Bank Lokal Makin Menarik di Mata Global, Julius Baer Borong 2,8 Miliar Saham Bank Capital

- 9 Januari 2026 - 09:36

Masuknya Bank Julius Baer [biasa ditulis Julius Bar] ke jajaran pemegang saham utama Bank Capital Indonesia menjadi sinyal penting bagi pasar. Di tengah manuver cepat Bank of Singapore yang melepas seluruh sahamnya, bank swasta asal Swiss itu justru memperbesar eksposur hingga menguasai lebih dari seperempat saham BACA. Aksi ini tidak hanya mengerek harga saham, tetapi juga menandai meningkatnya minat investor global terhadap bank kecil-menengah Indonesia di tengah perubahan lanskap perbankan dan likuiditas pasar modal.


Fokus Utama:

■ Pergeseran kepemilikan Bank Capital dari Bank of Singapore ke Julius Baer.
■ Respons pasar terhadap masuknya investor global asal Swiss.
■Peran regulasi BEI dan OJK dalam menjaga transparansi transaksi saham dan repo.


Pergerakan saham PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar euforia pasar. Di balik lonjakan harga, terjadi pergeseran kepemilikan yang menempatkan bank swasta global asal Swiss, Julius Baer, sebagai pemain kunci baru di salah satu bank publik Indonesia.


Perubahan struktur pemegang saham PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) menjadi sorotan pelaku pasar setelah Bank Julius Baer and Co Ltd. memborong 2,8 miliar saham bank tersebut, persis sebanyak saham yang dilepas Bank of Singapore Limited. Transaksi ini mendorong kepemilikan Julius Baer di BACA melonjak dari 10,00% menjadi 24,03%, menjadikannya pemegang saham terbesar kedua.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank of Singapore melepas 2,8 miliar lembar saham atau setara 14,03% kepemilikan pada 24 Desember 2025. Transaksi tersebut dilakukan dengan skema free of payment–transfer out, dengan harga nominal Rp1 per saham.

Tak lama berselang, tepat setelah libur Natal dan perdagangan bursa kembali dibuka, Bank Julius Baer and Co Ltd.—melalui entitasnya yang berbasis di Singapura—menyerap seluruh saham tersebut pada 29 Desember 2025. Langkah cepat ini langsung mengubah peta kepemilikan BACA.

Bank Julius Baer bukan pemain sembarangan. Bank swasta yang bermarkas di Zurich, Swiss, ini merupakan bagian dari Julius Bär Group Ltd., konglomerasi pengelola kekayaan global yang sahamnya tercatat di SIX Swiss Exchange dengan kode BAER. Jaringannya tersebar luas di pusat-pusat keuangan dunia, termasuk Singapura, Hong Kong, dan India—wilayah yang menjadi kantong investor Asia.

Dengan transaksi ini, struktur pemegang saham BACA kini didominasi PT Capital Global Investama yang menggenggam 9,9 miliar saham atau 49,66%. Julius Baer menempati posisi kedua, sementara porsi saham publik atau free float tercatat sebesar 5,04 miliar lembar atau sekitar 25,3%.

Pasar merespons positif manuver tersebut. Berdasarkan data BEI, saham BACA melesat 28,57% dalam sepekan terakhir sebelum penutupan perdagangan 2025, mencapai level Rp234 per lembar.

Sepanjang Desember 2025, saham ini terbang 48,10%, sementara secara year to date menguat 3,64%. Meski sempat terkoreksi 4,20% pada perdagangan Rabu (7/1/2026) ke level Rp228, tren kenaikan sebelumnya mencerminkan meningkatnya minat investor.

Pergerakan ini tak bisa dilepaskan dari episode singkat masuknya Bank of Singapore ke BACA. Pada akhir 2025, bank tersebut menjadi pemegang saham melalui transaksi repurchase agreement (repo) dengan kepemilikan 2,8 miliar saham atau 14,03% hak suara. Namun Bank of Singapore sejak awal menegaskan posisinya.

Dalam laporan kepemilikan saham, Bank of Singapore menyatakan kepemilikan tersebut tidak menjadikannya pemegang saham pengendali, serta tidak memiliki rencana mempertahankan saham maupun mengambil alih pengendalian Bank Capital.

Bursa Efek Indonesia pun meminta klarifikasi atas transaksi repo tersebut. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa dari sisi regulasi, kewajiban pelaporan telah dipenuhi. “Berdasarkan pemantauan Bursa, Capital Global Investama dan Bank of Singapore Limited telah melakukan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 4 Tahun 2024 dan laporan tersebut telah terpublikasi di website Bursa sehingga publik dapat memperoleh informasi tersebut,” kata Nyoman, Rabu (7/1).

Ia juga mengingatkan bahwa ketentuan transaksi repo telah diatur secara jelas dalam POJK Nomor 9/POJK.04/2015. “Dalam aturan tersebut, setiap transaksi repo wajib didasarkan pada perjanjian tertulis yang memuat antara lain hak dan kewajiban para pihak terkait kepemilikan efek, jangka waktu pelaksanaan, serta kewajiban perpajakan,” ujarnya.

Masuknya Julius Baer dinilai sebagai sinyal kepercayaan investor global terhadap prospek bank-bank kecil dan menengah di Indonesia, terutama di tengah konsolidasi perbankan, pengetatan likuiditas global, serta meningkatnya kebutuhan pendanaan sektor riil. Bagi pasar, langkah ini bukan sekadar transaksi saham, melainkan cerminan strategi jangka panjang investor internasional dalam membaca peluang di sektor perbankan nasional.

Sekilas Bank Julius Baer

Bank Julius Baer adalah salah satu nama paling ikonik di dunia perbankan internasional, dikenal terutama sebagai private bank yang fokus pada pengelolaan kekayaan klien berstandar tinggi sejak didirikan pada 1890 di Zurich, Swiss. Selama lebih dari 130 tahun, bank ini tumbuh dari usaha keluarga menjadi grup finansial global yang melayani klien di sekitar 25 negara dan lebih dari 60 lokasi di Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Pendekatan layanan yang bersifat sangat personal dan berlandaskan nilai-nilai perbankan Swiss menjadi ciri khas yang menopang reputasinya di tengah persaingan wealth management dunia.

Pada laporan interim terbaru hingga Oktober 2025, Julius Baer mengelola aset klien hingga sekitar CHF 520 miliar (sekitar US$580 miliar), menegaskan posisi kuatnya di sektor layanan kekayaan global. Saham perusahaan tercatat di SIX Swiss Exchange dengan kode ticker BAER dan menjadi bagian dari indeks SLI yang menampung saham-saham Swiss paling likuid dan bernilai tinggi. Skala aset ini menunjukkan kepercayaan investor besar terhadap model bisnis yang mengutamakan wealth planning, penasihat investasi independen, serta solusi keuangan lintas generasi.

Meski reputasinya solid, Bank Julius Baer juga menghadapi tantangan dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, pada 2025 bank mencatatkan penurunan laba bersih secara year-on-year dan menghadapi penyesuaian kredit besar terkait portofolio tertentu, yang memicu restrukturisasi manajemen risiko. Hal ini terjadi di tengah perubahan strategis yang menekankan penyederhanaan tata kelola, peningkatan fokus pada kebutuhan klien, serta efisiensi operasional. Kondisi ini mencerminkan dinamika yang dihadapi bank-bank besar dunia di era pascapandemi dan volatilitas ekonomi global.

Selain itu, Julius Baer dikenal tidak hanya sebagai lembaga keuangan dengan akar kuat di Swiss tetapi juga sebagai pemain aktif dalam lanskap global wealth management. Bank ini berupaya memperluas layanan di pasar berkembang, terutama di Asia di mana permintaan atas jasa private banking terus meningkat. Keberadaan cabang di pusat keuangan utama seperti Singapura dan Hong Kong mencerminkan strategi untuk mendekatkan layanan kepada klien internasional dengan kebutuhan kompleks dalam pengelolaan aset dan perencanaan kekayaan lintas batas negara.

Foto: Reuters


Digionary:

● BEI: Bursa Efek Indonesia, lembaga penyelenggara perdagangan saham di Indonesia
● Free Float: Saham yang dimiliki publik dan diperdagangkan bebas di bursa
● Julius Bär Group: Grup pengelola kekayaan global asal Swiss
● Kepemilikan Saham: Persentase saham yang dimiliki investor pada suatu emiten
● POJK: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
● Repo (Repurchase Agreement): Transaksi jual beli efek dengan janji beli kembali
● Transfer Out: Pemindahan kepemilikan saham antar pihak
● Year to Date: Pergerakan kinerja sejak awal tahun berjalan

#BankCapital #BACA #JuliusBaer #BankOfSingapore #SahamPerbankan #InvestorAsing #PasarModal #BEI #PerbankanIndonesia #SahamBank #AkuisisiSaham #RepoSaham #SwissBank #GlobalInvestor #FinancialMarket #EquityMarket #BankingSector #Investasi #SahamIndonesia #BisnisKeuangan

Comments are closed.