CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, merespons kritis penilaian Moody’s Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif akibat ketidakpastian tata kelola lembaga superholding tersebut. Moody’s menyoroti risiko pengelolaan aset BUMN senilai US$ 900 miliar yang berpotensi membebani fiskal negara, sementara Danantara berkomitmen mempercepat reformasi kelembagaan melalui manajemen risiko terpadu dan transparansi standar global guna menjaga kepercayaan pasar internasional.
Fokus:
■ Respons Strategis Danantara: Menganggap peringatan Moody’s sebagai masukan konstruktif untuk memperkuat fondasi hukum dan tata kelola institusi yang baru seumur jagung.
■ Kritik Tata Kelola dan Risiko: Moody’s menyoroti kurangnya kejelasan skema pembiayaan dan prioritas investasi Danantara yang mengelola aset setara 60% PDB nominal Indonesia.
■ Potensi Tekanan Dividen: Kekhawatiran pada kebijakan dividen BUMN yang dapat mengganggu kesehatan finansial perusahaan pelat merah, terutama perbankan, demi mendanai investasi Danantara.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia tengah berada di bawah radar tajam lembaga pemeringkat global. Moody’s Ratings baru saja menurunkan prospek (outlook) peringkat utang Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2), dengan menunjuk pembentukan Danantara sebagai salah satu faktor ketidakpastian utama.
Moody’s menilai, meskipun Indonesia memiliki ketahanan makroekonomi yang solid, pembentukan raksasa pengelola aset ini memunculkan risiko baru. Struktur tata kelola, skema pembiayaan, hingga prioritas investasi Danantara dianggap masih abu-abu. Padahal, lembaga ini diberi mandat mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$ 900 miliar—angka fantastis yang setara dengan 60% PDB nominal Indonesia tahun 2025.
Sebuah “Pengingat Konstruktif”
CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, tidak menampik kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa laporan Moody’s akan menjadi kompas bagi institusinya untuk melakukan perbaikan internal secara masif.
“Penyesuaian outlook tersebut sekaligus menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan dalam melanjutkan agenda pembangunan nasional,” ujar Rosan dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).
Mantan Duta Besar RI untuk AS ini menjelaskan bahwa sebagai sovereign wealth fund (SWF) baru, Danantara sedang dalam fase krusial pembangunan fondasi. Ia menjanjikan peta jalan yang bertumpu pada pengambilan keputusan berstandar global, manajemen risiko terpadu, dan disiplin investasi yang prudent (bijaksana).
Risiko Liabilitas dan “Bancakan” Dividen
Kritik Moody’s tidak berhenti pada soal struktur. Lembaga tersebut menggarisbawahi potensi peningkatan risiko liabilitas kontinjensi bagi negara jika koordinasi kebijakan Danantara tidak solid. Salah satu poin paling sensitif adalah kewenangan Danantara atas kebijakan dividen BUMN.
Moody’s mencemaskan skenario di mana dividen BUMN dipaksa naik drastis untuk mendanai investasi sektor prioritas Danantara, yang justru dapat melemahkan kesehatan keuangan perusahaan pelat merah itu sendiri. Sebagai catatan, bank-bank BUMN sepanjang tahun 2025 memang tercatat meningkatkan setoran dividen secara signifikan.
Menjaga Kepercayaan Pasar
Meski outlook terkoreksi, peringkat investment grade Indonesia masih bertahan di level Baa2. Moody’s tetap mengapresiasi disiplin fiskal dan prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Namun, keberadaan Danantara dianggap sebagai variabel baru yang “berbahaya” jika tidak dikelola dengan transparansi tinggi.
Rosan berkomitmen bahwa Danantara akan terus meningkatkan akuntabilitas di seluruh portofolio BUMN. “Danantara Indonesia tengah dalam fase pembangunan institusi yang bertumpu pada tata kelola yang kuat, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik terbaik global,” tegasnya.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Kecepatan dalam memperjelas kerangka hukum dan batasan operasional Danantara akan menjadi penentu apakah prospek ekonomi Indonesia bisa kembali ke level stabil atau justru melorot lebih jauh.
Digionary:
● Dividen: Pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki.
● Investment Grade: Peringkat kredit yang menunjukkan bahwa suatu negara atau perusahaan memiliki risiko gagal bayar yang rendah sehingga layak dipilih investor.
● Liabilitas Kontinjensi: Kewajiban keuangan yang mungkin timbul di masa depan tergantung pada hasil dari peristiwa tertentu (potensi beban bagi anggaran negara).
● Outlook Negatif: Prediksi lembaga pemeringkat bahwa peringkat utang suatu subjek kemungkinan besar akan diturunkan dalam jangka menengah.
● Prudent: Prinsip kehati-hatian dalam manajemen keuangan untuk meminimalkan risiko.
● Sovereign Wealth Fund (SWF): Dana investasi milik negara yang digunakan untuk mengelola kekayaan negara melalui investasi di berbagai aset.
#Danantara #MoodysRatings #EkonomiIndonesia #BUMN #Investasi #Fiskal #RosanRoeslani #SovereignWealthFund #KeuanganNegara #InvestmentGrade #BeritaEkonomi #PasarModal #ReformasiBUMN #PDBIndonesia #ManajemenRisiko #KredibilitasKebijakan #TataKelola #GlobalRating #OutlookNegatif #BeritaTerbaru
