Warteg Legendaris Warmo Tebet Memilih Go Digital untuk Terus Bertahan Hidup

- 26 Januari 2026 - 20:54

Warteg Warmo di Tebet nyaris tutup permanen ketika manajemen lama menyerah pada beban operasional. Di tangan pengelola baru, warteg legendaris ini bertahan dengan satu langkah sederhana namun krusial: go digital. Pembayaran QRIS, laporan real-time, dan pembukuan rapi mengubah cara kerja dapur tradisional menjadi usaha yang siap berkembang.


Fokus:

■ Warteg legendaris nyaris tutup bukan karena sepi, tetapi karena beban operasional manual.
■ Digitalisasi pembayaran dan pembukuan mengubah efisiensi kerja tanpa mengubah jati diri usaha.
■ Data transaksi real-time membuka jalan ekspansi dan model franchise bagi UMKM tradisional.


Di perempatan Jalan Tebet Raya, Warteg Warmo tetap buka 24 jam seperti dulu. Yang berubah bukan rasanya, melainkan cara kerjanya. Dari pencatatan manual yang sering tak seimbang, kini semua transaksi tercatat real-time lewat QRIS. Langkah kecil ini menyelamatkan warteg legendaris yang ada sejak 19i0-an dari ancaman tutup.


Kawasan Tebet dikenal sebagai panggung kuliner yang tak pernah diam. Kafe, restoran tematik, dan gerai cepat saji bermunculan. Kebiasaan pelanggan pun berubah: ingin cepat, praktis, termasuk saat membayar.

Di tengah arus itu, Warteg Warmo tetap berdiri di lokasi yang sama, dengan menu rumahan yang konsisten. Selama puluhan tahun, reputasinya dibangun bukan lewat promosi, melainkan kebiasaan pelanggan yang kembali—pekerja malam, warga sekitar, hingga pelanggan setia yang menganggap Warmo seperti “rumah makan sendiri”.

Empat tahun terakhir, Warteg Warmo dikelola Syukur Iman, 30 tahun, berlatar belakang akuntansi. Ia masuk ketika kabar mengejutkan beredar: pemilik lama berniat menjual dan menutup Warmo permanen karena tak sanggup melanjutkan operasional.

“Saya merasa ada rasa sayangnya dan tanggung jawab gitu terhadap rumah makan yang sudah jadi ibarat ‘rumah’ bagi banyak warga. Di sinilah, saya melihat Warmo bukan rumah makan biasa tetapi warteg legendaris yang ramai dan sudah jadi tradisi yang patut diteruskan,” jelas Iman.

Warteg Warmo di Tebet nyaris tutup akibat pembukuan manual yang kacau. Beralih ke QRIS dan laporan real-time, warteg legendaris ini bangkit dan bersiap ekspansi.

Ia tidak mengubah Warmo secara drastis. Bangunan dirawat, dicat ulang, furnitur tua diganti. Menu andalan seperti sop iga tetap dipertahankan, sembari menambah pilihan seperti chicken teriyaki dan katsu untuk menjangkau pelanggan muda.

Namun tantangan terbesar bukan pada rasa, melainkan pada operasional.

Enam bulan pertama, transaksi masih sepenuhnya tunai dengan pencatatan manual. Masalah klasik muncul: selisih uang, pembukuan tak rapi, sulit melacak pemasukan harian saat ramai, hingga kerepotan soal kembalian.

“Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan. Waktu itu pembukuannya belum rapi, masih pakai catatan sendiri, jadi sering nggak balance pas dicek di akhir bulan atau akhir tahun. Saldo sama pencatatan debit–kredit juga kadang belum ketemu,” lanjut Iman.

Ia mulai mencari solusi. Riset mandiri, membaca ulasan, menonton pengalaman pelaku usaha lain, berdiskusi dengan rekan UMKM. Hingga akhirnya memilih DANA Bisnis.

Alasannya praktis: laporan keuangan real-time, MDR 0,7%, dan pendaftaran cepat. “Setelah cari tahu banyak aplikasi, menurut saya, DANA Bisnis itu lengkap dan detail. Jadi bisa bantu meminimalisir kesalahan dan nggak pusing kembalian,” tambahnya.

Perubahan langsung terasa. Pembayaran QRIS membuat transaksi lebih ringkas. Setiap pembayaran tercatat otomatis. Iman bisa memantau pemasukan harian tanpa menunggu rekap akhir bulan.

“Sistem pembayaran digital sangat membantu terutama di jam-jam sibuk seperti makan siang dan makan malam. Karyawan saya tidak lagi repot mencatat manual satu per satu tiap pelanggan dan menghitung kembalian,” kata Iman.

Bagi pelanggan, proses bayar jadi lebih cepat. Bagi pengelola, risiko selisih nyaris hilang. Digitalisasi ini tidak mengubah jati diri Warmo. Ia hanya mengubah cara kerja di belakang meja kasir. Teknologi menjadi alat, bukan tujuan.

Kini, dengan administrasi yang rapi dan data transaksi yang terbaca jelas, Iman mulai memikirkan langkah berikutnya: membuka cabang dan bahkan franchise. “Saya ingin suatu hari ini bisa membuka franchise Warmo Tebet, supaya yang bisa menikmati masakan Warmo nggak cuma warga Tebet aja,” ujarnya.

Di akhir cerita, pesannya sederhana bagi UMKM lain: “Yang penting berani mulai. Pakai sistem pembayaran digital itu bikin kerjaan lebih rapi dan lebih cepat. Kita jadi bisa fokus ke usaha ke rasa, pelayanan, dan gimana caranya berkembang,” tutup Iman.


Digionary:

● Franchise: Model bisnis memperluas usaha lewat kemitraan merek dan sistem.
● MDR (Merchant Discount Rate): Biaya potongan transaksi dari penyedia pembayaran.
● Pembukuan Manual: Pencatatan transaksi tanpa sistem digital.
● QRIS: Standar kode QR nasional untuk pembayaran digital di Indonesia.
● Real-time Report: Laporan transaksi yang dapat dipantau saat itu juga.
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

#UMKM #WartegWarmo #GoDigital #QRIS #DigitalPayment #DANABisnis #KulinerTebet #UMKMNaikKelas #PembayaranDigital #Cashless #Franchise #TransformasiDigital #WartegLegend #BisnisKuliner #UMKMIndonesia #InovasiUMKM #LaporanRealtime #MerchantMDR #CeritaUMKM #EkspansiUsaha

Comments are closed.