Riset HBR Ungkap Gen-Z Mulai Tinggalkan Google dan Beralih ke AI untuk Riset Pekerjaan

- 9 Februari 2026 - 22:30

Penelitian terbaru dari Harvard Business Review yang melibatkan 2.500 dewasa muda di AS mengungkap pergeseran fundamental perilaku Gen-Z terhadap Kecerdasan Buatan (AI) di dunia kerja. Alih-alih menggunakannya sebagai “penasihat hidup”, mayoritas Gen-Z justru memprioritaskan produktivitas fungsional, dengan 65% menggunakannya sebagai pengganti mesin pencari dan 50% untuk bantuan tugas kantor. Meski adaptif—bahkan cenderung melanggar aturan larangan AI di kantor—mereka tetap menyimpan kekhawatiran besar terhadap degradasi kognitif dan hilangnya kesempatan pengembangan keterampilan akibat ketergantungan pada mesin.


Fokus:

​■ Pragmatisme Produktivitas: Gen-Z lebih banyak menggunakan AI sebagai alat efisiensi kerja dan riset informasi dibandingkan tujuan sosial atau konsultasi pribadi.
■ Kepatuhan vs Efisiensi: Terdapat kecenderungan “gerilya” teknologi, di mana satu dari enam pekerja muda tetap menggunakan AI meski perusahaan secara eksplisit melarangnya.
■ Paradoks Kecemasan: Meskipun menjadi pengguna paling aktif, Gen-Z khawatir AI akan menyebabkan kemalasan (79%), penurunan kecerdasan (62%), dan terhambatnya transfer ilmu dari mentor manusia.


​Generasi Z, yang sering dianggap sebagai pionir setiap gelombang teknologi baru, kini tengah mendefinisikan ulang masa depan dunia kerja melalui cara mereka berinteraksi dengan Kecerdasan Buatan (AI). Namun, laporan terbaru mengungkap fakta yang memutarbalikkan asumsi banyak pemimpin industri: Gen-Z tidak menggunakan AI sebagai “teman curhat”, melainkan sebagai mesin tempur produktivitas yang pragmatis.

​Laporan yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review (HBR) terhadap hampir 2.500 responden berusia 18 hingga 28 tahun di Amerika Serikat menunjukkan bahwa Gen-Z adalah kelompok yang paling gesit sekaligus paling cemas terhadap kehadiran AI. Studi ini menjadi sinyal penting bagi para pemimpin perusahaan dalam menyusun strategi adopsi teknologi di kantor.

​Bukan Penasihat, Tapi Pengganti Google

​Berseberangan dengan pandangan CEO OpenAI, Sam Altman, yang menyebut anak muda cenderung menggunakan AI sebagai “penasihat kehidupan”, data terbaru justru berkata lain. Sebanyak 65% responden menggunakan AI sebagai alternatif pencarian informasi (menggantikan fungsi Google), sementara 50% lainnya memanfaatkannya langsung untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan. Hanya 32% yang mengaku menggunakan teknologi ini untuk saran hubungan atau keputusan hidup.

​Tren ini menunjukkan bahwa Gen-Z memandang AI sebagai alat bantu teknis untuk mempercepat output kerja. Penggunaan AI untuk penulisan—yang mencapai 46%—sering kali tumpang tindih dengan beban kerja profesional mereka, menciptakan standar efisiensi baru yang belum pernah terlihat pada generasi sebelumnya.

​Budaya “Sneaking AI” dan Tantangan Otoritas

Satu fenomena menarik yang harus diwaspadai para manajer adalah munculnya penggunaan AI secara sembunyi-sembunyi. Satu dari enam pekerja muda mengaku tetap menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas kantor meskipun perusahaan telah mengeluarkan larangan resmi.

​Sifat AI yang mudah diakses melalui gawai pribadi membuat kebijakan restriktif di level korporasi menjadi tumpul. Hal ini mencerminkan bahwa bagi Gen-Z, efisiensi hasil akhir jauh lebih penting daripada prosedur birokrasi yang dianggap usang.

​Ketakutan di Balik Kemudahan

​Meski terlihat sangat nyaman dengan algoritma, Gen-Z menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Mereka sadar akan risiko jangka panjang yang mengintai kemampuan berpikir mereka. Sekitar 79% responden khawatir AI akan membuat manusia lebih malas, dan 62% cemas hal itu akan membuat orang menjadi “kurang cerdas”.

​Kekhawatiran yang paling relevan bagi dunia profesional adalah hilangnya proses belajar. Sebanyak 68% responden takut bahwa dengan menyerahkan tugas kognitif kepada mesin, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membangun keterampilan melalui usaha (learning by doing). Selain itu, 61% merasa AI menghalangi mereka belajar dari sesama rekan kerja atau mentor.

​”Penggunaan AI di tempat kerja menciptakan tantangan sekaligus peluang,” tulis laporan tersebut. Tanpa bimbingan yang tepat, ketergantungan ini berisiko menciptakan generasi pekerja yang unggul secara output cepat, namun rapuh dalam pemecahan masalah yang mendalam.


​Digionary:

​● Adversarial Attack: Serangan yang dimanipulasi untuk menipu sistem AI agar menghasilkan output yang salah.
● Cognitive Input: Usaha mental atau proses berpikir mendalam yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.
● Gen-Z (Generasi Z): Kelompok orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, dikenal sebagai penduduk asli digital (digital natives).
● Harbinger: Pertanda atau sinyal akan adanya sesuatu yang besar yang akan terjadi di masa depan.
● Sneaking AI: Praktik menggunakan alat AI secara diam-diam tanpa persetujuan atau sepengetahuan otoritas kantor.
● Year-on-Year (YoY): Metode perbandingan data keuangan atau statistik pada satu periode dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

#MasaDepanKerja #GenZ #KecerdasanBuatan #Produktivitas #TeknologiKerja #HarvardBusinessReview #DigitalTransformation #AIWorkplace #KarierGenZ #InovasiBisnis #StrategiSDM #BudayaKerja #DigitalNative #AITrends2026 #KepemimpinanDigital #ManajemenTeknologi #KerjaCerdas #FutureOfWork #PekerjaMuda #KeahlianMasaDepan

Comments are closed.