Goldman Sachs “All-In” di ETF Kripto, Strategi Raksasa Wall Street Menembus Pasar Aset Digital

- 16 Februari 2026 - 10:40

Raksasa perbankan investasi Wall Street, Goldman Sachs, resmi melaporkan kepemilikan aset kripto senilai US$ 2,36 miliar per akhir Desember 2025. Berdasarkan dokumen Form 13F, eksposur ini setara dengan 0,33% dari total portofolio ekuitas bank tersebut, yang seluruhnya ditempatkan pada instrumen Exchange-Traded Funds (ETF) spot teregulasi, bukan kepemilikan token secara langsung. Meski menunjukkan sinyal kuat adopsi institusional melalui dominasi ETF Bitcoin dan Ethereum, nilai portofolio ini kini dibayangi oleh volatilitas pasar awal 2026 yang sempat menyeret harga Bitcoin jatuh dari level psikologis US$ 90.000 ke kisaran US$ 61.000.


​Fokus:

■ ​Strategi Investasi Tidak Langsung: Goldman Sachs memilih jalur ETF spot untuk menghindari kerumitan kustodi dan regulasi blockchain, dengan alokasi terbesar pada iShares Bitcoin Trust milik BlackRock.
■ ​Diversifikasi Portofolio Kripto: Selain Bitcoin (US$ 1,1 miliar) dan Ethereum (US$ 1,0 miliar), bank ini juga merambah aset alternatif dengan menempatkan dana pada ETF berbasis XRP dan Solana.
■ ​Ujian Volatilitas Pasar: Laporan kuartal IV-2025 ini menghadapi realita pasar awal 2026 di mana koreksi tajam harga aset digital berpotensi menekan nilai valuasi investasi institusional secara signifikan.


​Goldman Sachs, nama yang lama menjadi simbol konservatisme keuangan Wall Street, kini tak lagi bisa menyembunyikan ketertarikannya pada aset kripto. Dalam laporan terbaru Form 13F yang dirilis untuk periode penutupan tahun 2025, bank investasi ini mengungkap kepemilikan fantastis senilai US$ 2,36 miliar pada instrumen terkait kripto. Angka ini setara dengan sekitar 0,33% dari total portofolio ekuitas mereka, sebuah porsi yang meski kecil, mengirimkan sinyal kuat tentang pergeseran paradigma institusional.

​Menariknya, Goldman Sachs memilih cara “bermain aman” dalam merambah industri ini. Alih-alih menyimpan kunci privat dompet digital atau bergulat dengan protokol blockchain yang rumit, mereka memanfaatkan jalur Exchange-Traded Funds (ETF) spot yang teregulasi ketat. Langkah ini memungkinkan mereka terpapar kenaikan harga aset digital tanpa harus memusingkan infrastruktur keamanan siber dan kustodi yang menjadi momok bagi banyak lembaga keuangan tradisional.

​Bitcoin dan Ethereum Masih Menjadi Raja

Dominasi Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) tetap tak tergoyahkan dalam keranjang investasi mereka. ETF berbasis Bitcoin mencatatkan angka US$ 1,1 miliar, dengan posisi terbesar berada di iShares Bitcoin Trust besutan BlackRock. Sementara itu, Ethereum mengekor tipis dengan nilai investasi sekitar US$ 1,0 miliar.

​Namun, diversifikasi tetap menjadi kunci. Goldman tidak meletakkan semua telur dalam dua keranjang saja. Mereka mulai melirik aset alternatif melalui ETF berbasis XRP senilai US$ 153 juta dan dana berbasis Solana (SOL) yang mencapai US$ 108 juta. Pilihan instrumen ETF ini memang memiliki konsekuensi biaya manajemen yang mencapai jutaan dolar per tahun, namun bagi Goldman, ini adalah biaya yang sepadan untuk manajemen risiko dan kepatuhan regulasi yang lebih disiplin.

​Terpukul Koreksi Awal 2026

Meski laporan tersebut mencerminkan posisi optimis di akhir 2025, realitas pasar di awal tahun 2026 memberikan tantangan yang berbeda. Setelah pergantian tahun, pasar kripto dilanda badai volatilitas. Bitcoin yang sempat perkasa di atas level US$ 90.000 terpaksa menyerah dan anjlok hingga ke kisaran US$ 61.000.

​Koreksi tajam ini dipastikan memberikan tekanan pada nilai portofolio Goldman Sachs yang dilaporkan. Sifat aset digital yang volatil memang menjadi karakteristik utama yang tak bisa dihindari, sekalipun melalui instrumen ETF. Saham ETF sendiri tidak selalu mencerminkan harga aset dasar secara sempurna saat pasar sedang bergejolak hebat.

​Sinyal Kematangan Ekosistem Global

Terlepas dari penurunan harga jangka pendek, langkah Goldman Sachs ini dipandang sebagai pengakuan terhadap peran kripto dalam ekosistem keuangan global yang semakin matang. Dengan masuknya modal institusional skala besar, pasar kripto perlahan bergerak menjauhi stigma spekulasi murni menuju diversifikasi aset strategis.

​Partisipasi institusional melalui produk ETF spot yang disetujui regulator ini membuktikan bahwa pintu gerbang keuangan tradisional untuk aset digital telah terbuka lebar, membawa standar baru dalam transparansi dan likuiditas pasar global.


​Digionary:

​● Blockchain: Teknologi buku besar terdistribusi yang mencatat semua transaksi secara transparan dan tidak dapat diubah.
● Exchange-Traded Funds (ETF) Spot: Instrumen investasi yang diperdagangkan di bursa saham yang melacak harga pasar secara langsung dari aset dasar tertentu.
● Form 13F: Laporan triwulanan yang wajib disampaikan oleh manajer investasi institusional kepada regulator di Amerika Serikat untuk mengungkap kepemilikan saham mereka.
● Kustodi: Jasa penyimpanan dan perlindungan aset keuangan, dalam hal ini mencakup keamanan kunci digital untuk aset kripto.
● Staking: Proses partisipasi aktif dalam validasi transaksi pada blockchain untuk mendapatkan imbal hasil atau insentif.
● Underlying Asset: Aset keuangan yang menjadi dasar nilai dari sebuah instrumen derivatif atau ETF.

​#GoldmanSachs #Bitcoin #Ethereum #ETFSpot #Kripto2026 #WallStreet #InvestasiInstitusional #Solana #XRP #PasarModal #BeritaKripto #ManajemenRisiko #BlackRock #EkonomiGlobal #AsetDigital #BlockchainNews #Finansial #DiversifikasiAset #UpdateKripto #InvestasiCerdas

Comments are closed.