Laba Bank Mega Melesat 28% Menjadi Rp3,36 Triliun di Tengah Ekspansi Kredit yang Melambat

- 11 Februari 2026 - 08:04

PT Bank Mega Tbk (MEGA) berhasil membukukan laba bersih Rp3,36 triliun pada tahun buku 2025, melonjak 28% secara tahunan (year-on-year) di tengah pertumbuhan kredit yang melandai. Kunci performa bank milik Chairul Tanjung ini terletak pada lonjakan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang meroket 54% serta disiplin efisiensi operasional. Meski penyaluran kredit hanya tumbuh tipis 4%, Bank Mega menjaga fundamental yang sangat tebal dengan rasio permodalan (CAR) di level 30,49%, mempertegas posisinya sebagai salah satu bank paling sehat dan efisien di industri perbankan nasional.


Fokus:

​■ Efisiensi & Komisi: Laba didorong oleh fee-based income sebesar Rp2,79 triliun dan rasio BOPO yang ditekan hingga 69,12%.
■ Kredit Konservatif: Penyaluran kredit tumbuh lambat sebesar 4% menjadi Rp67,23 triliun, dengan fokus utama pada sektor korporasi (69%).
■ Likuiditas Melimpah: Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 14%, menyebabkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level rendah 64,48%.


​PT Bank Mega Tbk (MEGA) membuktikan bahwa pertumbuhan laba tidak selalu harus bergantung pada ekspansi kredit yang agresif. Sepanjang tahun 2025, bank besutan konglomerat Chairul Tanjung ini berhasil mencetak laba bersih Rp3,36 triliun, tumbuh signifikan 28% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,63 triliun.

​Pencapaian ini tergolong anomali positif mengingat fungsi intermediasi perseroan cenderung konservatif. Di saat sejumlah bank jumbo memacu kredit hingga dua digit, Bank Mega hanya mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 4% menjadi Rp67,23 triliun. Strategi ini menunjukkan pergeseran fokus manajemen ke arah pendapatan non-bunga dan pengelolaan risiko yang sangat ketat.

​Dominasi Pendapatan Komisi dan Efisiensi

​Lonjakan laba Bank Mega justru bersumber dari “mesin” fee-based income yang melompat 54% menjadi Rp2,79 triliun. Corporate Secretary Bank Mega, Christiana M. Damanik, mengungkapkan bahwa efisiensi operasional yang disiplin menjadi pilar pendukung utama.

​”Pencapaian ini merupakan suatu hal yang disyukuri oleh Bank Mega, karena mampu diraih di situasi kondisi perekonomian relatif cukup menantang,” ujar Christiana dalam keterangannya, Selasa (10/2).

Kedisiplinan tersebut tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang terjaga di level 69,12%, angka yang jauh di bawah rata-rata industri, menandakan efisiensi yang sangat tinggi.

​Fundamental Kokoh, Likuiditas Berlebih

​Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mega mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 14% menjadi Rp104,13 triliun. Tingginya pertumbuhan simpanan yang tidak dibarengi dengan agresivitas kredit membuat rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) perseroan turun ke level 64,48%.

Meskipun likuiditas melimpah, perseroan tetap mampu menjaga Net Interest Margin (NIM) di level 4,18%. Kualitas aset juga tetap prima dengan NPL Gross sebesar 1,65%, jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5%.

​Strategi Bertahan di Era Suku Bunga Tinggi

​Keberhasilan Bank Mega mempertahankan cost of fund (biaya dana) yang kompetitif di tengah lingkungan suku bunga tinggi menjadi katalis penting bagi profitabilitas. Dengan CAR mencapai 30,49%, Bank Mega memiliki bantalan modal yang sangat tebal untuk melakukan ekspansi kapanpun kondisi ekonomi membaik atau melakukan aksi korporasi strategis.

​Namun, rendahnya LDR menunjukkan tantangan dalam penyaluran dana ke sektor produktif. Kedepannya, tantangan Bank Mega adalah mengoptimalkan likuiditas yang melimpah tersebut agar tidak sekadar mengendap, melainkan mampu menghasilkan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.


​Digionary:

​● Fee-Based Income: Pendapatan bank yang berasal dari komisi, biaya administrasi, dan jasa layanan, bukan dari bunga kredit.
● CASA (Current Account Saving Account): Dana murah yang terdiri dari tabungan dan giro; semakin besar porsinya, semakin rendah biaya dana bank.
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Indikator kemampuan bank dalam menutup risiko kerugian aset dengan modal sendiri.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah; indikator utama kualitas pemberian pinjaman bank.
● BOPO: Rasio yang mengukur efisiensi bank; semakin rendah rasionya, semakin efisien bank beroperasi.

​#BankMega #KinerjaPerbankan #Chairul Tanjung #LabaBank #EkonomiIndonesia #SahamMEGA #Finansial #MarketUpdate #Perbankan2026 #InfoBisnis #EfisiensiBank #InvestorIndonesia #CTCorp #KeuanganSehat #UpdateSaham

Comments are closed.