Pemerintah berencana membentuk BUMN tekstil baru untuk memperkuat industri padat karya yang tertekan impor dan tarif global. Investasi US$6 miliar (Rp101 triliun) dari Danantara disiapkan untuk membangun ulang rantai nilai hulu-hilir, dari benang hingga finishing, demi menjaga daya saing dan lapangan kerja.
Fokus:
■ Pemerintah memilih turun tangan langsung membentuk BUMN tekstil sebagai respons atas lemahnya daya saing industri nasional dan derasnya impor murah yang menggerus produsen dalam negeri.
■ Dana US$6 miliar disiapkan Danantara untuk membangun ulang rantai nilai tekstil dari hulu ke hilir, meski imbal hasil investasi diperkirakan tidak setinggi sektor lain.
■ Tekstil diposisikan sebagai industri strategis padat karya, sehingga keberlanjutan sektor ini dinilai krusial bagi stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
Pemerintah akhirnya memilih turun tangan langsung. Setelah bertahun-tahun industri tekstil nasional tertekan impor murah, kebijakan tarif global, dan rapuhnya rantai pasok hulu, negara kini bersiap membentuk kembali BUMN tekstil. Taruhannya besar: bukan hanya soal industri, tetapi jutaan lapangan kerja dan ketahanan ekonomi nasional.
Pemerintah Indonesia berencana menghidupkan kembali peran negara di industri tekstil dengan membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru. Langkah ini diambil untuk merespons tekanan impor, kebijakan tarif perdagangan global, serta melemahnya struktur industri tekstil nasional yang selama ini bergantung pada bahan baku impor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan rencana tersebut merupakan hasil rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang. Pemerintah, kata dia, telah memetakan ulang sektor-sektor industri yang paling rentan terdampak dinamika global, termasuk tekstil, produk tekstil, alas kaki, garmen, dan elektronik.
“Khusus industri tekstil dan produk tekstil, kita lemah di rantai nilai. Terutama produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing. Ini yang harus kita bangkitkan kembali,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, pekan ini.
Airlangga menegaskan, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia pernah memiliki BUMN tekstil yang berperan strategis. “Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali,” katanya.
Namun kebangkitan ini membutuhkan modal besar. Pemerintah memperkirakan investasi awal mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp101,4 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS. Dana tersebut akan disiapkan melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan lembaganya terbuka membiayai investasi strategis meski imbal hasilnya tidak setinggi sektor lain, selama dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja signifikan.
“Kita terbuka untuk menerima investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi. Tekstil salah satu sektor yang dari segi tenaga kerja sangat besar,” ujar Rosan.
Meski demikian, pemerintah belum mengungkap bentuk kelembagaan BUMN tekstil tersebut. Airlangga menekankan, yang dibentuk adalah entitas baru, bukan menghidupkan kembali perusahaan lama yang telah gagal.
Sebagai catatan, Indonesia pernah memiliki PT Industri Sandang Nusantara (Persero) dan PT Primissima (Persero). Industri Sandang Nusantara dinyatakan pailit pada 2024, sementara Primissima merugi bertahun-tahun dan berhenti beroperasi sejak 2020.
Langkah pembentukan BUMN baru ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa pendekatan pasar semata tidak cukup untuk menyelamatkan industri tekstil nasional. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan sektor tekstil dan produk tekstil masih menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja, menjadikannya salah satu industri padat karya terbesar di Indonesia.
Di tengah perlambatan ekonomi global dan eskalasi perang dagang, negara tampaknya memilih kembali memainkan peran sebagai industrial anchor—penopang industri strategis yang dianggap terlalu penting untuk dibiarkan runtuh.
Foto: Liputan6.com
Digionary:
● Danantara: Badan Pengelola Investasi negara yang bertugas mengelola dana strategis untuk pembangunan dan investasi jangka panjang.
● Hulu-hilir: Seluruh rantai proses produksi dari bahan baku hingga produk jadi.
● Padat karya: Industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
● Rantai nilai: Tahapan aktivitas yang menambah nilai ekonomi pada produk.
● Tarif perdagangan: Bea masuk atau kebijakan pajak atas barang impor.
#BUMN #IndustriTekstil #Danantara #InvestasiNegara #EkonomiIndonesia #PerdaganganGlobal #ImporTekstil #PadatKarya #KebijakanIndustri #PrabowoSubianto #AirlanggaHartarto #EkonomiNasional #Manufaktur #RantaiPasok #LapanganKerja #ProteksiIndustri #StrategiNasional #IndustriStrategis #TekstilIndonesia #PasarGlobal
