BTN Bukukan Laba Bersih Rp3,5 Triliun di Usia 76 Tahun, Kredit Perumahan Tembus Rp328 Triliun

- 9 Februari 2026 - 22:18

Merayakan hari jadi ke-76 pada 9 Februari 2026, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membukukan rapor biru dengan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun sepanjang 2025, tumbuh impresif 16,4% secara tahunan. Kunci keberhasilan ini terletak pada efisiensi biaya dana yang radikal, di mana beban bunga hanya tumbuh tipis 0,4%, sementara pendapatan bunga bersih melonjak 57,5% mencapai Rp18,4 triliun. Dengan dominasi 39% pangsa pasar KPR nasional dan kesuksesan meluncurkan Bank Syariah Nasional (BSN), BTN kini memantapkan transformasi menjadi bank konsumer terintegrasi dengan fundamental permodalan yang sangat kokoh di level 20,9%.


Fokus:

​■ Lonjakan Profitabilitas: BTN mencatatkan kenaikan NIM sebesar 133 bps menjadi 4,2%, didorong oleh strategi pengelolaan dana murah dan efisiensi operasional yang disiplin.
■ Dominasi Sektor Perumahan: Penyaluran kredit perumahan mencapai Rp328,4 triliun, diperkuat oleh penetrasi cepat pada Kredit Program Perumahan (KPP) baru yang menyerap hampir 50% kuota nasional.
■ Akselerasi Digital: Ekosistem digital melalui superapp Bale by BTN mencatat nilai transaksi tembus Rp103,6 triliun, sekaligus menjadi motor utama penghimpun dana murah (DPK).


​PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkokoh posisinya sebagai raja KPR di Indonesia. Memasuki usia ke-76 pada 9 Februari 2026, bank pelat merah ini mengumumkan capaian laba bersih konsolidasian tahun 2025 sebesar Rp3,5 triliun, meningkat 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,0 triliun.

​Pencapaian aset konsolidasian yang kini menembus Rp527,8 triliun—tumbuh 12,4% yoy—menjadi bukti rekam jejak panjang perseroan dalam menyalurkan 5,8 juta unit rumah bagi masyarakat, termasuk segmen berpenghasilan rendah dan sektor informal.

​Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa performa ini merupakan hasil dari transformasi konsisten dan proses bisnis yang semakin efisien. “BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini,” ujar Nixon di Jakarta, Senin (9/2).

​Efisiensi Beban Bunga dan Kenaikan NIM

Pendorong utama laba BTN adalah pendapatan bunga yang naik 23% menjadi Rp36,3 triliun. Namun, yang paling krusial adalah kemampuan manajemen menekan beban bunga hingga hanya tumbuh 0,4% di level Rp17,9 triliun. Hasilnya, pendapatan bunga bersih melonjak tajam 57,5% menjadi Rp18,4 triliun.

​Keberhasilan ini berdampak langsung pada Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) yang melesat ke level 4,2%, naik signifikan 133 basis poin dari tahun sebelumnya yang hanya 2,9%. Efisiensi ini lahir dari perbaikan proses penyaluran kredit dan perolehan dana berbiaya murah.

​KPR Program Baru Jadi Mesin Pertumbuhan

Hingga akhir 2025, penyaluran kredit konsolidasian tumbuh 11,9% menjadi Rp400,6 triliun. Sektor perumahan tetap menjadi tulang punggung dengan realisasi Rp328,4 triliun. Secara rinci, KPR Subsidi tumbuh 10% menjadi Rp191,2 triliun, sementara KPR Non-Subsidi meningkat 6,7% ke posisi Rp113 triliun.

​Menariknya, BTN sukses memanfaatkan momentum peluncuran Kredit Program Perumahan (KPP) oleh pemerintah pada Oktober 2025. Hanya dalam hitungan bulan, BTN menjadi penyalur terbesar dengan nilai Rp2,6 triliun, atau hampir separuh dari total penyaluran nasional. “KPP menjadi mesin baru untuk mendorong pertumbuhan kredit BTN serta menawarkan profitabilitas yang lebih baik karena marginnya yang lebih tinggi,” jelas Nixon.

​Superapp Bale dan Kualitas Kredit

​Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,6% menjadi Rp437,4 triliun. Pertumbuhan ini didukung pesatnya transaksi pada superapp Bale by BTN yang penggunanya melonjak 66,1% menjadi 3,7 juta user. Nilai transaksi di aplikasi ini pun menembus angka US$6,28 miliar (sekitar Rp103,6 triliun).

​Ekspansi agresif ini tetap dibarengi dengan prinsip kehati-hatian. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross berhasil ditekan ke level 3,1%. BTN juga memperkuat banteng pertahanan dengan menaikkan NPL Coverage ke level 123,9% serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR) di level aman 20,9%.

​Langkah strategis tahun 2025 juga ditandai dengan lahirnya Bank Syariah Nasional (BSN) sebagai anak usaha, yang kini menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia dengan aset Rp73 triliun. Lewat aspirasi Beyond Mortgage, BTN kini bertransformasi menjadi consumer bank yang memberikan solusi finansial terintegrasi bagi seluruh kebutuhan nasabah.


​Digionary:

​● Beyond Mortgage: Strategi bisnis untuk menyediakan layanan keuangan menyeluruh di luar pembiayaan perumahan.
● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam menanggung risiko kerugian.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat (tabungan, deposito, giro).
● KPP (Kredit Program Perumahan): Program skema pembiayaan perumahan baru pemerintah yang diluncurkan akhir 2025.
● Net Interest Margin (NIM): Selisih bunga yang diterima bank dari pinjaman dengan bunga yang dibayar bank ke penyimpan dana.
● Non-Performing Loan (NPL): Rasio pinjaman bermasalah yang gagal dibayar oleh nasabah tepat waktu.

#BTN76Tahun #LabaBTN #KPRNasional #KinerjaPerbankan #BankTabunganNegara #BaleByBTN #EkonomiIndonesia #KPRSyariah #PropertiIndonesia #InfoKeuangan #NixonNapitupulu #EfisiensiBank #RumahRakyat #KreditPerumahan #BeyondMortgage #UpdateBisnis #BSNSyariah #TransformasiDigital #Finansial #MarketUpdate

Comments are closed.