PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencetak laba bersih Rp3,5 triliun pada tahun buku 2025, melonjak 16,4% secara tahunan (yoy). Kinerja mentereng ini diiringi rencana strategis berupa akuisisi PT Asuransi Binagriya Upakara untuk memperkuat ekosistem perumahan, meski eksekusinya kini tengah diselaraskan dengan proses konsolidasi asuransi di bawah Danantara Indonesia. Dengan fundamental yang kokoh—tercermin dari NIM yang melesat ke 4,2% dan aset tembus Rp527,79 triliun—manajemen BTN memberikan sinyal pembagian dividen (payout ratio) di kisaran 25–30% demi mengoptimalkan pengembalian ekuitas (ROE) di atas 12%.
Fokus:
■ Ambisi Akuisisi: BTN membidik Asuransi Binagriya Upakara yang memiliki profitabilitas tinggi (ROA >5%, ROE 18%) sebagai respons atas regulasi modal minimum OJK 2028.
■ Sinyal Dividen: Manajemen memproyeksikan dividend payout ratio 25–30% untuk laba 2025, menyeimbangkan antara setoran ke pemegang saham dan kebutuhan penguatan permodalan.
■ Transformasi Margin: Keberhasilan menekan biaya dana mendorong kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 57,5% menjadi Rp18,42 triliun, mempertegas efisiensi pasca-transformasi lini bisnis.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tengah menyiapkan serangkaian aksi korporasi besar guna memperkuat struktur bisnisnya pasca-capaian kinerja moncer di tahun 2025. Emiten perbankan spesialis hunian ini berencana mengambil alih PT Asuransi Binagriya Upakara sekaligus memberikan bocoran mengenai porsi dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan bahwa rencana akuisisi asuransi ini merupakan langkah strategis untuk mengonsolidasikan bisnis yang selama ini terafiliasi melalui Dana Pensiun BTN. Terlebih, muncul urgensi bagi perusahaan asuransi untuk memenuhi kewajiban modal minimum Rp1 triliun pada 2028 sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Binagriya Upakara mengirim surat bahwa perusahaan itu ingin BTN mengambil alih,” ujar Nixon di Kantor BTN, Jakarta, Senin (9/2). Meski berskala kecil, Binagriya memiliki rapor keuangan “seksi” dengan Return on Assets (ROA) di atas 5% dan Return on Equity (ROE) mencapai 18%. Angka ini jauh melampaui rata-rata industri perbankan yang biasanya bermain di kisaran ROA 1–2%.
Menanti Restu Danantara
Rencana akuisisi ini dipastikan tidak akan berjalan terburu-buru. BTN telah melakukan koordinasi dengan Danantara Indonesia. Namun, pihak Danantara menyarankan agar proses tersebut ditunda sementara waktu mengingat adanya konsolidasi besar-besaran perusahaan asuransi pelat merah di bawah Indonesia Financial Group (IFG).
“Jadi kami tunggu itu saja mau kemananya, apakah BTN beli dulu lalu dibeli oleh IFG atau langsung dibeli IFG atau gimana skemanya kami masih perlu konsolidasi,” tambah Nixon. Keputusan final baru akan diambil setelah kajian komprehensif selesai dilakukan.
Dapur Laba dan Proyeksi Dividen
Kesehatan finansial yang prima menjadi modal kuat BTN dalam bermanuver. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi Rp3,5 triliun pada 2025, naik 16,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,0 triliun. Menariknya, pertumbuhan laba ini ditopang oleh efisiensi ekstrem pada beban bunga yang hanya tumbuh tipis menjadi Rp17,91 triliun, sementara pendapatan bunga melonjak 23% menjadi Rp36,33 triliun.
Kenaikan pendapatan bunga bersih yang mencapai 57,5% secara yoy menjadi bukti keberhasilan transformasi proses bisnis BTN. Margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) tercatat naik signifikan 133 basis poin menjadi 4,2%.
Dengan kondisi kas yang tebal, Nixon membocorkan kebijakan dividen untuk tahun buku 2025. Perusahaan menargetkan dividend payout ratio berada di kisaran 25–30%. Target ini dipasang untuk menjaga keseimbangan agar ROE tetap berada di atas 12% dan berpotensi menyentuh 14%. “Tujuannya untuk maximize return on earnings di tahun depan,” tegasnya.
Hingga tutup tahun 2025, BTN telah mengelola aset sebesar Rp527,79 triliun, melampaui target awal sebesar Rp500 triliun. Dominasi pasar KPR BTN pun tetap kokoh di angka 39% secara nasional, dengan portofolio kredit perumahan mencapai Rp328,4 triliun.
Digionary:
● Dividend Payout Ratio: Persentase dari total laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
● NIM (Net Interest Margin): Rasio yang menunjukkan selisih antara bunga yang dihasilkan bank dengan bunga yang dibayarkan ke nasabah.
● ROA (Return on Assets): Indikator untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba.
● ROE (Return on Equity): Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham.
