Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service baru saja melempar “bola panas” ke arah perekonomian Indonesia dengan merevisi prospek (outlook) peringkat kredit negara dari stabil menjadi negatif. Langkah ini bukan sekadar urusan angka di atas kertas; bagi perbankan nasional, ini adalah sinyal lampu kuning yang bisa memicu pembengkakan biaya utang di pasar global. Sebagai respons, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon LP Napitupulu, langsung mengambil posisi di garda depan. Sebagai bankir yang kenyang pengalaman dalam mengelola portofolio risiko, Nixon paham betul bahwa kepercayaan lembaga internasional seperti Moody’s adalah kunci untuk menjaga napas ekspansi bank, terutama saat harus berburu pendanaan dari investor asing.
Fokus:
■ Diplomasi Proaktif terhadap Rating: Nixon memilih jalur dialog langsung dengan Moody’s untuk membedah kinerja BTN secara jangka panjang, guna membentengi peringkat korporasi agar tidak merosot mengikuti tren outlook nasional.
■ Mitigasi Biaya Surat Utang: Fokus utama Nixon adalah mencegah pembengkakan imbal hasil (yield) pada obligasi internasional yang diterbitkan BTN, mengingat peringkat kredit yang rendah akan membuat tawar-menawar bunga dengan investor asing menjadi jauh lebih mahal.
■ Transparansi Kebijakan: Di tengah sorotan Moody’s terhadap risiko ketidakpastian kebijakan domestik, Nixon berkomitmen memberikan gambaran detail mengenai stabilitas strategi BTN dalam 5 hingga 10 tahun ke depan untuk meyakinkan pasar global.
Usai memberikan paparan kinerja BTN 2025 dan sebelum sesi tanya jawab dengan media, Senin (9/2), Dirut BTN Nixon LP Napitupulu dengan nada berseloroh minta media tidak lagi bertanya soal rating Moody’s. “Saya benar-benar lagi nggak mood, jadi jangan tanya soal Moody’s ya,” ujarnya disambut tawa para awak media.
Tapi tetap saja media menanyakan soal Moody’s. Apalagu lembaga pemeringkat global Moody’s Ratings secara mengejutkan baru-baru ini merevisi prospek (outlook) lima bank raksasa Indonesia—Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN—dari “stabil” menjadi “negatif”. Langkah ini menyusul penurunan prospek kedaulatan (sovereign) Indonesia yang dipicu oleh meningkatnya risiko kredibilitas kebijakan serta kurang efektifnya komunikasi fiskal pemerintah, meskipun peringkat kredit kelima bank tersebut saat ini masih bertahan di level Baa2.
Keputusan Moody’s Investors Service memangkas prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif memicu respons cepat dari nakhoda Bank BTN, Nixon LP Napitupulu. Bagi Nixon, revisi outlook ini bukan sekadar tantangan makro, melainkan persoalan harga diri dan biaya dana yang harus dibayar mahal jika tidak segera dimitigasi.
Nixon menyadari bahwa dalam jagat finansial global, peringkat korporasi memiliki “plafon” yang ditentukan oleh peringkat negara (sovereign rating). Jika prospek negara memburuk, maka daya tawar surat utang korporasi, termasuk bank sebesar BTN, ikut terancam.
”Jadi kita biasanya ngobrol very detail dengan mereka. Mereka itu kan meneropong in the next 5 years or 10 years. Ini banknya kayak apa sih. Nah sehingga mereka akan me-rating dengan metode yang mereka lakukan,” ujar Nixon
Menghadang Lonjakan Bunga Global
Ketajaman bankir kelahiran 1969 ini diuji pada kemampuannya menjaga cost of fund. Ia menjelaskan bahwa peringkat kredit yang rendah akan mempersulit posisi bank saat menerbitkan instrumen investasi di luar negeri. “Kalau asing tuh biasanya karena kita punya pinjaman atau instrumen yang kita keluarkan di luar negeri, yang kita jual di luar negeri, atau kita beli di luar negeri. Nah ini memerlukan rating, tapi BTN kan enggak. Utang kita juga cuma dalam Yen dan itu kecil sekali jumlahnya,” terang Nixon.
Nixon mengilustrasikan, jika peringkat negara yang semula berada di level Baa2 (setara BBB) tertekan, maka posisi tawar korporasi akan melemah. “Dampaknya apa? Ya lagi kalau kita nerbitin surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal,” pungkasnya.
Menepis Kabut Ketidakpastian
Pemicu utama revisi Moody’s adalah kekhawatiran atas penurunan kepastian kebijakan di Indonesia yang bisa berimplikasi pada kinerja ekonomi jangka menengah. Nixon, dengan gaya kepemimpinannya yang berbasis data, berusaha menepis keraguan tersebut dengan memaparkan stabilitas BTN yang tetap solid—terbukti dengan CAR di level 20,9% dan laba bersih yang tumbuh 16,4% menjadi Rp3,5 triliun pada 2025.
Bagi Nixon, pertemuan dengan Moody’s bukan sekadar formalitas, melainkan upaya strategis untuk memastikan bahwa “jeroan” BTN tetap terlihat sehat meski awan gelap mulai membayangi outlook ekonomi nasional. Ia bertekad agar investor global tetap melihat BTN sebagai pelabuhan investasi yang aman, meskipun volatilitas rating sedang menghantam Indonesia.
Digionary:
● Baa2: Tingkat peringkat kredit dalam kategori layak investasi (investment grade) menurut standar Moody’s.
● Corporate Rating: Penilaian atas kemampuan sebuah perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya secara tepat waktu.
● Cost of Fund: Total biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk mendapatkan dana, baik dari simpanan masyarakat maupun pinjaman.
● Moody’s Investors Service: Lembaga pemeringkat global yang memberikan penilaian risiko utang terhadap negara dan korporasi.
● Outlook Negatif: Sinyal dari lembaga pemeringkat bahwa ada kemungkinan penurunan peringkat kredit dalam waktu dekat.
● Sovereign Rating: Peringkat kredit yang mencerminkan risiko investasi pada utang pemerintah suatu negara.
● Yield: Tingkat pengembalian atau bunga yang diminta investor atas obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan.
#Moodys #RatingKredit #NixonNapitupulu #BankBTN #EkonomiIndonesia #Obligasi #SuratUtang #InvestasiGlobal #MarketUpdate #KeuanganNasional #SovereignRating #ManajemenRisiko #InfoBisnis #PerbankanBUMN #InvestmentGrade #BungaObligasi #KepastianKebijakan #Ekonomi2026 #Finansial #GlobalFinance
