PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mempertegas kepemimpinannya dalam pembiayaan hijau dengan menargetkan pembangunan 20.000 unit rumah rendah emisi pada tahun 2026. Ini adalah bagian dari peta jalan ambisius membangun 200.000 unit rumah rendah emisi hingga 2030. Melalui kolaborasi unik yang melibatkan startup daur ulang sampah plastik, insentif suku bunga bagi pengembang, hingga program inovatif “Bayar Angsuran Pakai Sampah” yang mendapat apresiasi Ratu Belanda, BTN menargetkan porsi portofolio berkelanjutan (ESG loan) melonjak hingga 60% pada tahun depan guna memitigasi dampak perubahan iklim sekaligus memberdayakan ekonomi inklusif.
Fokus:
■ Ambisi Perumahan Hijau Massal: Setelah sukses membiayai 11.000 unit hingga akhir 2025, BTN memacu target menjadi 20.000 unit di 2026 dengan visi jangka panjang mencapai 200.000 unit rumah rendah emisi pada 2030 di seluruh Indonesia.
■ Ekosistem Inklusif dan Insentif Pengembang: BTN berperan sebagai enabler yang menghubungkan pengembang dengan startup produsen material ramah lingkungan, sembari menyiapkan standarisasi insentif berupa penurunan suku bunga hingga 25 basis poin bagi pengembang rumah rendah emisi.
■ Inovasi Finansial Berbasis Sampah: Memperluas program konversi sampah rumah tangga menjadi saldo tabungan yang mampu memotong cicilan KPR nasabah sebesar 10% hingga 15% per bulan, sebuah inisiatif yang memperkuat rating ESG AA (MSCI) perseroan di kancah global.
Siapa sangka bungkus mi instan dan botol sampo bekas bisa menjadi kunci untuk melunasi cicilan rumah? Di tangan BTN, limbah rumah tangga kini naik kasta menjadi komoditas finansial yang mampu memotong angsuran KPR hingga 15% per bulan. Inovasi “bayar cicilan pakai sampah” ini tidak hanya memikat hati nasabah, tetapi juga mengundang decak kagum Ratu Belanda, Queen Maxima, yang terbang langsung ke Indonesia untuk menyaksikan revolusi green banking ini. Di balik tumpukan plastik itu, BTN sedang membangun fondasi ambisius: membiayai 20.000 rumah rendah emisi pada 2026 sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai bank dengan rating ESG tertinggi di tanah air.
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, industri perbankan nasional mulai menggeser kemudi menuju praktik bisnis yang lebih “hijau”. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), sang penguasa pasar pembiayaan perumahan, secara resmi mengumumkan target ambisius untuk membiayai 20.000 unit rumah rendah emisi sepanjang tahun 2026.
Langkah ini bukan sekadar gimik keberlanjutan. Hingga penghujung 2025, BTN membuktikan taringnya dengan merealisasikan pembiayaan 11.000 rumah rendah emisi yang tersebar di titik-titik strategis seperti Banten, Bogor, Medan, hingga Bekasi.
“Harapannya, tahun ini bisa mencapai 20.000 rumah rendah emisi, kalau bisa 30.000. Sampai tahun 2029, harapannya kita ingin membangun 150.000 unit dan sampai 2030 kita harap 200.000,” tegas Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, saat meninjau Perumahan Mutiara Gading City, Bekasi, Rabu (4/2/2026).
Ekosistem dari Bungkus Mi Instan
Keunikan program ini terletak pada rantai pasoknya. BTN menggandeng sejumlah startup inovatif seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick. Mereka menyulap limbah domestik—mulai dari bungkus mi instan hingga sachet sabun—menjadi material konstruksi berkualitas untuk lantai, paving block, hingga dinding.
Kolaborasi ini tidak hanya mengurangi polusi plastik, tetapi juga melahirkan kelas pengusaha baru. Melalui kompetisi BTN Housingpreneur, bank pelat merah ini terus menjaring inovator yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bangunan bernilai ekonomis.
“Dengan rumah rendah emisi ini justru kita menciptakan beberapa startup baru di bidang recycle plastik. Kami sedang mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif, jadi siapa saja bisa terlibat,” tambah Setiyo.
Insentif untuk Pengembang dan Nasabah
Guna memikat lebih banyak pemain, BTN menyiapkan “karpet merah” bagi pengembang yang berkomitmen pada konsep rendah emisi. Paket insentif yang sedang distandarisasi mencakup pemangkasan suku bunga pinjaman konstruksi hingga 25 basis poin. Preadi Ekarto, CEO ISPI Group, mengakui besarnya potensi ini. “Kami di ISPI Group terus mendukung program rumah rendah emisi ini. Banyak lahan yang masih bisa dibangun,” ujarnya.
Namun, revolusi hijau ini tidak berhenti di sisi suplai. Nasabah KPR pun diajak “berjualan” sampah melalui program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”. Berkolaborasi dengan startup Rekosistem, nasabah bisa mengonversi sampah mereka menjadi rupiah untuk memotong tagihan bulanan.
Hasilnya cukup menggiurkan bagi ekonomi rumah tangga. “Setelah dihitung-hitung, dengan mengikuti program ini bisa mengurangi cicilan KPR sekitar 10-15% per bulannya atau sekitar Rp100.000-150.000,” papar Setiyo. Inovasi inilah yang membawa Ratu Belanda, Queen Maxima, terbang ke Indonesia pada November 2025 untuk menyaksikan langsung bagaimana sampah bisa berubah menjadi ketahanan finansial.
Menuju Portofolio Berkelanjutan 60%
Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, berharap antusiasme nasabah terus meningkat karena dampak langsungnya pada kesehatan finansial keluarga. Di sisi lain, komitmen kuat ini membuahkan hasil manis di pasar modal dengan raihan ESG Rating AA dari MSCI pada 2025—posisi tertinggi di antara perbankan nasional.
Ke depan, BTN mematok target porsi pembiayaan berkelanjutan mencapai 60% dari total portofolio kredit pada 2026, naik dari posisi saat ini yang berada di angka 52%. Angka ini mencakup pembiayaan rumah subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), yang dalam filosofi ESG merupakan pilar pemberdayaan sosial yang krusial.
Digionary:
● Basis Poin: Unit standar untuk suku bunga dan statistik keuangan lainnya (100 basis poin sama dengan 1%).
● Eco-friendly: Produk atau praktik yang tidak merusak lingkungan hidup.
● ESG (Environment, Social, and Governance): Standar operasional perusahaan yang digunakan investor untuk menyaring investasi berdasarkan kebijakan lingkungan, sosial, dan tata kelola.
● Green Banking: Praktik perbankan yang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dalam setiap keputusan investasi dan operasionalnya.
● MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah): Masyarakat yang memiliki keterbatasan daya beli sehingga memerlukan dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.
● MSCI ESG Ratings: Pengukuran ketahanan perusahaan terhadap risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola jangka panjang yang diakui secara global.
● Sustainability: Prinsip memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
#BTNHijau #RumahRendahEmisi #ESG #GreenBanking #EkonomiSirkular #DaurUlangPlastik #KPRBTN #InovasiPerbankan #PerubahanIklim #RatuBelanda #Housingpreneur #Sustainability #PerumahanInklusif #BisnisBerkelanjutan #MSCI #InvestasiHijau #SampahJadiUang #SmartCity #IndonesiaHijau #BUMNUntukNegeri
