Berkah di Balik Nestapa IHSG: Dana Asing Mengalir Deras ke Negeri Jiran, Ringgit Kian Perkasa

- 31 Januari 2026 - 20:56

Pasar modal Indonesia tengah menghadapi eksodus modal besar-besaran setelah MSCI Inc menjatuhkan “vonis” keras terhadap rendahnya transparansi free float saham emiten dalam negeri. Kondisi ini menjadi berkah tak terduga bagi bursa Malaysia, yang mulai kebanjiran arus dana asing (inflow) hingga mencapai RM1,47 miliar hanya dalam tiga pekan pertama 2026, seiring dengan peralihan portofolio investor global yang mencari stabilitas valuasi dan penguatan mata uang Ringgit di kawasan Asia Tenggara.


​Fokus:

■ ​Eksodus Modal Akibat Vonis MSCI: Sorotan tajam MSCI terhadap struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi di Indonesia memicu anjloknya IHSG hingga 7,4% dalam sehari dan mengancam posisi RI di indeks Emerging Markets.
■ ​Malaysia Jadi Safe Haven Baru: Setelah mencatat arus keluar RM22,3 miliar pada 2025, Bursa Malaysia kini berbalik arah menjadi destinasi favorit investor asing karena valuasi saham yang murah dan kinerja Ringgit yang perkasa.
■ ​Sentimen Positif Korporasi Jiran: Optimisme pasar di Kuala Lumpur didorong oleh proyeksi pertumbuhan laba perusahaan dan penguatan indeks FBM KLCI yang sudah melesat lebih dari 4% di awal tahun, melampaui capaian sepanjang tahun lalu.


​Hukum keseimbangan pasar sedang bekerja dengan cara yang pahit bagi Indonesia. Di saat Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang limbung akibat peringatan keras dari penyedia indeks global MSCI Inc, tetangga terdekat kita, Malaysia, justru sedang “panen” likuiditas. Investor global yang mulai skeptis terhadap transparansi pasar modal Indonesia kini mengalihkan kemudinya ke Kuala Lumpur.

​Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai titik nadir saat merosot tajam 7,4% dalam satu hari perdagangan. Pemicunya jelas: MSCI menyoroti persoalan free float atau porsi saham publik yang dinilai semu dan terlalu terkonsentrasi pada segelintir pemilik. Jika tak segera dibenahi, Indonesia tidak hanya sekadar kehilangan bobot di indeks, tapi terancam didegradasi menjadi pasar frontier—sebuah kiamat kecil bagi dana investasi berbasis indeks.

Kekhawatiran di Jakarta menjadi katalis bagi pemulihan di bursa Malaysia. Danny Wong, CEO Areca Capital Sdn Bhd, melihat tahun 2026 sebagai titik balik bagi pasar ekuitas Malaysia setelah periode panjang pelarian modal. “Pasar ekuitas Malaysia berpotensi mencatat arus masuk dana asing bersih pada 2026, sekaligus mengakhiri periode panjang arus keluar modal,” ujar Danny Wong kepada The Edge.

​Data bicara nyata. Hingga 27 Januari 2026, investor asing telah memborong saham di bursa Malaysia dengan nilai kumulatif mencapai RM1,47 miliar. Ini adalah perubahan arah yang drastis mengingat sepanjang 2025 Malaysia kehilangan dana asing sebesar RM22,3 miliar.

​Valuasi Murah dan Proyeksi Laba

Mengapa Malaysia? Para manajer investasi menilai valuasi saham di Malaysia saat ini berada di bawah rata-rata historis, menjadikannya target “belanja murah” yang menggiurkan di tengah ketidakpastian regional. Loui Low, Kepala Riset Malacca Securities, menambahkan bahwa penguatan mata uang Ringgit menjadi sinyal kuat bahwa investor asing sedang membangun posisi untuk jangka panjang.

​”Oleh karena itu, mereka mungkin sedang memposisikan diri untuk pertumbuhan lebih lanjut,” kata Loui Low.

​Meski indeks FBM KLCI sempat terkoreksi tipis 0,83% ke level 1.756,49 pada penutupan Rabu lalu, optimisme pasar tetap tinggi. Dalam kurang dari sebulan, indeks acuan Malaysia ini telah melesat lebih dari 4%, sebuah performa yang jauh lebih bertenaga dibandingkan pertumbuhan sepanjang tahun 2025 yang hanya 2,3%.

​Bagi Indonesia, fenomena ini adalah alarm keras. Ketika transparansi menjadi harga mati bagi investor global, kegagalan dalam memperbaiki struktur kepemilikan saham publik berarti merelakan triliunan rupiah modal asing terbang ke pelukan negara tetangga.


​Digionary:

​● Arus Masuk Bersih (Net Inflow): Kondisi di mana jumlah modal yang masuk ke suatu pasar lebih besar daripada modal yang keluar dalam periode tertentu.
● FBM KLCI (FTSE Bursa Malaysia KLCI): Indeks pasar saham utama di Malaysia yang terdiri dari 30 perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.
● Free Float: Jumlah saham suatu perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik di pasar modal dan tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali atau pemerintah.
● MSCI (Morgan Stanley Capital International): Penyedia indeks saham global yang menjadi acuan bagi manajer investasi dunia dalam mengalokasikan portofolio mereka.
● Pasar Frontier: Klasifikasi pasar modal yang tingkat likuiditas dan transparansinya berada di bawah pasar berkembang (Emerging Markets), biasanya dianggap lebih berisiko.
● Valuasi Saham: Proses menentukan nilai pasar suatu saham untuk mengetahui apakah harga saat ini termasuk murah (undervalued) atau mahal (overvalued).

#MSCI #IHSG #BursaMalaysia #DanaAsing #InvestasiRegional #EkonomiAsiaTenggara #Ringgit #PasarModal #FreeFloat #EmergingMarkets #FBMKLCI #InfoSaham #Kuala Lumpur #InvestorGlobal #LikuiditasPasar #TransparansiEmiten #ArusModal #BursaEfekIndonesia #SahamMalaysia #GlobalEconomy2026

Comments are closed.