BCA Syariah membukukan laba bersih Rp212 miliar pada tahun buku 2025, tumbuh 15,4% secara tahunan (yoy). Kenaikan ini ditopang oleh agresivitas penyaluran pembiayaan yang mengerek pendapatan margin sebesar 10,95% menjadi Rp763,6 miliar. Meskipun menghadapi tekanan biaya dana (cost of fund) yang melonjak 32,07%, anak usaha PT Bank Central Asia Tbk ini mampu menjaga rasio intermediasi (FDR) di level optimal 85,5%, mempertegas posisinya sebagai salah satu pemain syariah paling efisien dengan dukungan ekosistem induk yang kuat.
Fokus:
■ Kinerja Pembiayaan: Pendapatan pembiayaan melonjak 16,5% menjadi Rp937,9 miliar, didukung oleh kualitas aset yang terjaga.
■ Diversifikasi Pendapatan: Fee-based income tumbuh signifikan 34,55%, mencerminkan digitalisasi transaksi nasabah yang kian masif.
■ Rasio Intermediasi: FDR naik dari 81,3% ke 85,5%, menandakan efektivitas penyaluran dana pihak ketiga ke sektor produktif.
PT Bank BCA Syariah membuktikan ketangguhan model bisnisnya dengan mencetak laba bersih Rp212 miliar sepanjang tahun 2025. Di tengah tren kenaikan biaya dana yang menghantui industri perbankan nasional, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan dua digit, yakni 15,4% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba bersih ini sejalan dengan kenaikan margin laba yang mencapai Rp763,6 miliar. Motor utama pendapatan berasal dari financing income yang menembus Rp937,9 miliar (naik 16,5% yoy) serta pendapatan treasury yang berkontribusi Rp355,4 miliar.
Strategi Diversifikasi dan Tantangan Biaya
Salah satu poin menonjol dalam rapor keuangan BCA Syariah adalah lonjakan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) sebesar 34,55% menjadi Rp54,5 miliar. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa infrastruktur digital BCA Syariah mulai membuahkan hasil, dengan volume transaksi layanan perbankan yang semakin padat.
Namun, perseroan tidak lepas dari tantangan makro. Biaya dana atau cost of fund membengkak cukup tajam sebesar 32,07% menjadi Rp529,7 miliar. Tekanan ini memaksa beban operasional merangkak naik 18,91%, terutama didorong oleh biaya tenaga kerja dan administrasi umum guna mendukung penguatan infrastruktur perusahaan.
Kualitas Intermediasi yang Solid
Dari sisi kesehatan finansial, BCA Syariah menunjukkan pengelolaan likuiditas yang agresif namun terukur. Rasio pembiayaan terhadap simpanan (financing to deposit ratio/FDR) meningkat ke level 85,5% dari posisi 81,3% di tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan bank dalam mengoptimalkan dana murah menjadi pembiayaan berkualitas.
Rasio pengembalian ekuitas (Return on Equity/ROE) pun terkerek naik dari 5,9% menjadi 6,7%. Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) masih berada di level yang sangat aman, yakni 27,7%, memberikan ruang yang luas bagi perseroan untuk berekspansi di tahun 2026.
Melihat lanskap kompetisi, pertumbuhan BCA Syariah tetap berada di jalur stabil di tengah dominasi Bank Syariah Indonesia (BSI) dan tantangan dari bank syariah digital baru. Dengan rasio biaya operasional (BOPO) di level 80,6%, BCA Syariah tetap menjaga profil sebagai entitas yang ramping dan produktif di bawah naungan grup perbankan terbesar di Indonesia.
Digionary:
● BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional): Rasio yang mengukur efisiensi bank; semakin rendah angkanya, semakin efisien bank tersebut.
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam menanggung risiko kerugian.
● Cost of Fund (CoF): Biaya yang dikeluarkan bank untuk menghimpun dana dari masyarakat atau sumber lainnya.
● FDR (Financing to Deposit Ratio): Rasio intermediasi pada bank syariah, setara dengan LDR pada bank konvensional.
● Fee-Based Income: Pendapatan yang diperoleh dari transaksi jasa perbankan, bukan dari selisih bunga/margin pembiayaan.
#BCASyariah #EkonomiSyariah #LabaBank #PerbankanIndonesia #InvestasiSyariah #BCA #KinerjaEmiten #KeuanganSyariah #InfoPerbankan #FDR #BOPO #SyariahBanking #Keuangan2026 #UpdateBisnis #PasarModal
