Bank Indonesia menggelontorkan likuiditas hampir Rp400 triliun ke perbankan melalui insentif makroprudensial. Namun pesan utamanya tegas: likuiditas murah harus diterjemahkan menjadi penurunan bunga kredit. Di tengah perlambatan kredit dan tekanan global, BI kini menguji sejauh mana bank bersedia berbagi ruang margin demi menggerakkan ekonomi riil.
Fokus:
■ BI menggelontorkan likuiditas Rp397,9 triliun sebagai instrumen untuk memaksa transmisi pelonggaran moneter ke bunga kredit.
■ Insentif KLM bersyarat, dengan prioritas bagi bank yang paling cepat dan agresif menurunkan bunga kredit.
■ Perbankan diuji antara menjaga margin dan mendorong kredit, di tengah pertumbuhan kredit yang masih moderat dan likuiditas berlimpah.
Likuiditas bukan lagi masalah. Bank Indonesia sudah membuka keran hampir Rp400 triliun ke perbankan. Kini pertanyaannya bergeser: seberapa cepat dan seberapa dalam bank mau menurunkan bunga kredit agar dorongan moneter benar-benar terasa di dunia usaha dan kantong rumah tangga?
Bank Indonesia (BI) mengguyur perbankan nasional dengan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp397,9 triliun hingga minggu pertama Januari 2026. Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa bank sentral ingin memastikan pelonggaran moneter benar-benar mengalir ke sektor riil, bukan berhenti di neraca perbankan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, insentif tersebut diprioritaskan bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit, sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan BI.
“Implementasi penguatan KLM yang berlaku pada 16 Desember 2025 diarahkan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan, melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Pernyataan itu memperjelas sikap BI: likuiditas murah bukan hadiah tanpa syarat, melainkan instrumen untuk memaksa transmisi kebijakan moneter bekerja lebih efektif.
Peta Likuiditas: Siapa Dapat Apa
Dari total Rp397,9 triliun, BI menyalurkan insentif terbesar ke bank-bank BUMN sebesar Rp182,9 triliun, disusul bank swasta nasional (BUSN) Rp174,7 triliun. Bank Pembangunan Daerah (BPD) memperoleh Rp33,1 triliun, sementara kantor cabang bank asing (KCBA) menerima Rp7,2 triliun.
Distribusi ini mencerminkan struktur sistem perbankan nasional, sekaligus menegaskan peran bank besar sebagai saluran utama transmisi kredit ke perekonomian.
Namun, besarnya likuiditas tidak otomatis menjamin kredit lebih murah. Sepanjang 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat 9,69%, berada di batas bawah target BI. Di saat yang sama, suku bunga kredit bergerak turun secara terbatas, menandakan transmisi kebijakan masih tersendat.
BI menilai penguatan KLM menjadi bagian dari bauran kebijakan untuk mempercepat penyesuaian suku bunga kredit, terutama di tengah tren penurunan suku bunga global dan melemahnya tekanan inflasi domestik.
Data BI menunjukkan pertumbuhan uang primer pada Desember 2025 mencapai 16,8% yoy, mengindikasikan kondisi likuiditas yang longgar. Dengan kondisi tersebut, ruang bagi bank untuk menurunkan bunga kredit dinilai semakin terbuka.
Di sisi lain, perbankan menghadapi dilema klasik: menjaga margin bunga bersih (NIM) di tengah risiko kredit dan ketidakpastian ekonomi global. Tekanan BI ini pada akhirnya menjadi uji keberpihakan bank terhadap pemulihan ekonomi, terutama bagi sektor UMKM dan industri padat karya yang paling sensitif terhadap biaya kredit.
Taruhan BI: Kredit atau Stagnasi
BI secara terbuka menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8–12%. Namun target ini hanya realistis jika bank bersedia menerjemahkan insentif likuiditas menjadi bunga pinjaman yang lebih kompetitif.
Langkah BI ini juga dibaca sebagai sinyal bahwa bank sentral tidak ingin pelonggaran moneter berhenti sebagai kebijakan simbolik. Jika bunga kredit tak kunjung turun, tekanan kebijakan bisa berlanjut melalui instrumen lain—baik makroprudensial maupun sinyal moral suasion yang lebih keras.
Digionary:
● BI Rate: Suku bunga kebijakan Bank Indonesia
● KLM: Kebijakan Likuiditas Makroprudensial
● Likuiditas: Ketersediaan dana di sistem keuangan
● Makroprudensial: Kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan
● Margin bunga bersih (NIM): Selisih bunga kredit dan dana
● Transmisi moneter: Proses penyaluran kebijakan BI ke ekonomi riil
● Uang primer: Uang yang diterbitkan bank sentral
● Yoy: Year on year
#BankIndonesia #Likuiditas #BungaKredit #KebijakanMoneter #PerbankanNasional #BIrate #Makroprudensial #KreditPerbankan #EkonomiRiil #UMKM #SukuBunga #StabilitasKeuangan #Moneter #Inflasi #NIMBank #PertumbuhanEkonomi #KebijakanBI #LikuiditasMurah #KeuanganIndonesia #BankSentral
