Strategi Goldman Sachs 2026: AI Bukan Lagi Pembantu, Tapi ‘Rekan Kerja’ di Divisi Keuangan

- 8 Februari 2026 - 08:43

Raksasa perbankan investasi global, Goldman Sachs, resmi menggandeng startup AI Anthropic untuk mengotomatisasi lini belakang (back-office) yang selama ini padat karya, seperti akuntansi dan kepatuhan (compliance). Langkah strategis ini melibatkan integrasi model Claude AI guna menciptakan “rekan kerja digital” yang mampu memproses verifikasi klien dan rekonsiliasi transaksi secara otonom, sebuah transisi besar yang bertujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menahan laju pertumbuhan jumlah karyawan di era kecerdasan buatan.


Fokus:

■ ​Otomatisasi Fungsi Krusial: Goldman Sachs menggunakan model Claude milik Anthropic untuk menangani tugas kompleks berbasis aturan, mulai dari akuntansi perdagangan hingga proses onboarding dan verifikasi nasabah.
■ ​Strategi Efisiensi Tanpa PHK Massal: Manajemen menekankan bahwa penggunaan agen AI bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan layanan, bukan untuk pengurangan karyawan dalam waktu dekat, melainkan untuk membatasi penambahan staf baru.
■ ​Ekspansi Peran AI di Luar Coding: Keberhasilan AI dalam fungsi logika dan penalaran mendorong Goldman untuk menjajaki penggunaan agen otonom dalam pengawasan karyawan hingga pembuatan buku presentasi (pitchbooks) perbankan investasi.


Di lantai bursa Wall Street, kecepatan bukan lagi sekadar soal siapa yang paling cepat menekan tombol beli, melainkan siapa yang paling efisien mengelola data di balik layar. Goldman Sachs, salah satu kiblat perbankan investasi dunia, baru saja mengumumkan langkah berani: mereka sedang membangun pasukan “rekan kerja digital” menggunakan teknologi dari Anthropic.

​Selama enam bulan terakhir, para insinyur dari Anthropic—startup yang didirikan oleh mantan petinggi OpenAI—telah “berkantor” secara virtual di dalam sistem Goldman Sachs. Misi mereka jelas: membangun agen AI otonom yang mampu mengambil alih pekerjaan-pekerjaan administratif yang membosankan namun berisiko tinggi di bagian akuntansi dan kepatuhan.

​Bukan Sekadar Tukang Ketik Kode

​Awalnya, Goldman menggunakan AI hanya untuk membantu para pemrogram mereka menulis kode (coding). Namun, hasil eksperimen tersebut memicu kejutan di tingkat eksekutif. Marco Argenti, Chief Information Officer Goldman Sachs, mengakui bahwa kemampuan model Claude milik Anthropic dalam menalar masalah kompleks melampaui ekspektasi awal.

​”Claude sangat mahir dalam coding,” ujar Argenti dalam wawancara eksklusif dengan CNBC. “Apakah itu karena coding itu spesial, atau karena kemampuan model tersebut untuk menalar masalah kompleks, langkah demi langkah, dengan menerapkan logika?”

​Pertanyaan itu terjawab ketika Claude mulai diuji untuk membedah dokumen akuntansi dan aturan kepatuhan yang rumit. Hasilnya, AI ini mampu menerapkan penilaian (judgment) dan logika pada data masif, sebuah wilayah yang selama ini dianggap hanya bisa dikelola oleh otak manusia.

​Masa Depan Karyawan di Tengah Kepungan AI

CEO Goldman Sachs, David Solomon, sebenarnya telah menebar sinyal ini sejak Oktober lalu. Ia mencanangkan rencana multitahun untuk mereorganisasi bank di sekitar AI generatif. Tujuannya eksplisit: “membatasi pertumbuhan jumlah karyawan” seiring dengan melonjaknya pendapatan dari aktivitas perdagangan dan konsultasi.

​Meski demikian, manajemen mencoba meredam kekhawatiran akan adanya pemangkasan hubungan kerja (PHK) besar-besaran bagi ribuan staf di divisi akuntansi dan compliance. Argenti menyebut spekulasi job cuts sebagai hal yang “prematur”.

​”Anggap saja ini sebagai rekan kerja digital bagi banyak profesi di dalam perusahaan yang berskala besar, kompleks, dan sangat intensif prosesnya,” kata Argenti. Namun, ia memberi sinyal bahwa penyedia jasa pihak ketiga (vendor) mungkin menjadi pihak pertama yang akan “dieliminasi” saat teknologi AI ini semakin matang.

​Kecepatan Adalah Mata Uang Baru

​Filosofi Goldman saat ini adalah menyuntikkan kapasitas tambahan. Dengan agen AI, proses verifikasi nasabah (client onboarding) yang biasanya memakan waktu berhari-hari bisa dipangkas drastis. Begitu pula dengan rekonsiliasi perdagangan yang sering kali terjebak dalam tumpukan dokumen manual.

​”Ini selalu merupakan sebuah pertukaran (trade-off),” tambah Argenti. “Filosofi kami saat ini adalah kami menyuntikkan kapasitas, yang dalam banyak kasus akan memungkinkan kami melakukan berbagai hal lebih cepat, yang kemudian diterjemahkan menjadi pengalaman klien yang lebih baik dan lebih banyak bisnis.”

​Setelah akuntansi, Goldman sudah melirik target berikutnya: pengawasan karyawan dan pembuatan pitchbooks investasi—tugas yang selama ini menjadi “ritual” lembur bagi para analis muda di Wall Street.


​Digionary:

​● Autonomous Agents (Agen Otonom): Sistem perangkat lunak berbasis AI yang dapat menjalankan tugas, mengambil keputusan, dan menyelesaikan alur kerja tanpa intervensi konstan dari manusia.
● Back-office: Bagian dari perusahaan yang menangani tugas-tugas administratif, dukungan, dan operasional yang tidak berhadapan langsung dengan nasabah.
● Compliance (Kepatuhan): Departemen yang memastikan perusahaan beroperasi sesuai dengan hukum, peraturan, dan etika industri yang berlaku.
● Onboarding: Proses verifikasi, pendaftaran, dan pengenalan nasabah baru ke dalam sistem perbankan.
● Pitchbooks: Dokumen presentasi yang disusun oleh bank investasi untuk memamerkan keahlian mereka guna menarik klien atau memfasilitasi transaksi besar.
● Trade Reconciliation: Proses membandingkan catatan transaksi internal dengan data eksternal untuk memastikan semua angka akuntansi akurat dan sinkron.

​#GoldmanSachs #Anthropic #ClaudeAI #WallStreet #AIRevolution #Fintech #BankingNews #ArtificialIntelligence #FutureOfWork #DigitalTransformation #FinanceNews #InvestmentBanking #AccountingAI #Compliance #TechTrends2026 #BusinessEfficiency #GoldmanAI #WallStreetAI #TechInFinance #AutonomousSystems

Comments are closed.