Ambisi India Menjadi ‘Jantung’ Baru AI Dunia: Saat Big Tech Tak Lagi Punya Pilihan

- 6 Februari 2026 - 16:50

Raksasa teknologi global seperti Google, Microsoft, Amazon, dan Nvidia sedang mempertaruhkan miliaran dolar ke India dalam perlombaan mencapai supremasi kecerdasan buatan (AI). Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang agresif—termasuk insentif pajak jangka panjang dan infrastruktur berdaulat—India kini bertransformasi dari sekadar pusat outsourcing menjadi laboratorium AI global yang krusial bagi masa depan ekonomi digital dunia.


Fokus:

■ ​Perang Capex Raksasa Teknologi: Komitmen investasi masif dari pemain utama seperti Google (US$ 15 miliar), Microsoft (US$ 17.5 miliar), dan Amazon (US$ 35 miliar) untuk membangun infrastruktur data center berbasis AI di India.
■ ​Transformasi India Menjadi Hub AI Berdaulat: Upaya pemerintah India melalui “IndiaAI Mission” untuk menyediakan akses komputasi murah (GPU) bagi startup dan peneliti guna menciptakan model AI lokal.
■ ​Revolusi “Low-Cost, High-Scale”: Strategi India untuk menjadi eksportir layanan AI yang efisien dengan memanfaatkan tenaga kerja ahli yang luas dan biaya operasional yang kompetitif dibanding Silicon Valley.


​Raksasa teknologi dunia seperti Google dan Microsoft mengguyur India dengan investasi pusat data AI senilai miliaran dolar. Temukan alasan mengapa India menjadi kunci supremasi AI global dan bagaimana kebijakan pajak nol persen mengubah peta kekuatan teknologi dunia.


Di koridor kekuasaan New Delhi dan pusat teknologi Bengaluru, sebuah narasi baru sedang ditulis. Jika dua dekade lalu India dikenal sebagai “kantor belakang” dunia untuk urusan coding dan layanan pelanggan, kini negara dengan populasi terbesar di dunia ini sedang bersiap menjadi mesin utama yang menggerakkan Kecerdasan Buatan (AI) global.

​Bukan sekadar retorika, data berbicara lebih keras. Menteri Elektronik dan Teknologi Informasi India, Ashwini Vaishnaw, baru-baru ini mengungkapkan bahwa investasi infrastruktur AI di India yang saat ini mencapai US$ 70 miliar diprediksi akan berlipat ganda dalam waktu dekat. Fenomena ini dipicu oleh kepanikan positif raksasa teknologi (Big Tech) yang tidak ingin ketinggalan kereta dalam perebutan takhta AI.

​Investasi Tanpa Rem

​Microsoft, di bawah komando Satya Nadella, telah mengalokasikan US$ 17.5 miliar khusus untuk ekspansi cloud dan AI. Sementara itu, Google tidak mau kalah dengan menyuntikkan US$ 15 miliar untuk membangun pusat data raksasa di Visakhapatnam. Langkah paling agresif datang dari Amazon yang menyiapkan dana fantastis US$ 35 miliar hingga tahun 2030.

​Mengapa India? Jawabannya sederhana: data dan talenta. Dengan ratusan juta pengguna internet aktif, India adalah tambang emas data untuk melatih model bahasa besar (Large Language Models).
​”India bukan lagi sekadar pasar konsumsi; India adalah pusat desain untuk teknologi dan aplikasi AI masa depan,” ujar Vaishnaw dalam sebuah pertemuan baru-baru ini seperti dikutip The Wall Street Journal.

​Strategi Berdaulat dan Subsidi GPU

​Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi memahami bahwa infrastruktur adalah kunci. Melalui IndiaAI Mission, pemerintah berencana menambah 25,000 unit GPU (Graphics Processing Units) untuk membantu startup lokal. Tujuannya ambisius: menekan biaya komputasi hingga di bawah US$ 1 per jam—tarif terendah di dunia.

​Langkah ini diperkuat dengan kebijakan fiskal yang berani. Dalam anggaran terbaru, Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman mengumumkan bahwa perusahaan asing yang membangun pusat data di India tidak akan dikenakan pajak hingga tahun 2047. Ini adalah “karpet merah” yang terlalu berkilau untuk diabaikan oleh para CEO di Silicon Valley.

​Tantangan di Balik Euforia

​Namun, jalan menuju supremasi tidak tanpa lubang. Beberapa analis memperingatkan adanya risiko “pemborosan modal”. Laporan Economic Survey 2025-26 mengingatkan agar India tidak terjebak mengejar model AI raksasa yang boros energi, melainkan fokus pada Small Language Models (SLM) yang lebih praktis untuk kebutuhan industri spesifik.

​Kekhawatiran juga muncul dari sektor IT tradisional. Munculnya alat AI generatif seperti dari Anthropic mengancam model bisnis outsourcing klasik. Saham perusahaan raksasa seperti TCS dan Infosys sempat mengalami tekanan karena investor khawatir AI akan mengotomatisasi tugas-tugas yang selama ini dikerjakan oleh ribuan insinyur India.

​Meski demikian, bagi para pemain global, risikonya lebih besar jika mereka tidak ada di India saat ini. Dalam perlombaan AI, India bukan lagi sekadar pilihan cadangan; ia adalah medan tempur utama.


​Digionary:

​● AI Berdaulat (Sovereign AI): Kemampuan suatu negara untuk memproduksi kecerdasan buatan menggunakan infrastruktur, data, dan tenaga kerja sendiri tanpa ketergantungan penuh pada teknologi asing.
● Capex (Capital Expenditure): Pengeluaran modal yang dilakukan perusahaan untuk membeli, memelihara, atau meningkatkan aset fisik seperti pusat data dan server.
● GPU (Graphics Processing Unit): Perangkat keras komputer yang sangat penting dalam pemrosesan AI karena kemampuannya melakukan perhitungan matematika rumit secara paralel.
● LLM (Large Language Model): Model AI yang dilatih dengan data teks dalam jumlah sangat besar untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia.
● SLM (Small Language Model): Versi model AI yang lebih ringkas dan efisien, dirancang untuk menjalankan tugas spesifik dengan konsumsi daya dan memori yang lebih rendah.

#AIIndia #BigTech #ArtificialIntelligence #TechInvestment #GoogleIndia #MicrosoftAI #DigitalIndia #FutureOfTech #SiliconValleyIndia #AIInfrastructure #Innovation #EconomicGrowth #Nvidia #CloudComputing #TechNews #IndiaGlobalHub #GenerativeAI #DataCenter #IndiasEconomy #AIRevolution

Comments are closed.