JPMorgan merilis laporan teranyar yang menyoroti pergeseran drastis strategi investor global, di mana Bitcoin mulai ditinggalkan karena dianggap telah memasuki zona jenuh jual (oversold), sementara emas dan perak justru menjadi primadona baru meski harganya sudah tergolong mahal (overbought). Analis memprediksi adanya rotasi modal besar-besaran dari aset digital ke logam mulia, didorong oleh akumulasi agresif bank sentral dan investor swasta yang dapat melambungkan harga emas ke level fantastis US$8.500 dalam jangka panjang sebagai benteng perlindungan terhadap devaluasi mata uang.
Fokus:
■ Divergensi Bitcoin dan Logam Mulia: Kontrak berjangka Bitcoin menunjukkan indikator jenuh jual, berbanding terbalik dengan emas dan perak yang justru sangat jenuh beli akibat serbuan dana institusional dan pengekor tren (momentum traders).
■ Eksodus Investor Ritel: Sejak Agustus 2025, aliran dana keluar dari ETF Bitcoin meningkat tajam bersamaan dengan masuknya dana sebesar US$60 miliar ke ETF emas, menandakan kembalinya minat publik pada aset fisik tradisional.
■ Prediksi Emas US$8.500: JPMorgan mempertahankan pandangan bullish jangka panjang pada emas, memproyeksikan kenaikan alokasi portofolio investor swasta dari 3% menjadi 4,6% sebagai lindung nilai ekuitas.
Peta jalan investasi global sedang mengalami pergeseran tektonik. Raksasa perbankan investasi JPMorgan baru saja merilis peringatan bagi para spekulan: pasar kontrak berjangka menunjukkan bahwa Bitcoin kini berada di zona jenuh jual (oversold), sementara emas dan perak justru sedang “kepanasan” di area jenuh beli (overbought).
Laporan yang dipimpin oleh Managing Director JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, mengungkap bahwa fenomena “debasement trade”—strategi membeli aset untuk berlindung dari penurunan nilai mata uang—telah berubah arah sejak Agustus 2025. Jika sebelumnya Bitcoin dan emas diborong secara bersamaan, kini investor ritel tampak mulai berpaling dari aset kripto dan mengerumuni logam mulia.
Eksodus Digital ke Aset Fisik
Data menunjukkan arus keluar dana dari ETF Bitcoin mulai stagnan dan merosot pada kuartal keempat 2025. Di sisi lain, ETF emas justru kebanjiran dana segar dengan akumulasi mencapai hampir US$60 miliar di akhir tahun. Perak pun tak ketinggalan; mayoritas aliran masuk ke ETF perak terjadi justru saat investor mulai menarik diri dari Bitcoin.
”Perilaku institusional telah memperkuat pergeseran tersebut,” tulis para analis JPMorgan. Berdasarkan pantauan terhadap minat terbuka (open interest) di bursa CME, posisi beli (long) pada perak melonjak tajam sejak akhir 2025, yang mayoritas dikendalikan oleh dana lindung nilai (hedge funds).
Risiko Koreksi dan Dominasi Likuiditas
Meskipun emas dan perak sedang naik daun, JPMorgan memberikan catatan merah. Indikator momentum menunjukkan risiko tinggi terjadinya aksi ambil untung dalam jangka pendek atau pembalikan nilai (mean reversion). Emas dan perak yang terlalu jenuh beli rentan terhadap koreksi mendadak, seperti yang mulai terlihat beberapa waktu setelah laporan ini dipublikasikan.
JPMorgan juga membedah struktur likuiditas menggunakan Hui-Heubel Ratio. Hasilnya? Emas tetap menjadi raja likuiditas dengan partisipasi pasar yang paling luas. Sebaliknya, Bitcoin memiliki rasio tertinggi yang menunjukkan likuiditas yang tipis, sehingga harganya sangat sensitif terhadap aliran pesanan yang relatif kecil.
Target Fantastis: Emas US$8.500
Meski ada risiko koreksi jangka pendek, JPMorgan tetap memasang posisi “tanduk banteng” untuk emas dalam jangka panjang. Bank tersebut memproyeksikan alokasi emas oleh investor swasta bisa meningkat dari kisaran 3% saat ini menjadi 4,6% di tahun-tahun mendatang.
”Alokasi emas oleh investor swasta dan bank sentral terus meningkat,” ungkap analis. Dalam skenario di mana rumah tangga terus mengganti kepemilikan obligasi jangka panjang mereka dengan emas sebagai pelindung nilai ekuitas, JPMorgan menghitung harga teoritis emas dapat mencapai rentang US8.000 hingga US8.500 per troy ons.
Lalu, bagaimana dengan Bitcoin? Meski sebelumnya sempat memprediksi target US$170.000, JPMorgan kini tampak lebih berhati-hati dan belum memberikan pembaruan apakah target tersebut masih berlaku di tengah kondisi likuiditas yang menipis saat ini.
Digionary:
● Debasement Trade: Strategi investasi yang dilakukan dengan membeli aset (seperti emas atau kripto) untuk mengantisipasi penurunan nilai mata uang akibat kebijakan moneter atau inflasi.
● ETF (Exchange-Traded Fund): Kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek, memudahkan investor membeli emas atau bitcoin tanpa memegang fisiknya.
● Hui-Heubel Ratio: Indikator teknis yang digunakan untuk mengukur kedalaman pasar dan likuiditas suatu aset; semakin rendah rasionya, semakin likuid aset tersebut.
● Mean Reversion: Teori keuangan yang menyatakan bahwa harga aset cenderung akan kembali ke harga rata-rata historisnya setelah mengalami pergerakan ekstrem.
● Open Interest: Jumlah total kontrak derivatif (seperti futures) yang masih aktif dan belum diselesaikan oleh pelaku pasar.
● Overbought (Jenuh Beli): Kondisi di mana harga suatu aset sudah naik terlalu tinggi dan cepat sehingga dianggap sudah mahal dan rentan terkoreksi.
● Oversold (Jenuh Jual): Kondisi di mana harga aset sudah turun terlalu dalam sehingga dianggap sudah murah dan berpotensi untuk naik kembali.
#JPMorgan #HargaEmas #Bitcoin2026 #EmasUS8500 #LogamMulia #InvestasiSaham #PasarKripto #InfoIHSG #AnalisPasar #LindungNilai #BitcoinOversold #GoldBullish #StrategiInvestasi #EkonomiGlobal #Komoditas #Derivatif #BankSentral #HedgeFund #LikuiditasPasar #ETFGold
