Sepanjang 2025, perbankan Indonesia menghadapi paradoks klasik: likuiditas berlimpah, tetapi kredit bergerak lamban. Meski berbagai insentif moneter dan fiskal digelontorkan—dari relaksasi likuiditas hingga penempatan dana pemerintah—bank tetap menahan gas. Kehati-hatian terhadap risiko, lemahnya kredit modal kerja, dan ketimpangan pembiayaan antara korporasi besar dan UMKM membuat transmisi kebijakan ke sektor riil berjalan tidak secepat yang diharapkan.
Fokus utama:
- perlambatan kredit terjadi meski likuiditas perbankan relatif longgar
- ketimpangan pembiayaan makin terasa antara korporasi besar dan umkm
- bauran kebijakan moneter-fiskal belum sepenuhnya menembus sektor riil
Tahun 2025 menjadi cermin kehati-hatian industri perbankan nasional. Kredit memang masih tumbuh secara tahunan, namun lajunya terus melambat dari bulan ke bulan. Di balik neraca yang tampak sehat dan rasio likuiditas yang longgar, bank memilih bersikap selektif, terutama terhadap kredit produktif jangka pendek.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren yang konsisten: sejak awal tahun hingga November 2025, pertumbuhan kredit membentuk pola menurun secara year on year. Ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan refleksi dari kombinasi permintaan yang melemah, transmisi kebijakan yang tidak mulus, serta fokus bank menjaga kualitas aset.
Awal Tahun: Kredit Masih Dua Digit, Risiko Mulai Terasa
Januari 2025 dibuka dengan pertumbuhan kredit 10,27% yoy menjadi Rp7.782 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih moderat, 5,51% yoy, didorong oleh dana giro. Di atas kertas, likuiditas terlihat aman.
Namun sinyal kehati-hatian sudah muncul. Rasio kredit bermasalah (npl) gross tercatat 2,18% dan npl net 0,75%, relatif terkendali. Yang menarik perhatian justru lonjakan loan at risk (lar) ke 9,72%. Angka ini menjadi peringatan dini bagi bank untuk tidak agresif, terutama pada sektor dengan profil risiko tinggi.
Februari 2025, kredit kembali menembus dua digit, tumbuh 10,30% yoy. Kredit investasi melesat 14,62%, disusul kredit konsumsi 10,31%. Sebaliknya, kredit modal kerja tertahan di 7,66%. Dari sisi debitur, jurang terlihat jelas: kredit korporasi melonjak 15,95%, sementara kredit umkm hanya tumbuh 2,51%.
Kuartal I dan II: Investasi Dominan, Modal Kerja Tertahan
Memasuki Maret, laju kredit turun ke 9,16% yoy dan terus melandai pada April dan Mei. Hingga Juni 2025, pertumbuhan kredit tinggal 7,77% yoy. Polanya konsisten: kredit investasi tetap menjadi motor utama dengan pertumbuhan dua digit, sementara kredit modal kerja stagnan di kisaran 4%–5%.
Ini mencerminkan sikap bank yang lebih nyaman membiayai proyek jangka panjang berprofil risiko lebih terukur, dibandingkan pembiayaan modal kerja yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi. Kredit umkm nyaris tak bergerak, tertahan di sekitar 2%.
Kuartal III dan IV: Likuiditas longgar, Kredit Tetap Selektif
Pada Juli 2025, pertumbuhan kredit turun ke 7,03% yoy—jauh dari capaian Juli 2024 yang menembus 12,40%. Meski sempat menguat tipis pada Agustus dan September, tren besarnya tetap datar.
Ironisnya, likuiditas perbankan justru berada pada level sangat longgar. Liquidity Coverage Ratio (lcr) tercatat 202,62%, sementara Loan to Deposit Ratio (ldr) sekitar 86%. Artinya, dana tersedia, tetapi tidak sepenuhnya disalurkan.
Oktober dan November 2025 mempertegas paradoks ini. Kredit modal kerja tumbuh sangat terbatas, hanya 2,39% yoy pada Oktober. Kredit investasi kembali mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 15,72%. BI juga mencatat undisbursed loan mencapai Rp2.509,4 triliun—plafon kredit ada, realisasi tertahan.
Bauran Kebijakan: Banyak, Tapi Transmisi Terbatas
Sejak akhir 2024, Bank Indonesia memproyeksikan kredit 2025 tumbuh 11%–13%. Untuk mendukung target itu, BI memperluas insentif likuiditas makroprudensial, menaikkan plafonnya dari Rp259 triliun menjadi Rp283 triliun.
“Dan semakin banyak bank yang akan menerima insentif likuiditas dan jumlahnya lebih besar,” kata Perry saat itu.
Selain itu, BI mempertahankan pelonggaran rasio penyangga likuiditas makroprudensial (plm) dan kebijakan uang muka 0% untuk kredit properti dan otomotif. “Rasio penyangga likuiditas Makroprudensial [PLM] tetap longgar dan pula kebijakan uang muka kredit 0% tetap berlaku untuk kredit properti dan kredit otomotif,” sebut Perry.
BI juga menurunkan suku bunga acuan ke level 4,75% sepanjang 2025, serta mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui blueprint sistem pembayaran indonesia 2025–2030, termasuk penguatan bi-fast dan modernisasi bi-rtgs.
Dari sisi fiskal, pemerintah menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (sal) sekitar Rp200 triliun ke perbankan sepanjang 2025. Dana ini menjadi bantalan likuiditas, terutama menjelang akhir tahun saat tekanan pendanaan meningkat.
UMKM Masih Tertinggal, KUR Jadi Penyangga
Di tengah sikap selektif perbankan, kredit program menjadi salah satu penopang utama. Hingga Agustus 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (kur) mencapai Rp180,01 triliun kepada 3,07 juta debitur.
Meski demikian, kontribusi kur belum cukup untuk mengangkat pertumbuhan kredit umkm secara agregat. Ketimpangan pembiayaan tetap menjadi pekerjaan rumah terbesar industri perbankan.
Penutup: Likuiditas Ada, Keberanian yang Kurang
Kaleidoskop perbankan 2025 menunjukkan satu hal yang jelas: masalahnya bukan ketersediaan dana, melainkan keberanian menyalurkan kredit di tengah risiko dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya. Selama bank lebih fokus menjaga kualitas aset ketimbang memperluas pembiayaan produktif, kredit akan terus berjalan tertatih—meski likuiditas melimpah.
Digionary:
● bi-fast: sistem pembayaran ritel cepat yang dikembangkan bank indonesia
● dpk: dana pihak ketiga yang dihimpun bank dari masyarakat
● kredit investasi: pembiayaan jangka menengah-panjang untuk proyek atau aset produktif
● kredit modal kerja: kredit jangka pendek untuk mendukung operasional usaha
● kur: kredit usaha rakyat bersubsidi untuk umkm
● lar: loan at risk, indikator kredit berisiko
● lcr: liquidity coverage ratio, rasio ketahanan likuiditas jangka pendek
● ldr: loan to deposit ratio, rasio penyaluran kredit terhadap dana
● npl: non-performing loan atau kredit bermasalah
● plm: penyangga likuiditas makroprudensial
● sal: saldo anggaran lebih pemerintah
● undisbursed loan: plafon kredit yang belum ditarik debitur
#perbankan #kreditbank #likuiditas #bankindonesia #ojk #ekonominasional #kreditumkm #kreditinvestasi #danapihakketiga #kebijakanmoneter #kebijakanfiskal #sukubunga #bi_fast #kur #stabilitassistemkeuangan #ksski #digitalbank #ekonomiriil #pembiayaan #kaleidoskop2025
