LPS mencatat tabungan di atas Rp5 miliar melonjak 22,76% yoy, jauh melampaui pertumbuhan tabungan di bawah Rp100 juta yang hanya 3,43%. Lonjakan ini dipicu penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank BUMN. Data ini memotret realitas baru likuiditas perbankan: dana besar mengendap, sementara daya simpan masyarakat kecil melambat.
Fokus:
■ Tabungan di atas Rp5 miliar melonjak 22,76% yoy dipicu penempatan dana SAL pemerintah.
■ Tabungan di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 3,43% yoy, menunjukkan perlambatan dana ritel.
■ DPK tumbuh 13,83% lebih cepat dari kredit 9,63%, menandakan likuiditas berlebih di perbankan.
Di saat banyak masyarakat menahan belanja dan tabungan kecil tumbuh lambat, dana jumbo justru deras masuk ke perbankan. LPS mencatat, tabungan di atas Rp5 miliar melonjak tajam sepanjang 2025, dipicu aliran dana besar dari pemerintah ke bank-bank BUMN.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkap fenomena menarik dalam struktur dana perbankan nasional. Tabungan nasabah di atas Rp5 miliar tumbuh 22,76% secara tahunan (yoy)—angka yang jauh melampaui pertumbuhan tabungan kelompok kecil.
Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, Ferdinan D. Purba, menjelaskan “[Tabungan] di atas Rp 5 miliar ini juga tumbuh dan pertumbuhannya cukup tinggi. Itu 22,76% pertumbuhannya. Ini mungkin juga dikontribusi adanya penempatan dana SAL pemerintah itu mungkin persentasenya cukup tinggi jadinya itu.”
Lonjakan ini tidak terjadi secara alami dari aktivitas ritel masyarakat kaya. Ada faktor besar di belakangnya: penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di sejumlah bank BUMN.
Likuiditas Tebal, Tapi Tidak Merata
Di sisi lain, tabungan di bawah Rp100 juta—yang merepresentasikan mayoritas masyarakat—hanya tumbuh 3,43% yoy dan bahkan melambat dibanding tahun sebelumnya.
LPS mencatat tabungan di atas Rp5 miliar melonjak 22,76% akibat dana SAL pemerintah di bank BUMN, sementara tabungan kecil tumbuh lambat dan likuiditas perbankan menumpuk.
Purba menegaskan, “Yang di bawah Rp 100 juta ini pertumbuhannya year-on-year itu 3,43%. Jadi memang kalau dilihat dari pertumbuhan total dia tidak terlalu lebih rendah dibandingkan (tahun sebelumnya), tapi dia tumbuh.”
Data ini menggambarkan ketimpangan struktur likuiditas. Uang besar bertambah cepat di sistem perbankan, sementara dana masyarakat kecil tumbuh jauh lebih lambat.
DPK Tumbuh 13,83%, Kredit Hanya 9,63%
LPS juga mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan tumbuh 13,83% yoy, didorong belanja pemerintah dan korporasi. Namun pertumbuhan kredit hanya 9,63% yoy hingga Desember 2025.
Artinya, dana di bank bertambah lebih cepat dibanding penyaluran kredit ke ekonomi. Fenomena ini dikenal di industri perbankan sebagai excess liquidity — likuiditas berlebih yang belum terserap optimal ke sektor produktif.
Efek Kebijakan Fiskal Terlihat Jelas di Perbankan
Penempatan SAL pemerintah di bank BUMN memang bertujuan menjaga likuiditas sistem dan mendukung stabilitas keuangan. Namun efek turunannya terlihat jelas pada statistik simpanan.
Bank-bank BUMN mendadak mencatat lonjakan dana jumbo, yang secara statistik tercatat sebagai tabungan di atas Rp5 miliar. Ini menjelaskan mengapa pertumbuhan kelompok ini melonjak tidak biasa.
Sinyal Penting bagi Industri Jasa Keuangan
Data ini penting dibaca bukan sebagai kabar “orang kaya makin kaya”, melainkan sebagai indikator pergeseran struktur likuiditas perbankan, dampak langsung kebijakan fiskal ke neraca bank, dan tanda bahwa transmisi dana ke sektor riil belum optimal. Ketika DPK tumbuh jauh lebih cepat dari kredit, bank menghadapi tekanan untuk menyalurkan dana secara lebih produktif tanpa mengorbankan kualitas kredit.
Digionary:
● DPK: Dana Pihak Ketiga yang dihimpun bank dari nasabah
● Excess Liquidity: Kondisi likuiditas bank berlebih
● LPS: Lembaga Penjamin Simpanan
● SAL: Saldo Anggaran Lebih milik pemerintah
● Tabungan Jumbo: Simpanan bernilai sangat besar di perbankan
● Yoy: Year on year atau pertumbuhan tahunan
#LPS #TabunganJumbo #SALPemerintah #BankBUMN #DPK #LikuiditasPerbankan #ExcessLiquidity #KreditPerbankan #EkonomiIndonesia #DanaPemerintah #SimpananNasabah #PerbankanNasional #DataLPS #Likuiditas #KebijakanFiskal #NasabahRitel #StabilitasKeuangan #IndustriKeuangan #OJK #Ekonomi
