Dari Uang Tunai Digital ke Simpanan Digital: Arsitektur Baru Yuan Digital China

- 12 Januari 2026 - 11:11

China memasuki fase baru pengembangan mata uang digital bank sentralnya. Mulai Januari 2026, yuan digital atau e-CNY akan memberikan bunga setara simpanan giro, menandai pergeseran dari sekadar uang tunai digital menuju “simpanan digital”. Langkah ini memperkuat adopsi domestik sekaligus membuka peluang ekspansi lintas batas, meski belum secara langsung menantang dominasi dolar AS. Di balik desain teknokratisnya, yuan digital mencerminkan ambisi China membangun infrastruktur keuangan alternatif di tengah fragmentasi geopolitik global.


Fokus Utama:

■ Yuan digital berbunga menandai pergeseran e-CNY dari uang tunai digital menjadi simpanan digital.
■ China membangun infrastruktur pembayaran alternatif tanpa konfrontasi langsung dengan dolar AS.
■ CBDC menjadi arena pertarungan ideologis antara kontrol negara dan inovasi swasta.


Diam-diam, tanpa gempita politik atau deklarasi geopolitik terbuka, China kembali menggeser papan catur sistem moneter global. Mulai Januari 2026, pemegang yuan digital akan menerima bunga—sebuah perubahan mendasar yang mengangkat e-CNY dari sekadar uang tunai elektronik menjadi instrumen simpanan. Bagi Beijing, ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan fondasi arsitektur baru uang digital yang dapat mengubah cara transaksi domestik dan lintas negara berlangsung.


Keputusan People’s Bank of China (PBOC) untuk membuat e-CNY berbunga mengubah karakter dasar mata uang digital tersebut. Dengan imbal hasil yang dikaitkan pada suku bunga simpanan giro, yuan digital kini berfungsi sebagai penyimpan nilai, bukan hanya alat pembayaran. Secara domestik, langkah ini memperkuat daya tarik e-CNY dibandingkan uang tunai maupun dompet digital swasta yang selama ini mendominasi ekosistem pembayaran China.

Secara global, China masih menjadi negara dengan implementasi CBDC paling maju. Sementara Uni Eropa masih berada di fase persiapan euro digital—dengan penerbitan yang diperkirakan belum terjadi sebelum 2030—dan India bergerak lebih hati-hati lewat proyek percontohan, Beijing sudah menguji e-CNY dalam skala besar, termasuk untuk transaksi ritel dan institusional.

Antara De-dolarisasi dan Pendekatan Bertahap

Sebagian pengamat menilai yuan digital sebagai instrumen de-dolarisasi. Namun bukti yang ada menunjukkan pendekatan China jauh lebih pragmatis dan bertahap. E-CNY belum dirancang untuk menggantikan dolar AS, melainkan menawarkan alternatif infrastruktur pembayaran, terutama di jalur perdagangan yang selaras dengan kepentingan China.

Seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan sanksi ekonomi, penggunaan yuan dalam perdagangan lintas negara mulai tumbuh. Perdagangan China–Rusia kini sebagian besar diselesaikan dalam yuan dan rubel. China juga menandatangani kesepakatan penyelesaian perdagangan dengan sejumlah negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar, didukung oleh penguatan sistem pembayaran lintas batas CIPS.

Kasus-kasus sporadis juga bermunculan: perusahaan India menggunakan yuan untuk membeli batu bara Rusia, sementara Bangladesh membayar proyek pembangkit nuklirnya kepada Rusia menggunakan mata uang China. Semua ini menunjukkan diversifikasi mata uang global yang berjalan pelan, tidak merata, dan sangat kontekstual.

Ambisi Digital dan Kontroversi Pengawasan

CBDC adalah jawaban negara terhadap inovasi swasta seperti stablecoin. Jika stablecoin menjanjikan transfer nilai lintas batas yang cepat dan terprogram, CBDC menawarkan kontrol, kedaulatan moneter, dan kepastian regulasi. Dalam Action Plan terbaru, PBOC menegaskan ambisi memperluas penggunaan e-CNY di dalam negeri sekaligus membangun infrastruktur teknis untuk skala besar.

Namun, kritik tak terelakkan. Fitur keterlacakan dan pemrograman yang membuat e-CNY efisien juga membuka ruang pengawasan finansial yang lebih luas oleh negara. Kekhawatiran soal privasi dan otonomi individu terus membayangi, terutama ketika yuan digital diposisikan sebagai tulang punggung sistem pembayaran masa depan.

Operations Center di Shanghai—platform berbasis blockchain untuk penyelesaian lintas batas—menegaskan perubahan orientasi: e-CNY bukan lagi sekadar alat domestik, melainkan lapisan penyelesaian perdagangan internasional.

Kontras Tajam dengan Amerika Serikat

Pendekatan China berbanding terbalik dengan Amerika Serikat. Di Beijing, kripto dan stablecoin dilarang, sementara negara mengembangkan mata uang digital terpusat. Di Washington, justru sebaliknya. Presiden Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif yang melarang penerbitan CBDC AS, dengan alasan stabilitas keuangan, privasi, dan kedaulatan nasional, sembari membuka ruang luas bagi stablecoin swasta.

Perbedaan ini mencerminkan jurang ideologis: China memandang uang digital sebagai instrumen strategis negara, sementara AS menyerahkannya pada dinamika pasar dan inovasi swasta.

Menuju Fase Dewasa CBDC

Meski ambisi globalnya menghadapi hambatan—termasuk mundurnya Bank for International Settlements dari proyek mBridge—CBDC China kini memasuki fase lebih matang. Yuan digital berbunga berpotensi mempercepat adopsi domestik dan memperkuat posisinya dalam perdagangan regional.

Dominasi dolar memang belum tergoyahkan. Namun, dalam koridor-koridor tertentu, dominasi itu mulai tergerus oleh efisiensi, geopolitik, dan kebutuhan praktis. Apakah ini awal dari perubahan struktural sistem moneter global atau sekadar adaptasi sementara, masih menjadi pertanyaan terbuka. Yang jelas, arsitektur uang global sedang dibangun ulang—pelan, teknis, dan sangat politis.


Digionary:

● CBDC: Mata uang digital resmi yang diterbitkan bank sentral.
● CIPS: Sistem pembayaran lintas batas China sebagai alternatif SWIFT.
● De-dolarisasi: Upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
● E-CNY: Versi digital resmi yuan yang diterbitkan PBOC.
● Stablecoin: Aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat.

#YuanDigital #CBDC #KeuanganGlobal #China #DeDolarisasi #DigitalCurrency #E_CNY #CentralBank #FintechGlobal #Moneter #EkonomiDigital #Blockchain #PembayaranDigital #Geopolitik #PerdaganganInternasional #MataUangDigital #PBOC #KeuanganInternasional #EkonomiChina #GlobalFinance

Comments are closed.