga. Jadi, tidak bisa diakui sebagai punyanya bank. Kalau ROA kita di 3%, kalau ROE kita di 20%,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam neraca bank terdapat dana pihak ketiga (DPK) yang merupakan kewajiban, sehingga ROE lebih relevan sebagai indikator kinerja. Meski begitu, ia memastikan dukungan terhadap agenda pemerintah.

“Di neraca bank itu ada dana pihak ketiga, tidak bisa diakui sebagai punyanya bank. Jadi kalau bank pendekatannya ke ROE. Tapi kita berusaha untuk naikkin terus ROA-nya,” katanya.

Direktur Utama BRI, Herry Gunardi, menyatakan, “Kami akan cari strategi yang tepat untuk meningkatkan ROA.”

Sementara Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, merespons singkat: “Kerja keras lah pokoknya.”

Taruhan Kredibilitas dan Tata Kelola

Di tingkat global, sovereign wealth fund seperti Government Pension Fund Global Norwegia atau Temasek Singapura mencatat imbal hasil tahunan yang fluktuatif, sangat bergantung pada siklus pasar dan komposisi portofolio. Tidak ada jaminan angka tinggi yang konsisten setiap tahun.

Karena itu, target 7% bukan sekadar soal profit. Ia menyentuh tata kelola, disiplin investasi, manajemen risiko, dan keberanian melakukan restrukturisasi aset BUMN yang selama ini kurang produktif.

Dalam konteks ekonomi global yang masih diliputi volatilitas suku bunga dan tekanan geopolitik, pencapaian 7% akan menjadi tolok ukur apakah Danantara mampu bertransformasi menjadi pengelola aset negara yang agresif namun tetap prudent.


Digionary:

● Asset – Total kekayaan atau sumber daya ekonomi yang dimiliki dan dikelola entitas.
● Dana Pihak Ketiga (DPK) – Dana masyarakat yang dihimpun bank dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● Efisiensi – Upaya menekan biaya untuk meningkatkan keuntungan.
● Himbara – Himpunan Bank Milik Negara.
● Imbal Hasil – Keuntungan yang diperoleh dari investasi.
● Konsolidasi – Penggabungan laporan atau aset beberapa entitas.
● Neraca – Laporan posisi keuangan yang mencatat aset, kewajiban, dan ekuitas.
● Return on Asset (ROA) – Rasio laba terhadap total aset.
● Return on Equity (ROE) – Rasio laba terhadap modal pemegang saham.
● Sovereign Wealth Fund – Lembaga investasi milik negara yang mengelola dana dalam skala besar.

#PrabowoSubianto #Danantara #ROA7Persen #InvestasiBUMN #BankBUMN #Himbara #EkonomiIndonesia #AsetNegara #SovereignWealthFund #ReformasiBUMN #KeuanganNegara #KinerjaKeuangan #ROA #ROE #RosanRoeslani #BankMandiri #BRI #BTN #StrategiInvestasi #IndonesiaEconomicOutlook

SEO Keywords
Prabowo Subianto ROA 7%, Danantara target 7 persen, aset Danantara Rp15.152 triliun, sovereign wealth fund Indonesia, kinerja bank BUMN 2026, ROA perbankan Indonesia terbaru, Himbara dan Danantara, investasi BUMN 2026, strategi peningkatan ROA, Rosan P Roeslani Danantara, Bank Mandiri ROA, BRI ROA terbaru, BTN kinerja keuangan, target imbal hasil aset negara, efisiensi BUMN Prabowo, ekonomi Indonesia 2026, tantangan investasi pemerintah, manajemen aset negara, return on asset Indonesia, reformasi investasi BUMN,

Comments are closed.