Krisis Kepercayaan Meluas, Eksodus Petinggi Regulator Seret Emiten Konglomerat ke Titik Nadir

- 2 Februari 2026 - 11:40

Pasar modal Indonesia dihantam badai krisis ganda setelah pengunduran diri massal pucuk pimpinan OJK dan BEI yang memicu kepanikan investor, menyebabkan IHSG terjun bebas lebih dari 4% ke level 7.983 pada Senin (2/2/2026). Sentimen negatif ini diperparah oleh rontoknya saham-saham emiten raksasa milik taipan seperti Grup Bakrie, Prajogo Pangestu, dan Happy Hapsoro yang menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB), memaksa pelaku usaha melalui HIPMI mendesak pemerintah segera memulihkan kredibilitas regulator guna menghentikan empat kali trading halt yang terjadi di era Presiden Prabowo.


​Fokus:

■ ​Runtuhnya Pertahanan Indeks: IHSG ambruk 4.15% dalam satu pagi, menyeret kapitalisasi pasar menyusut ke angka Rp 14.395 triliun akibat kekosongan kepemimpinan di otoritas bursa dan tekanan harga komoditas global.
■ ​Koreksi Massal Saham Taipan: Emiten besar seperti BUMI, PTRO, hingga VKTR menyentuh batas penurunan maksimal (ARB), mencerminkan rapuhnya kepercayaan pasar terhadap saham-saham yang selama ini menjadi penggerak indeks.
■ ​Desakan Reformasi Tata Kelola: HIPMI menekankan bahwa mundurnya petinggi OJK adalah momentum krusial untuk mengganti figur lama dengan pimpinan yang independen guna memberantas praktik “saham gorengan” dan menjaga aliran modal produktif.


​IHSG berdarah! Saham konglomerat BUMI, PTRO, hingga BUVA rontok menyentuh ARB. HIPMI desak kepastian usai petinggi OJK mundur massal.


​​Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah menjadi zona merah pekat pada pembukaan perdagangan Senin (2/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar, terjun bebas lebih dari 4% ke level 7.983. Kejatuhan ini bukan sekadar fluktuasi teknis, melainkan cerminan dari runtuhnya psikologi pasar menyusul drama pengunduran diri massal para petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bursa di akhir pekan lalu.

​Data intraday BEI pukul 09.23 WIB menunjukkan IHSG anjlok 4.15% atau setara 345.96 poin. Volume transaksi tercatat mencapai 15.16 miliar saham dengan frekuensi yang sangat padat, yakni 866.77 ribu transaksi. Kapitalisasi pasar yang sempat gagah kini menyusut tajam menjadi Rp 14.395 triliun.

​Eksodus Modal dari Saham Taipan

Pemandangan di papan perdagangan tampak mengerikan bagi para pemegang saham emiten konglomerat. Mulai dari Grup Bakrie, Happy Hapsoro, hingga Prajogo Pangestu, saham-saham mereka tersungkur berjamaah hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).

​PT Bumi Resources Tbk (BUMI) longsor 14,73% ke level Rp220 pada pukul 09.17 WIB. Nasib serupa menimpa PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang anjlok 15% ke Rp680. Tidak ketinggalan, saham di bawah bendera Prajogo Pangestu ikut terbakar; PT Petrosea Tbk (PTRO) menghantam lantai ARB di level Rp6.000, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang anjlok 10% ke Rp1.620, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang terperosok 10,88% ke Rp1.925.

Bahkan emiten milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), menyentuh ARB 14,92% ke Rp1.055, dan PT Pakuan Tbk (UANG) juga ambruk 14,90% ke Rp3.540. Tekanan ini kian berat karena bertepatan dengan penurunan tajam harga emas di pasar spot dunia yang menyeret emiten tambang emas seperti ANTM, ARCI, dan BRMS ikut rontok.

Penurunan tajam ini merupakan kelanjutan dari tekanan sepekan terakhir. Belum genap dua tahun menjabat, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah diuji dengan empat kali trading halt (penghentian sementara perdagangan). Terakhir, bursa membeku saat IHSG rontok 8% ke level 7.654 pada Kamis (29/1). Angka ini menjauh drastis dari level tertinggi 9.134 yang baru saja dicapai pada 20 Januari 2026.

​Desakan Kepastian dari Dunia Usaha

Di tengah ketidakpastian ini, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendesak pemerintah untuk tidak menganggap remeh mundurnya para petinggi OJK. Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, menilai ini adalah momentum krusial untuk memperkuat tata kelola dan kredibilitas regulator.

​“HIPMI menghormati sepenuhnya kewenangan negara dalam proses transisi dan pengisian kepemimpinan OJK. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan kesinambungan kebijakan, penguatan tata kelola, serta komunikasi regulasi yang jelas agar stabilitas pasar dan kepercayaan investor tetap terjaga,” ujar Anggawira dalam keterangan resminya.

​Ia menegaskan bahwa dunia usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan jangka menengah dan panjang, bukan sekadar solusi jangka pendek. HIPMI menekankan bahwa pimpinan OJK ke depan haruslah figur yang berintegritas dan mampu memahami kaitan erat antara pasar modal dan sektor riil.

​Menanti Nahkoda Baru di Tengah Badai

Friderica Widyasari Dewi kini telah ditunjuk sebagai pejabat pengganti untuk mengisi kekosongan kursi kepemimpinan OJK per 31 Januari 2026. Tugasnya berat: meyakinkan investor bahwa bursa Indonesia bukan lagi arena bagi praktik “saham gorengan” yang merugikan.

​Anggawira mengingatkan, “Pasar keuangan yang sehat tidak hanya diukur dari pergerakan indeks, tetapi dari kemampuannya menjadi sumber pembiayaan produktif bagi dunia usaha, khususnya UMKM, startup, dan pelaku industri berbasis inovasi.”

​Kini, pasar menanti apakah delapan jurus reformasi yang disiapkan OJK mampu memadamkan api kepanikan di SCBD ataukah IHSG akan terus terperosok lebih dalam mencari titik nadir baru.


​Digionary:

​● Auto Reject Bawah (ARB): Kebijakan bursa untuk membatasi penurunan harga saham maksimal dalam satu hari agar tidak terjadi kejatuhan yang tak terkendali.
● Free Float: Proporsi saham yang dimiliki oleh publik (di bawah 5%) dan tersedia untuk ditransaksikan di bursa.
● Intraday: Data atau pergerakan harga yang dipantau dalam satu rentang hari perdagangan yang sama.
● JATS (Jakarta Automated Trading System): Sistem perdagangan efek yang terkomputerisasi yang digunakan di BEI untuk mencocokkan pesanan jual dan beli.
● Kapitalisasi Pasar: Nilai total seluruh saham perusahaan yang beredar di bursa berdasarkan harga pasar saat ini.
● Trading Halt: Pembekuan sementara perdagangan bursa saat indeks jatuh sangat dalam (misal 5%) untuk memberikan waktu bagi investor berpikir jernih dan mencegah panic selling.

​#IHSG #BursaEfekIndonesia #SahamKonglomerat #OJK #PrabowoSubianto #Taipan #BakrieGroup #PrajogoPangestu #InvestasiSaham #EkonomiIndonesia #HIPMI #TradingHalt #BUMI #PTRO #VKTR #InvestorRitel #ReformasiPasarModal #GorenganSaham #Danantara #PasarModalIndonesia

Comments are closed.