Pelatihan Karyawan Ternyata Menguntungkan Perusahaan Dua Kali Lipat, Ini Temuan Harvard

- 22 Januari 2026 - 08:04

Pelatihan karyawan selama ini dinilai mahal dan sulit diukur dampaknya. Riset terbaru Harvard Business School justru menunjukkan hasil mengejutkan: pelatihan tidak hanya meningkatkan produktivitas pekerja, tetapi juga membebaskan waktu manajer untuk pekerjaan strategis. Nilainya bahkan nyaris setengah dari total manfaat program.


Fokus:

■ Pelatihan karyawan terbukti meningkatkan produktivitas ganda: pekerja menjadi lebih mandiri dan efisien, sementara manajer memperoleh kembali waktu kerja untuk fokus pada tugas strategis bernilai tinggi.
■ Riset Harvard menunjukkan efek limpahan pelatihan ke manajer menyumbang hampir 45% dari total manfaat ekonomi, namun selama ini luput dihitung dalam evaluasi ROI program pengembangan SDM.
■ Di era AI dan otomasi, pelatihan yang tepat berpotensi merampingkan struktur organisasi, mengurangi ketergantungan pada manajer, serta menciptakan model kerja yang lebih adaptif dan produktif.


Selama bertahun-tahun, pelatihan karyawan kerap dipandang sebagai biaya wajib—penting, tetapi sulit dibuktikan hasilnya. Namun riset terbaru Harvard Business School membongkar kekeliruan itu. Pelatihan yang tepat bukan hanya membuat karyawan lebih produktif, tetapi juga mengubah cara organisasi bekerja dari atas ke bawah.


Perusahaan global menggelontorkan dana besar untuk pelatihan sumber daya manusia. Di Amerika Serikat saja, rata-rata perusahaan menghabiskan sekitar US$1.200 per karyawan per tahun, menurut Training Industry Report 2023. Namun pertanyaan klasik tetap muncul di ruang direksi: apakah investasi ini benar-benar sepadan?

Jawaban datang dari riset mendalam yang dilakukan Profesor Harvard Business School Christopher T. Stanton bersama Miguel Espinosa dari SDA Bocconi School of Management. Studi mereka terhadap lembaga regulator pemerintah di Kolombia menunjukkan bahwa manfaat pelatihan jauh melampaui asumsi konvensional.

Dalam program pelatihan intensif selama 16 minggu, sekitar 12% pegawai lini depan mengikuti pelatihan 120 jam yang mencakup keterampilan teknis—seperti Microsoft Excel, penulisan efektif, dan penetapan tujuan—serta analisis hukum.

Hasilnya mencolok. Produktivitas pegawai meningkat sekitar 10% dalam 12 minggu setelah pelatihan. Namun kejutan sesungguhnya datang dari sisi manajerial. Para manajer yang membawahi karyawan terlatih mencatat peningkatan kinerja hingga 8%, dan secara keseluruhan menyelesaikan 3% lebih banyak target strategis.

Riset Harvard membuktikan pelatihan karyawan bukan sekadar biaya, tetapi investasi strategis yang meningkatkan produktivitas pekerja dan manajer sekaligus.

Penyebabnya sederhana tetapi kerap luput diperhatikan: karyawan yang terlatih menjadi lebih mandiri. Mereka mengirim lebih sedikit email permintaan bantuan kepada atasan. Waktu yang sebelumnya habis untuk menjawab pertanyaan operasional kini dapat dialihkan manajer ke pekerjaan strategis bernilai tinggi.

Christopher T. Stanton dalam Harvard Business Review yang dipublikasikan pekan ini menegaskan, “Nilai tersembunyi dari pelatihan terletak pada bagaimana program ini membuka waktu manajer untuk fokus pada pekerjaan strategis.” Dalam studi tersebut, manfaat waktu manajer menyumbang hampir 45% dari total nilai ekonomi pelatihan.

Dampak jangka panjangnya juga signifikan. Karyawan yang mengikuti pelatihan terbukti lebih loyal dan stabil secara karier. Mereka hampir dua kali lebih mungkin mendapatkan promosi dan lebih bertahan di organisasi dalam tiga tahun berikutnya dibandingkan rekan yang tidak dilatih.

Temuan ini menantang cara lama menghitung return on investment pelatihan. Tanpa memperhitungkan efek limpahan ke manajemen, organisasi harus melatih hampir dua kali lebih banyak karyawan untuk mencapai hasil yang sama.

Di era kecerdasan buatan generatif, temuan ini menjadi semakin relevan. Upskilling kini bisa dilakukan lebih cepat, lebih luas, dan lebih murah dengan dukungan teknologi. Stanton bahkan mengajukan pertanyaan provokatif: jika keterampilan seluruh tim meningkat drastis, apakah organisasi masih membutuhkan struktur manajerial setebal sekarang? Jawabannya, menurut riset ini, kemungkinan besar tidak.


Digionary:

● Employee Upskilling: Proses peningkatan keterampilan karyawan agar mampu menghadapi tuntutan kerja baru
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, data, dan analisis secara mandiri
● Managerial Spillover: Dampak tidak langsung pelatihan karyawan terhadap kinerja manajer
● Return on Investment (ROI): Perbandingan antara manfaat finansial dan biaya investasi
● Strategic Work: Pekerjaan bernilai tinggi yang berorientasi pada perencanaan dan pengambilan keputusan jangka panjang

#PelatihanKaryawan #SDMStrategis #ManajemenModern #ProduktivitasKerja #HRTransformation #Upskilling #FutureOfWork #AIWorkplace #Leadership #ManajemenSDM #BisnisBerkelanjutan #HarvardBusiness #TalentDevelopment #EfisiensiOrganisasi #WorkforceStrategy #DigitalSkills #ManajerEfektif #OrganisasiAdaptif #HumanCapital #CorporateTraining

Comments are closed.