Pasar modal Indonesia kian terpojok setelah raksasa investasi Jepang, Nomura, resmi memangkas peringkat (rating) bursa saham RI dari overweight menjadi netral, menyusul langkah serupa yang sebelumnya diambil oleh Goldman Sachs dan UBS. Eksodus modal ini dipicu oleh “bom waktu” dari MSCI yang memberikan sinyalemen penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market), sebuah degradasi yang berisiko memaksa investor pasif menarik dana jumbo secara masif di tengah volatilitas IHSG yang kian mengkhawatirkan.
Fokus:
■ Efek Domino Peringkat Global: Langkah Nomura menurunkan rekomendasi menjadi netral semakin memperburuk sentimen investor setelah sebelumnya Goldman Sachs memasang posisi underweight.
■ Ancaman Degradasi MSCI: Status Indonesia sebagai emerging market kini di ujung tanduk; penurunan ke kategori frontier market akan memicu aliran modal keluar otomatis dari dana-dana indeks dunia.
■ Sentimen Terkejutnya Analis: Strategist Nomura mengakui peringatan MSCI sebagai “kejutan besar” yang merusak tesis investasi positif sebelumnya, di mana valuasi murah dan laba korporasi tadinya diharapkan menjadi penopang bursa.
Awan hitam kian pekat menyelimuti lantai bursa Tanah Air. Belum kering luka akibat aksi jual masif dalam beberapa pekan terakhir, kini pukulan telak kembali datang dari Tokyo. Nomura, raksasa investasi asal Jepang, resmi menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi “Netral” dari sebelumnya “Overweight”.
Langkah Nomura ini bukanlah petir di siang bolong, melainkan kelanjutan dari efek bola salju yang dimulai oleh Goldman Sachs dan UBS. Sentimen negatif ini berakar pada satu hantu yang paling ditakuti manajer investasi global: penurunan status indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kejutan Pahit bagi Pasar
Strategist Nomura, Chetan Seth, dalam laporannya yang dikutip Bloomberg pada Senin (2/2), tidak menutupi rasa terkejutnya. “Peringatan MSCI mengenai potensi penurunan status ke frontier market datang sebagai kejutan bagi kami dan pasar,” tulisnya.
Padahal, sebelumnya para analis sempat optimis melihat valuasi saham Indonesia yang relatif “murah” dibandingkan bursa regional lainnya. Ekspektasi akan stabilisasi ekonomi dan kinerja laba perusahaan semula diyakini mampu menjaga daya tarik IHSG. Namun, ancaman MSCI mengubah segalanya. Jika Indonesia didegradasi menjadi pasar perbatasan (frontier market), maka dana-dana investor pasif yang mengacu pada indeks Emerging Market secara otomatis wajib menarik modalnya dari Jakarta.
Antara Fundamental dan Krisis Kepercayaan
Padahal, secara makro, ada data-data yang kontradiktif. Volume ekspor CPO per Desember 2025 melonjak 102% mencapai 2,75 juta ton, dan nilai ekspor tahunan Indonesia berada di angka US$282 miliar. Namun, di pasar modal, fundamental ekonomi seringkali harus kalah oleh persepsi “investabilitas”.
Guncangan ini terasa makin nyata pada pergerakan IHSG yang sempat terpangkas nyaris 5% hingga terlempar ke level 7.800 pada perdagangan pagi. Goldman Sachs bahkan memberikan proyeksi yang lebih horor: dana asing yang kabur bisa membengkak hingga Rp38 triliun sebagai imbas langsung dari kisruh MSCI ini.
Kini, perhatian pasar tertuju pada pertemuan krusial antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan pihak MSCI sore ini. Lembaga pengelola investasi super raksasa RI, Danantara, dikabarkan turut memantau jalannya pertemuan tersebut. Hasil dari lobi diplomatik ekonomi ini akan menentukan apakah bursa kita akan tetap berada di liga utama, atau justru turun kasta dan ditinggalkan oleh para pemodal global.
Dana Kelolaan Nomura
Nomura merupakan pemain dominan di kawasan ini. Secara total, Nomura Asset Management mengelola dana sekitar US550 miliar hingga US600 miliar (setara Rp8.500 triliun – Rp9.300 triliun) di tingkat global, di mana sekitar 70% hingga 80% dari dana tersebut terkonsentrasi di wilayah Asia Pasifik. Jepang tetap menjadi kontributor terbesar, namun strategi ekspansi mereka di Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, dan Indonesia) terus tumbuh agresif.
Di Indonesia, Nomura beroperasi melalui PT Nomura Asset Management Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan industri reksa dana, dana kelolaan mereka (khusus kontrak pengelolaan dana dan reksa dana) diperkirakan berada di kisaran Rp3 triliun hingga Rp5 triliun (sekitar US200 juta – US320 juta).
Foto: Nikkei Asia
Digionary:
● Emerging Market: Kategori pasar negara berkembang yang memiliki aktivitas pasar modal cukup maju namun belum setingkat negara maju (seperti AS atau Jepang).
● Frontier Market: Kategori pasar modal yang lebih kecil, kurang likuid, dan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan emerging market; biasanya disebut pasar perbatasan.
● Investor Pasif: Investor (biasanya institusi) yang menempatkan dana mengikuti komposisi indeks tertentu (seperti indeks MSCI) tanpa aktif memilih saham sendiri.
● Netral (Neutral): Rekomendasi analis yang menyarankan agar bobot aset dalam portofolio sesuai dengan rata-rata pasar, tidak menambah tapi juga tidak mengurangi secara drastis.
● Overweight: Rekomendasi untuk memberikan bobot lebih pada suatu aset atau negara dalam portofolio karena diprediksi akan berkinerja lebih baik dari rata-rata.
● Underweight: Rekomendasi untuk mengurangi bobot aset dalam portofolio karena prospeknya dinilai buruk atau berisiko tinggi.
● Valuasi: Metode penilaian harga wajar saham; jika disebut “menarik”, artinya harga saham dianggap masih murah dibanding potensi labanya.
#IHSG #PasarModal #Nomura #GoldmanSachs #MSCI #BursaEfekIndonesia #EkonomiIndonesia #InvestasiAsing #Danantara #SahamRI #KrisisBursa #EmergingMarket #FrontierMarket #SentimenPasar #BeritaSaham #Rupiah #Investasi2026 #GlobalFinance #MarketUpdate #AnalisisEkonomi
