Tangkis Sentimen Moody’s, Gubernur BI Sebut Ekonomi 2025 Tumbuh Solid 5,11%

- 6 Februari 2026 - 13:50

Bank Indonesia (BI) memberikan respons defensif terhadap keputusan Moody’s Investors Service yang merevisi prospek (outlook) surat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik tetap kokoh, didukung oleh pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5.11% dan inflasi yang terkendali di angka 2.92%. Meskipun pasar bereaksi dengan pelemahan Rupiah ke level Rp 16.800/US$, BI meyakini stabilitas sistem keuangan tetap terjaga melalui likuiditas perbankan yang memadai dan komitmen intervensi pasar untuk meredam volatilitas global.


​Fokus:

■ ​Pembelaan Fundamental Ekonomi: Bank Indonesia menyatakan bahwa revisi outlook Moody’s tidak mencerminkan realitas ekonomi domestik yang justru menunjukkan tren positif pada kuartal IV-2025.
■ ​Tekanan pada Nilai Tukar: Keputusan Moody’s memberikan sentimen negatif instan yang mendorong nilai tukar Rupiah melampaui ambang psikologis Rp 16.800/US$.
■ ​Ketahanan Sektor Keuangan: BI menjamin permodalan perbankan berada pada level tinggi dan risiko kredit tetap rendah meskipun ketidakpastian kebijakan fiskal global meningkat.



​Pasar keuangan domestik sedang diuji oleh “hujan dingin” dari New York. Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service baru saja mengayunkan vonis dengan mengubah prospek (outlook) surat utang Indonesia menjadi negatif. Namun, otoritas moneter di Jalan Thamrin tidak tinggal diam. Bank Indonesia (BI) segera memasang badan, menegaskan bahwa rapor ekonomi nasional sejatinya jauh lebih “hijau” daripada persepsi para analis di luar sana.

​Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam keterangan resminya pada Kamis (5/2/2026), menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penilaian tersebut. Bagi Perry, data berbicara lebih keras daripada sentimen. ​”Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia,” ujar Perry.

​Rapor Biru di Balik Outlook Negatif

​Dasar argumen Perry bukanlah pepesan kosong. Ia membedah capaian ekonomi tahun 2025 yang baru saja berlalu. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian pasar finansial global, ekonomi Indonesia justru berhasil “ngegas” di pengujung tahun.

​”Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar 5.39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5.11%. Inflasi tetap terjaga pada 2.92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia,” tegas Perry.

​Data tersebut menunjukkan bahwa daya beli masyarakat dan aktivitas produksi masih berdenyut kencang. Secara historis, pertumbuhan di atas 5% dengan inflasi di bawah 3% adalah kombinasi langka yang menjadi idaman banyak negara berkembang saat ini.

​Rupiah Terjepit, Perbankan Tetap Solid

​Meski demikian, pasar tetaplah pasar. Sentimen “negatif” dari Moody’s langsung merambat ke layar-layar trading. Nilai tukar Rupiah terpantau loyo, menembus angka Rp 16.800/US$ pada penutupan perdagangan. Pelemahan ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia, terutama terkait ambisi belanja pemerintah baru.

​Namun, BI melihat stabilitas tidak hanya dari satu angka nilai tukar. Perry meyakinkan bahwa benteng pertahanan sektor keuangan Indonesia masih sangat tebal. Likuiditas perbankan disebutnya sangat memadai untuk memitigasi risiko penarikan modal asing secara tiba-tiba (capital outflow).

​”Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah,” tambah Perry.

​Kini, tugas BI menjadi lebih berat. Mereka tidak hanya harus menjaga stabilitas moneter di dalam negeri, tapi juga meyakinkan dunia bahwa “lampu kuning” dari Moody’s hanyalah gangguan teknis di tengah fondasi ekonomi yang masih sekeras batu karang.


​Meta Deskripsi:
Bank Indonesia tangkis sentimen negatif Moody’s. Gubernur BI Perry Warjiyo tegaskan fundamental RI solid dengan ekonomi tumbuh 5.11% di tengah tekanan Rupiah.

​Digionary:
● Capital Outflow: Aliran modal keluar dari suatu negara karena investor memindahkan asetnya ke luar negeri.
● Fundamental Ekonomi: Indikator utama yang menunjukkan kesehatan ekonomi suatu negara, seperti PDB, inflasi, dan neraca pembayaran.
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.
● Likuiditas: Kemampuan bank atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dengan aset lancar.
● Outlook: Proyeksi atau pandangan masa depan mengenai kondisi ekonomi atau kredit.
● Surat Utang (Bond): Instrumen investasi di mana investor meminjamkan uang kepada pemerintah dengan imbalan bunga.

#BankIndonesia #PerryWarjiyo #Moodys #EkonomiRI2026 #RupiahHariIni #Investasi #FundamentalEkonomi #PasarModal #Fiskal #Moneter #BeritaEkonomi #KursRupiah #PertumbuhanEkonomi #Inflasi #StabilitasKeuangan #SuratUtang #Bonds #RatingAgency #GlobalEconomy #EkonomiNasional

Comments are closed.