Fenomena ‘Buy the Dip’: Warga Singapura Serbu Gerai Emas di Tengah Kejatuhan Pasar Global

- 4 Februari 2026 - 10:59

Di tengah kejatuhan harga emas dunia yang menyentuh level terendah hingga mendekati US4.400 per ons, gairah investor ritel di pusat-pusat keuangan Asia justru melonjak drastis. Fenomena *buy the dip* melanda Singapura, Sydney, hingga Thailand, di mana antrean panjang pembeli fisik mengular di perbankan seperti UOB demi mengamankan aset *safe haven*. Para investor bertaruh bahwa ketidakpastian geopolitik di era Presiden Donald Trump dan tren devaluasi mata uang (*debasement trade*) akan tetap menjadi motor penggerak utama yang mampu membawa harga emas terbang menuju target optimistis US6.000 per ons dalam jangka panjang.


​Fokus:

■ ​Anomali Psikologi Pasar: Alih-alih melakukan aksi jual panik (panic selling) saat harga rontok 20% dari rekor tertinggi, investor ritel justru menyerbu gerai emas fisik, memicu kelangkaan stok pada merek ternama seperti MKS PAMP.
■ ​Sentimen “Trump Factor” dan Makro: Keyakinan pembeli didorong oleh sikap tak terduga Donald Trump terhadap tatanan geopolitik dan tekanannya kepada The Fed, yang memperkuat tesis bahwa emas adalah pelindung nilai terbaik saat kepercayaan terhadap mata uang fiat goyah.
■ ​Asia sebagai Hub Emas Dunia: Singapura mengukuhkan diri sebagai magnet investasi logam mulia global karena kebijakan bebas pajak barang dan jasa (GST) untuk emas batangan serta tidak adanya pajak keuntungan modal (capital gains tax).


Kantor pusat UOB di episentrum finansial Singapura mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Senin (2/2). Pemicunya bukan pembagian dividen bank, melainkan anjloknya harga emas dunia yang justru memicu naluri berburu para investor ritel. Meski harga logam mulia ini baru saja mengalami rontoknya nilai hingga satu per lima dari titik tertingginya pekan lalu, antrean pembeli fisik justru tidak menunjukkan tanda-tanda surut.

​Ng Beng Choo, seorang pensiunan berusia 70-an, menjadi potret nyata dari kegigihan ini. “Saya datang untuk membeli karena harga emas turun hari ini,” ujarnya seperti ditulis The Business Times. Ia telah memegang nomor antrean sejak pukul 09.30 pagi, namun hingga enam jam berlalu, panggilannya belum juga kunjung tiba. Kondisi ini memaksa manajemen UOB memasang pengumuman darurat: tiket antrean beli telah habis terjual karena respons yang luar biasa meledak.

​Badai di Pasar, Antrean di Jalanan

Reli panjang emas yang sempat meroket bulan lalu mendadak berbalik arah sejak Jumat pekan lalu. Kejatuhan ini semakin dalam pada perdagangan Senin, membawa harga emas mendekati level US$4.400 per ons. Namun, bagi warga Singapura dan Sydney, ini adalah kesempatan “cuci gudang” yang langka. Di Sydney, antrean orang memanjang keluar hingga ke trotoar dari gerai ABC Bullion di dekat Martin Place.

​Alex, seorang pemuda berusia 20-an yang ikut mengantre di Sydney, mengakui telah kehilangan banyak uang pada keruntuhan hari Jumat, namun ia tetap optimis. “Besok adalah hari yang baru,” katanya singkat sambil menunggu giliran membeli batangan emas.

​Taruhan pada Ketidakpastian Trump

Para pembeli ritel tampaknya tidak sekadar spekulasi buta. Mereka bertaruh pada dua faktor fundamental yang dianggap masih utuh: karakter tak terduga Presiden AS Donald Trump yang kerap mengganggu tatanan geopolitik global, serta debasement trade—strategi di mana investor menghindari mata uang dan obligasi pemerintah karena khawatir akan penurunan nilai uang secara sistemik.

​Pandangan ini diamini oleh Deutsche Bank. Dalam catatan risetnya, bank raksasa Jerman tersebut tetap mempertahankan ramalannya bahwa emas akan menembus level US$6.000 per ons. “Trend membeli masih sangat kuat di sini,” ungkap Thanapisal Koohapremkit, CEO Globlex Securities di Thailand. Menurutnya, masyarakat lebih memilih menahan koleksi lama mereka dan menambah posisi baru daripada melepaskan aset di harga rendah.

​Singapura tetap menjadi lokasi paling seksi untuk transaksi ini. Sebagai hub kekayaan global, Negeri Singa tidak mengenakan pajak pada emas batangan standar investasi, menjadikannya pelabuhan aman bagi mereka yang ingin memarkir dana dalam bentuk fisik tanpa tergerus potongan fiskal. Namun, tingginya permintaan kini mulai membentur tembok ketersediaan stok; produk-produk dari MKS PAMP, salah satu merek batangan paling diakui dunia, dilaporkan telah ludes di beberapa titik penjualan utama.

Foto: Channel News Asia


​Digionary:

​● An ounce (ons): Satuan berat standar untuk logam mulia yang setara dengan 31,1 gram.
● Bullion: Emas atau perak batangan dalam bentuk fisik dengan tingkat kemurnian tinggi yang dianggap sebagai aset investasi.
● Buy the dip: Strategi investasi dengan membeli aset saat harganya sedang mengalami penurunan sementara, dengan harapan harga akan naik kembali.
● Debasement trade: Praktik investasi di mana pelaku pasar membeli aset keras (seperti emas) karena penurunan nilai mata uang akibat inflasi atau kebijakan moneter.
● Geopolitical order: Tatanan hubungan antarnegara di dunia yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan global.
● GS (Goods and Services Tax): Pajak yang dikenakan pada konsumsi barang dan jasa; di Singapura, emas investasi tertentu dibebaskan dari pajak ini.
● Safe haven: Jenis aset investasi yang diharapkan dapat mempertahankan nilainya atau bahkan meningkat di tengah gejolak pasar finansial.

​#Emas #HargaEmasHariIni #InvestasiEmas #UOB #Singapura #DonaldTrump #SafeHaven #LogamMulia #EkonomiGlobal #GoldRout #BuyTheDip #PasarModal #BeritaFinansial #Kekayaan #Geopolitik #DeutscheBank #MKSPAMP #TradingEmas #EmasBatangan #GoldPrice2025

Comments are closed.