Memiliki rumah pertama tetap menjadi prioritas utama pasangan suami istri baru, namun tantangan finansial kerap menjadi batu sandungan. Melalui diskusi publik bersama penasihat keuangan syariah, Pinhome menekankan pentingnya disiplin keuangan, kesiapan dana darurat, serta pemilihan skema KPR yang realistis dan transparan. Di tengah naiknya minat terhadap KPR Syariah, strategi pengelolaan arus kas dan pemahaman akad dinilai menjadi kunci agar mimpi memiliki rumah tidak berubah menjadi beban jangka panjang.
Fokus Utama:
■ Kesiapan Finansial Sebelum Rumah: Dana darurat dan tabungan DP menjadi fondasi wajib pasutri baru.
■ KPR Syariah sebagai Alternatif Aman: Kepastian cicilan dan transparansi akad mendorong kenaikan minat.
■ Perencanaan Realistis: Rumah pertama tidak harus ideal, yang terpenting cicilan tidak mengganggu stabilitas keuangan.
Rumah pertama pasutri baru membutuhkan strategi keuangan matang. Pinhome dan penasihat keuangan syariah mengungkap cara aman mengatur keuangan dan memilih KPR yang tepat.
Bagi banyak pasangan suami istri baru, rumah pertama bukan sekadar aset, melainkan simbol awal kehidupan bersama. Namun di balik romantisme itu, keputusan membeli rumah kerap menjadi ujian finansial pertama yang menentukan stabilitas jangka panjang. Tanpa perencanaan matang, cicilan rumah bisa berubah menjadi tekanan ekonomi yang membayangi usia pernikahan.
Kesadaran inilah yang mendorong platform properti digital Pinhome bersama Sharia Financial Advisor Safi Dewi menggelar diskusi daring bertajuk “New Chapter, New Home: Financial Hacks for Newlyweds”. Forum ini membedah secara praktis bagaimana pasutri baru dapat menyusun fondasi keuangan sebelum melangkah ke keputusan besar: membeli rumah pertama.
Safi Dewi menegaskan, kesiapan membeli rumah tidak boleh dimulai dari survei properti, melainkan dari kesehatan keuangan rumah tangga. Salah satu indikator paling mendasar adalah tersedianya dana darurat minimal untuk enam bulan kebutuhan hidup. “Idealnya, dana darurat diselesaikan terlebih dahulu sebelum menabung kebutuhan lain seperti rumah,” ujar Safi.
Selain dana darurat, Safi menekankan pentingnya kesiapan tabungan uang muka (DP) berikut biaya-biaya tambahan yang sering luput diperhitungkan, seperti pajak, notaris, dan administrasi. Kesiapan ini sebaiknya diperkuat dengan tabungan cadangan, proteksi berbasis prinsip syariah, serta kemampuan menjaga tabungan untuk tujuan keuangan lain di luar rumah.
Setelah fondasi keuangan relatif stabil, barulah pasutri disarankan masuk ke tahap perencanaan kepemilikan rumah. Safi mengingatkan bahwa rumah pertama tidak harus ideal. Yang lebih penting adalah kesesuaian cicilan dengan arus kas bulanan, tanpa mengorbankan kebutuhan pokok dan tabungan jangka panjang.
“Tiga hal utama yang perlu dipertimbangkan adalah harga properti, lokasi, dan kemampuan mencicil sesuai kondisi keuangan,” jelasnya.
KPR Syariah Kian Dilirik
Dari sisi pembiayaan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Data internal Pinhome mencatat minat KPR Syariah meningkat +4% pada Semester I 2025 dibandingkan Semester II 2024.
CEO Founder Pinhome Dayu Dara Permata menilai tren ini mencerminkan perubahan preferensi masyarakat yang semakin mengedepankan kepastian dan transparansi.
“KPR Syariah menawarkan kepastian cicilan, akad yang transparan, serta sistem pembiayaan tanpa bunga, sehingga lebih memberikan rasa aman dalam perencanaan jangka panjang,” ujar Dara.
Namun, Safi mengingatkan bahwa KPR Syariah bukan solusi instan jika tidak dipahami secara menyeluruh. Pasutri perlu memahami mekanisme akad sejak awal, mengetahui total harga rumah secara transparan, serta menghitung DP secara realistis dari pos keuangan khusus.
Ia juga menekankan pentingnya memilih bank syariah yang amanah, memiliki skema jelas, dan rekam jejak yang baik.
Peran Platform Digital
Untuk membantu masyarakat menavigasi kompleksitas pembiayaan rumah, Pinhome menyediakan akses ke berbagai mitra perbankan. Saat ini, Pinhome telah bermitra dengan lebih dari 25 bank syariah dan konvensional, termasuk Bank Muamalat, BSI, dan CIMB Niaga Syariah.
Selain itu, tersedia fitur simulasi KPR dan layanan pendampingan pengajuan KPR tanpa biaya.
“Dengan simulasi dan pendampingan ini, calon pembeli bisa memperoleh rekomendasi yang lebih objektif dan sesuai kemampuan finansial mereka,” tutup Dara.
Di tengah tekanan harga properti dan dinamika ekonomi rumah tangga muda, pesan utama diskusi ini jelas: rumah pertama bukan soal cepat memiliki, melainkan soal kesiapan menjaga keseimbangan keuangan dalam jangka panjang.
Digionary:
● Akad: Perjanjian pembiayaan dalam KPR Syariah yang mengatur hak dan kewajiban secara transparan
● Dana Darurat: Tabungan khusus untuk kondisi mendesak, idealnya setara enam bulan kebutuhan
● Down Payment (DP): Uang muka yang dibayarkan di awal pembelian rumah
● KPR Syariah: Pembiayaan rumah berbasis prinsip syariah tanpa bunga
● Prop-tech: Platform teknologi yang memfasilitasi transaksi dan layanan properti
● Simulasi KPR: Perhitungan estimasi cicilan berdasarkan kemampuan finansial
● Tabungan Cadangan: Dana tambahan di luar dana darurat untuk kebutuhan tak terduga
#RumahPertama #PasutriBaru #KPRSyariah #PerencanaanKeuangan #PropertiIndonesia #Pinhome #LiterasiKeuangan #RumahImpian #CicilanRumah #KeuanganKeluarga #DanaDarurat #PropertiDigital #FinansialSyariah #InvestasiProperti #PerbankanSyariah #Properti2026 #KeluargaMuda #KPRIndonesia #AgenProperti #KeuanganSehat
