Lonjakan biaya hidup di Amerika Serikat kini tidak lagi hanya menghantam kelompok berpenghasilan rendah. Survei terbaru Goldman Sachs menunjukkan 40% warga Amerika dengan pendapatan di atas US$300 ribu [Rp5,25 miliar] per tahun atau Rp435 juta per bulan masih hidup dari gaji ke gaji. Kenaikan tajam biaya rumah, pendidikan, kesehatan, hingga utang konsumtif membuat tekanan finansial meluas ke kelas menengah atas dan kelompok kaya, memunculkan kekhawatiran baru terhadap daya tahan ekonomi rumah tangga Amerika dalam jangka panjang.
Digi-Highlights:
■ Goldman Sachs menemukan 40% warga AS bergaji di atas US$300 ribu tetap kesulitan menabung akibat biaya hidup yang melonjak.
■ Beban rumah, pendidikan, kesehatan, dan childcare naik jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan upah masyarakat Amerika.
■ Generasi muda AS menjadi kelompok paling rentan karena utang tinggi, harga rumah mahal, dan tekanan pensiun jangka panjang.
Pendapatan besar ternyata tidak lagi menjamin rasa aman secara finansial di Amerika Serikat. Bahkan bagi mereka yang berpenghasilan miliaran rupiah per tahun, tekanan ekonomi tetap terasa nyata.
Survei terbaru Goldman Sachs Asset Management mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: sekitar 40% warga Amerika dengan pendapatan di atas US$300 ribu per tahun mengaku masih hidup dari gaji ke gaji atau paycheck to paycheck.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam struktur ekonomi rumah tangga Amerika. Tekanan biaya hidup kini tidak lagi identik dengan kelompok berpenghasilan rendah, tetapi mulai menjalar ke kelas menengah atas dan kelompok kaya.
Dalam laporan bertajuk 2025 Retirement Survey & Insights Report, Goldman Sachs menyebut masyarakat Amerika sedang menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “financial vortex” atau pusaran tekanan finansial. Kombinasi inflasi berkepanjangan, biaya perumahan, kesehatan, pendidikan, hingga utang konsumtif disebut semakin menggerus kemampuan masyarakat untuk membangun tabungan jangka panjang.
“Laporan tersebut disampaikan secara terus terang: menabung lebih banyak ‘mungkin bukan pilihan bagi banyak orang.’”
Data Goldman Sachs memperlihatkan kenaikan biaya hidup di AS dalam dua dekade terakhir berlangsung jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Biaya kepemilikan rumah misalnya, naik dari 21% pendapatan rumah tangga pada 2000 menjadi sekitar 36% pada 2025. Biaya sewa rumah meningkat dari 18% menjadi 29%, sementara biaya childcare melonjak dari 10% menjadi 25%.
Tekanan terbesar juga muncul dari sektor pendidikan dan kesehatan. Biaya kuliah swasta naik dari 9% menjadi 33% dari pendapatan rumah tangga, sedangkan premi asuransi kesehatan keluarga melonjak dari 12% menjadi 33%.
Artinya, meskipun pendapatan masyarakat naik, ruang untuk menabung justru semakin menyempit. Fenomena ini menjadi alarm baru bagi ekonomi Amerika. Selama bertahun-tahun, pendapatan tinggi dianggap cukup untuk menjaga kualitas hidup dan keamanan finansial. Namun kini, gaya hidup mahal di kota besar, harga properti yang terus naik, serta inflasi layanan dasar membuat bahkan kelompok elite pun mulai mengalami tekanan likuiditas.
Survei Goldman Sachs menunjukkan 67% responden mengaku pengeluaran bulanan menjadi hambatan utama dalam menabung untuk pensiun. Sebanyak 64% menyebut tekanan keuangan sehari-hari semakin berat, sementara 58% terbebani utang kartu kredit.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling terdampak. Lebih dari 75% milenial dan lebih dari 70% Gen Z mengaku prioritas kebutuhan hidup saat ini membuat mereka sulit mempersiapkan dana pensiun. Sebaliknya, hanya sekitar 30% generasi Baby Boomers yang mengalami tekanan serupa.
Kondisi tersebut ikut mengubah pola sosial masyarakat Amerika. Usia pernikahan pertama meningkat, kepemilikan rumah semakin tertunda, dan banyak keluarga memilih menunda memiliki anak karena biaya hidup yang terus membengkak.
Di sisi lain, muncul paradoks psikologis dalam masyarakat Amerika. Sebanyak 68% responden merasa kondisi pensiun mereka berada di jalur aman dan optimistis dapat mencapai target finansial masa tua.
Namun secara bersamaan, 58% responden percaya mereka tetap berpotensi kehabisan uang saat pensiun.
Goldman Sachs menyebut fenomena ini sebagai optimism gap, yakni jurang antara rasa percaya diri masyarakat dengan realitas matematis keuangan jangka panjang.
Menariknya, kelompok pensiunan justru melaporkan kondisi yang relatif lebih stabil dibanding generasi pekerja aktif. Rata-rata pensiunan menerima sekitar 60% dari pendapatan sebelum pensiun, sementara 71% merasa puas dengan kondisi keuangan mereka.
Data itu memperlihatkan bahwa tantangan terbesar ekonomi Amerika saat ini bukan sekadar soal pendapatan, tetapi ketahanan finansial rumah tangga menghadapi inflasi jangka panjang.
Sejumlah ekonom menilai kondisi ini juga berkaitan dengan perubahan model ekonomi Amerika dalam dua dekade terakhir. Pertumbuhan harga aset seperti rumah, pendidikan, dan layanan kesehatan berlangsung jauh lebih agresif dibanding kenaikan upah riil pekerja.
Federal Reserve sebelumnya juga mencatat utang kartu kredit rumah tangga Amerika telah melampaui US$1,3 triliun pada awal 2026, menjadi level tertinggi sepanjang sejarah. Sementara tingkat tunggakan pinjaman konsumen mulai meningkat sejak era suku bunga tinggi pascapandemi.
Goldman Sachs menilai strategi finansial masyarakat kini harus berubah total.
“Ekonomi pensiun yang baru menuntut tabungan yang lebih awal dan lebih stabil, nasihat yang dipersonalisasi, pilihan pendapatan seumur hidup yang terlindungi, dan strategi yang memperhitungkan kenaikan biaya dan masa pensiun yang lebih panjang.”
Bagi banyak warga Amerika, pesan tersebut semakin relevan: pendapatan tinggi mungkin masih penting, tetapi di era biaya hidup yang terus melonjak, itu tidak lagi cukup untuk menjamin rasa aman finansial. ●
Digi-Insights:
■ Temuan Goldman Sachs menunjukkan perubahan struktural penting dalam ekonomi modern: pendapatan tinggi tidak lagi identik dengan keamanan finansial. Ketika 40% warga Amerika dengan penghasilan di atas US$300 ribu masih hidup dari gaji ke gaji, masalah utamanya bukan semata besaran pendapatan, melainkan inflasi biaya hidup yang jauh melampaui pertumbuhan aset likuid rumah tangga. Rumah, pendidikan, kesehatan, dan childcare kini berubah menjadi “fixed cost economy” — biaya wajib yang terus membesar dan sulit ditekan. Ini menandakan kelas menengah atas global mulai mengalami erosi kapasitas akumulasi kekayaan, sebuah fenomena yang sebelumnya hanya terjadi pada kelompok berpenghasilan rendah.
■ Banyak rumah tangga Amerika sebenarnya kaya secara aset, tetapi miskin secara arus kas. Nilai rumah, saham, dan investasi mungkin naik, tetapi pengeluaran bulanan tumbuh lebih agresif dibanding pendapatan disposable. Inilah paradoks ekonomi baru Amerika: masyarakat terlihat makmur di atas kertas, tetapi semakin rapuh secara likuiditas. Kondisi ini berbahaya bagi ekonomi jangka panjang karena konsumsi domestik AS selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan global. Ketika kelompok berpendapatan tinggi mulai menahan belanja, memperlambat investasi keluarga, dan mengurangi konsumsi discretionary, efek perlambatan dapat menjalar ke sektor properti, ritel, otomotif, hingga teknologi.
■ Tekanan finansial terbesar justru menghantam milenial dan Gen Z, generasi yang masuk ke pasar kerja saat harga rumah, pendidikan, dan biaya hidup berada di level tertinggi dalam sejarah modern. Berbeda dengan generasi Baby Boomers yang menikmati era properti murah dan pertumbuhan ekonomi tinggi, generasi muda kini harus membangun kekayaan di tengah utang pendidikan, bunga tinggi, dan biaya hidup perkotaan yang semakin mahal. Akibatnya, banyak generasi muda kehilangan kemampuan membangun aset lebih awal. Jika kondisi ini berlangsung panjang, dunia berisiko menghadapi krisis mobilitas sosial baru: pendapatan meningkat, tetapi peluang untuk benar-benar menjadi sejahtera justru semakin mengecil.
Digionary:
● Baby Boomers: Generasi kelahiran pasca-Perang Dunia II yang kini memasuki usia pensiun.
● Childcare: Biaya pengasuhan dan perawatan anak yang dibayar keluarga.
● Federal Reserve: Bank sentral Amerika Serikat yang mengatur kebijakan moneter dan suku bunga.
● Financial Vortex: Istilah untuk menggambarkan pusaran tekanan finansial akibat kenaikan biaya hidup dan utang.
● Gen Z: Generasi yang lahir sekitar akhir 1990-an hingga awal 2010-an.
● Inflation: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu.
● Millennials: Generasi kelahiran awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an.
● Mortgage: Kredit atau pinjaman pembelian rumah atau properti.
● Optimism Gap: Kesenjangan antara optimisme finansial masyarakat dengan realitas kondisi keuangan sebenarnya.
● Paycheck to Paycheck: Kondisi ketika seseorang bergantung pada gaji berikutnya untuk memenuhi kebutuhan hidup rutin.
● Retirement Fund: Dana yang dipersiapkan seseorang untuk kebutuhan masa pensiun.
● Utang Konsumtif: Utang yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi seperti kartu kredit atau cicilan barang.
#GoldmanSachs #EkonomiAS #BiayaHidup #AmerikaSerikat #Inflasi #PaycheckToPaycheck #KrisisKeuangan #UtangRumahTangga #Milenial #GenZ #Pensiun #EkonomiGlobal #BiayaPendidikan #HargaRumah #KartuKredit #FinancialStress #FederalReserve #MiddleClass #Resesi #KeuanganPribadi
