Dari Cybersecurity ke Digital Trust: Jalan Indonesia Menjaga Kepercayaan Ekonomi Digital

- 2 Januari 2026 - 16:52

Investasi keamanan siber di Indonesia melonjak tajam dan melampaui rata-rata Asia Pasifik serta global. Di tengah geopolitik yang kian rapuh, ancaman AI, dan maraknya deepfake, hasil PwC Global Digital Trust Insights 2026 menunjukkan satu kesimpulan penting: keamanan siber tak lagi sekadar urusan teknologi, melainkan fondasi kepercayaan bisnis digital. Di sinilah peran baru Digital Ecosystem Trust Advisor menjadi krusial—penjaga kepercayaan lintas teknologi, manusia, dan tata kelola di era ekonomi digital yang semakin kompleks.


Fokus Utama:

  1. Munculnya kebutuhan Digital Ecosystem Trust Advisor sebagai penjaga kepercayaan ekonomi digitaljudul alternatif
  2. Keamanan siber naik kelas menjadi agenda strategis direksi dan fondasi ketahanan bisnis
  3. AI mempercepat inovasi sekaligus melahirkan risiko baru seperti malware cerdas dan deepfake

Keamanan siber kini bukan lagi isu teknis yang bisa diserahkan sepenuhnya kepada tim IT. Di Indonesia, ia telah naik kelas menjadi agenda strategis direksi. Temuan terbaru PwC dalam laporan Global Digital Trust Insights 2026 menunjukkan, hampir 68% pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia menempatkan investasi risiko siber sebagai tiga prioritas strategis teratas mereka untuk satu tahun ke depan. Angka ini melampaui rata-rata Asia Pasifik sebesar 62% dan global 61%.

Lonjakan perhatian tersebut mencerminkan kesadaran baru: kepercayaan digital adalah mata uang paling berharga dalam ekonomi berbasis data. Ketika layanan keuangan, logistik, kesehatan, hingga pemerintahan semakin bergantung pada ekosistem digital yang saling terhubung, satu celah kecil pada sistem dapat berdampak sistemik.

Survei PwC yang melibatkan 3.887 eksekutif di 72 negara—termasuk Indonesia—menggambarkan lanskap ancaman yang semakin kompleks. Bukan hanya serangan siber konvensional, tetapi juga risiko baru yang dipicu kecerdasan buatan, disrupsi geopolitik, hingga manipulasi sosial berbasis deepfake.

Sean Joyce, PwC US Global Cybersecurity and Privacy Leader, menegaskan bahwa dunia berada di titik balik. “Teknologi baru, ekosistem digital yang saling terhubung, dan lanskap ancaman yang terus berevolusi telah menciptakan tipping point. Pemimpin keamanan siber harus menyusun arah baru, dan itu membutuhkan keselarasan di level eksekutif,” ujarnya.

Menurut Joyce, organisasi yang akan memimpin ke depan adalah mereka yang tidak hanya bereaksi terhadap serangan, tetapi mampu mengantisipasi risiko sejak dini. “Resiliensi lahir dari foresight, bukan hindsight,” katanya.

Indonesia terlihat lebih agresif dalam pendekatan ini. Sebanyak 34% organisasi di Tanah Air tercatat meningkatkan belanja pada strategi keamanan siber proaktif—mulai dari pemantauan berkelanjutan, penilaian risiko, uji penetrasi, hingga penguatan tata kelola dan pelatihan karyawan. Angka ini jauh di atas Asia Pasifik sebesar 22% dan global 24%.

Namun, cerita keamanan siber Indonesia tidak berhenti pada teknologi. Ketidakpastian geopolitik global ikut mendorong perubahan kebijakan internal perusahaan. Sekitar 47% organisasi di Indonesia memprioritaskan penyesuaian kebijakan perdagangan dan operasional, sementara 45% mengubah kebijakan asuransi siber mereka. Proporsi ini lebih tinggi dibandingkan Asia Pasifik maupun global.

Perubahan ini menandai pergeseran besar: keamanan siber telah menjadi tuas ketahanan bisnis, bukan sekadar fungsi proteksi digital.

Di sisi lain, krisis talenta masih menjadi ganjalan utama. Keterbatasan tenaga ahli keamanan siber membuat banyak organisasi beralih ke kecerdasan buatan dan machine learning. Di Asia Pasifik, 55% perusahaan menjadikan AI sebagai prioritas utama untuk menutup kesenjangan talenta, diikuti 53% secara global.

Ironisnya, AI juga menghadirkan ancaman baru. Malware berbasis AI dikhawatirkan oleh 65% organisasi di Asia Pasifik, sementara serangan rantai pasok berbasis AI mencemaskan 64%. Deepfake yang digunakan untuk rekayasa sosial pun muncul sebagai ancaman serius, terutama dalam konteks penipuan keuangan dan pencurian identitas.

Subianto, Chief Digital & Technology Officer PwC Indonesia, menyebut AI sebagai pedang bermata dua. “AI otonom berkembang dari alat analitik menjadi penjaga proaktif yang mampu merespons ancaman dan berkolaborasi dengan tim manusia. Namun teknologi yang sama juga mendorong munculnya deepfake dan malware berbasis AI yang semakin sulit dideteksi,” ujarnya.

Dalam lanskap inilah, peran baru mulai mengemuka: Digital Ecosystem Trust Advisor. Bukan sekadar Chief Information Security Officer tradisional, peran ini berada di persimpangan teknologi, bisnis, risiko, dan etika. Ia bertugas memastikan bahwa kepercayaan tertanam di seluruh rantai nilai digital—dari desain produk, pengelolaan data, pemanfaatan AI, hingga hubungan dengan mitra dan pelanggan.

Ke depan, organisasi tidak cukup hanya memiliki sistem yang aman. Mereka membutuhkan penasihat yang mampu membaca arah risiko lintas ekosistem, menjembatani kepentingan bisnis dan tata kelola, serta memastikan bahwa inovasi digital berjalan seiring dengan kepercayaan publik.

Indonesia, dengan tingkat adopsi digital yang tinggi dan ambisi ekonomi digital yang besar, berada di persimpangan penting. Investasi keamanan siber yang agresif memberi fondasi kuat. Tantangannya kini adalah memastikan kepercayaan digital dikelola secara strategis—bukan reaktif. Di situlah Digital Ecosystem Trust Advisor akan menjadi figur sentral dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional.

Safaruddin Husada, Chief Editor/Co-Founder digitalbank.id


Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia dalam menganalisis, memprediksi, dan mengambil keputusan
● Cyber Insurance: Produk asuransi yang melindungi organisasi dari kerugian finansial akibat insiden siber
● Deepfake: Teknologi manipulasi audio atau visual berbasis AI yang sulit dibedakan dari konten asli
● Digital Ecosystem Trust Advisor: Peran strategis yang memastikan kepercayaan, keamanan, dan tata kelola dalam ekosistem digital
● Endpoint Security: Sistem perlindungan perangkat pengguna seperti laptop, ponsel, dan server dari ancaman siber
● Penetration Testing: Metode uji keamanan dengan mensimulasikan serangan untuk menemukan celah sistem
● Proactive Cybersecurity: Pendekatan keamanan yang berfokus pada pencegahan dan antisipasi risiko


#keamanansiber #digitaltrust #AIsecurity #deepfake #cyberrisk #ekonomidigital #PwCInsights #cyberresilience #datatrust #governance #digitalsecurity #trustadvisor #transformasidigital #cyberstrategy #AIrisks #kepercayaanpublik #teknologidigital #bisnisdigital #cybergovernance #indonesiadigital


Comments are closed.