PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) semakin agresif memperkuat bisnis digitalnya setelah mencatat pertumbuhan signifikan pada kredit digital, simpanan digital, dan profitabilitas sepanjang Kuartal I-2026. Didukung sinergi ekosistem BRI Group dan inovasi produk digital, Bank Raya optimistis mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memperluas penetrasi layanan ke segmen UMKM, komunitas, dan nasabah ritel.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Kredit digital Bank Raya tumbuh 29% menjadi Rp8,14 triliun, menunjukkan akselerasi transformasi bisnis digital yang semakin matang.
■ Simpanan digital melonjak 63,9% menjadi Rp2,3 triliun, mencerminkan meningkatnya adopsi layanan perbankan digital oleh masyarakat.
■ Bank Raya memperkuat ekspansi melalui sinergi BRI Group, inovasi produk, dan penguatan tata kelola serta keamanan teknologi informasi.
PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) semakin percaya diri menatap pertumbuhan bisnis digital pada 2026. Anak usaha BRI Group ini mencatatkan peningkatan signifikan pada penyaluran kredit digital, penghimpunan dana murah, serta perbaikan profitabilitas, yang menjadi indikator keberhasilan transformasi menuju bank digital.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap industri keuangan, Bank Raya memilih memperkuat fondasi bisnis sekaligus mempercepat ekspansi digital. Strategi tersebut dijalankan melalui kombinasi pemanfaatan ekosistem internal BRI Group dan perluasan kolaborasi dengan mitra di luar grup.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, mengatakan perseroan melihat prospek bisnis digital perbankan Indonesia masih sangat besar seiring meningkatnya penetrasi teknologi finansial dan perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan digital.
“Kami optimis bisnis digital terus memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan. Di tengah dinamika global, kami selalu berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penguatan fundamental sebagai bukti keberhasilan kami bertransformasi menjadi bank digital. Kami terus mengoptimalkan inovasi produk kepada nasabah melalui ragam solusi keuangan digital yang relevan dengan masyarakat sehingga memberikan stabilitas lebih kuat bagi bisnis kami,” ungkap Bagus.
Optimisme tersebut didukung capaian kinerja sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Bank Raya membukukan laba bersih sebesar Rp6,79 miliar pada Kuartal I-2026. Kinerja tersebut ditopang peningkatan kualitas aset produktif dan efisiensi biaya dana yang mendorong Net Interest Margin (NIM) naik menjadi 5,78%, dari sebelumnya 4,87% pada periode yang sama tahun lalu.
Kredit Digital Jadi Mesin Pertumbuhan
Transformasi digital yang dilakukan Bank Raya mulai terlihat dari perubahan struktur bisnisnya. Porsi kredit digital kini mencapai 45,6% dari total portofolio kredit, meningkat dibandingkan 32,1% setahun sebelumnya.
Sepanjang Kuartal I-2026, penyaluran kredit digital mencapai Rp8,14 triliun atau tumbuh 29% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara outstanding kredit digital meningkat 33,1% menjadi Rp3,14 triliun.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa model bisnis digital yang dikembangkan Bank Raya mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan.
Salah satu kontributor utama adalah produk Pinang Dana Talangan yang ditujukan untuk mendukung kebutuhan likuiditas Agen BRILink dan Agen Pegadaian. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, produk tersebut telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp7,25 triliun, naik 33,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Outstanding Pinang Dana Talangan bahkan melonjak 63% menjadi Rp1,15 triliun dengan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 52 ribu agen di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Bagus, penguatan inovasi produk dan disiplin pengelolaan keuangan akan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan hingga akhir tahun.
“Kami optimis pertumbuhan bisnis digital yang berkelanjutan dapat terus tercapai di sisa 2026. Optimisme ini tentunya didukung oleh perkuatan inovasi produk digital, penerapan disiplin keuangan yang ketat untuk menjaga profitabilitas, sehingga menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham,” kata dia.
Simpanan Digital Melonjak Hampir 64%
Tidak hanya dari sisi pembiayaan, pertumbuhan bisnis digital juga terlihat pada penghimpunan dana.
Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Raya mencapai Rp8,44 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) yang mencapai Rp3 triliun, naik 30,2% secara tahunan.
Pendorong terbesar berasal dari produk digital saving yang tumbuh 63,9% menjadi Rp2,3 triliun. Peningkatan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital Bank Raya. Tren tersebut sejalan dengan pertumbuhan industri perbankan digital nasional yang terus berkembang.
Data OJK menunjukkan transaksi perbankan digital di Indonesia terus mencatat pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh meningkatnya penggunaan smartphone dan ekosistem pembayaran digital.
Dari sisi likuiditas, posisi Bank Raya juga terbilang kuat. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 81,64%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 442,55%, sementara Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 164,71%, jauh di atas batas minimum regulator sebesar 100%.
Permodalan juga tetap solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 41,80% pada akhir Maret 2026, memberikan ruang yang cukup besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis.
Andalkan Ekosistem BRI dan Inovasi Produk
Untuk memperluas pangsa pasar, Bank Raya menerapkan strategi ganda melalui pendekatan eksploitasi dan eksplorasi.
Melalui strategi eksploitasi, perseroan memaksimalkan peluang bisnis yang tersedia di dalam ekosistem BRI Group. Sementara melalui strategi eksplorasi, Bank Raya membangun kerja sama dengan berbagai mitra eksternal untuk menjangkau segmen pasar baru di luar grup.
Perseroan menilai keunggulan utamanya terletak pada jaringan Online-to-Offline (O2O) yang luas, inovasi produk lintas segmen, serta dukungan ekosistem BRI yang memiliki jutaan pelaku UMKM dan agen layanan keuangan.
Hingga akhir Maret 2026, aplikasi Raya telah memiliki lebih dari 100 fitur digital dan digunakan oleh lebih dari satu juta nasabah.
Beberapa fitur unggulan yang dikembangkan antara lain Saku Bisnis untuk membantu pengelolaan keuangan usaha, Uang Saku untuk edukasi keuangan anak dengan pengawasan orang tua, serta Saku Bareng yang memungkinkan komunitas melakukan pengelolaan dana secara kolektif dan transparan.
Bank Raya juga menghadirkan Kartu Debit Digital Visa yang mendukung transaksi domestik maupun internasional, serta tengah menyiapkan fitur baru yang diklaim mampu mengintegrasikan aktivitas pengelolaan keuangan dengan berbagai hobi pengguna.
Keamanan Siber dan Tata Kelola Jadi Prioritas
Di tengah meningkatnya ancaman siber terhadap industri keuangan digital, Bank Raya memperkuat sistem keamanan informasi dan tata kelola perusahaan.
Perseroan telah menerapkan standar internasional ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi yang mencakup perlindungan data, pengelolaan risiko, hingga pengendalian operasional teknologi informasi.
Selain itu, Bank Raya juga mengantongi berbagai sertifikasi lain seperti ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, dan ISO 20000-1:2018 IT Service Management System.
Komitmen terhadap tata kelola perusahaan juga mendapat pengakuan melalui predikat “Most Trusted Company” dalam ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2025.
“Kami melihat peluang pertumbuhan digital tetap terbuka, namun kami melangkah dengan prinsip kehati-hatian, memastikan setiap ekspansi didukung oleh fundamental yang kuat dan manajemen risiko yang terjaga sebagai bank digital yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi untuk tumbuh secara berkelanjutan,” tegas Bagus.
Dengan pertumbuhan kredit digital yang terus meningkat, likuiditas yang kuat, serta dukungan ekosistem BRI Group, Bank Raya kini berada pada fase penting untuk memperkuat posisinya di tengah persaingan industri bank digital yang semakin ketat. ●
DIGI-INSIGHTS:
Transformasi Bank Raya menunjukkan bahwa fase berikutnya dalam industri bank digital Indonesia bukan lagi sekadar mengejar jumlah pengguna (user acquisition), melainkan membangun model bisnis yang mampu menghasilkan profit secara berkelanjutan. Kenaikan porsi kredit digital menjadi 45,6%, pertumbuhan kredit digital 29%, serta perbaikan NIM menjadi 5,78% mengindikasikan bahwa Bank Raya mulai berhasil mengubah aktivitas digital menjadi sumber pendapatan yang nyata. Ini menjadi pembeda penting di tengah industri bank digital yang selama beberapa tahun terakhir lebih fokus pada pertumbuhan nasabah dan volume transaksi dibandingkan profitabilitas. Dengan dukungan ekosistem BRI yang memiliki jutaan nasabah UMKM dan jaringan Agen BRILink, Bank Raya memiliki keunggulan distribusi yang sulit ditiru oleh bank digital murni yang tidak memiliki induk usaha dengan jaringan sebesar BRI.
Di sisi lain, lonjakan simpanan digital sebesar 63,9% dan pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 30,2% menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital. Namun tantangan ke depan akan semakin berat. Persaingan tidak hanya datang dari sesama bank digital, tetapi juga dari super app, fintech lending, e-wallet, hingga platform teknologi yang mulai masuk ke layanan keuangan. Karena itu, keberhasilan Bank Raya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari nasabah, memperkuat keamanan siber, serta mengoptimalkan sinergi dengan ekosistem BRI. Jika mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, dan inovasi, Bank Raya berpeluang menjadi salah satu pemain utama dalam gelombang kedua perkembangan bank digital Indonesia yang lebih berorientasi pada profit dan keberlanjutan bisnis. ●
DIGIONARY;
● Agen BRILink: Mitra BRI yang melayani transaksi perbankan bagi masyarakat melalui sistem keagenan digital.
● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal bank untuk menutup risiko operasional dan kredit.
● Corporate Governance Perception Index (CGPI): Program pemeringkatan kualitas tata kelola perusahaan di Indonesia.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● Digital Saving: Produk tabungan yang dibuka dan dikelola secara digital melalui aplikasi perbankan.
● Liquidity Coverage Ratio (LCR): Rasio yang mengukur kemampuan bank memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
● Loan to Deposit Ratio (LDR): Rasio antara total kredit yang disalurkan dengan dana yang berhasil dihimpun bank.
● Net Interest Margin (NIM): Rasio yang menunjukkan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga dari aset produktif.
● Net Stable Funding Ratio (NSFR): Rasio yang mengukur stabilitas sumber pendanaan bank dalam jangka panjang.
● Online-to-Offline (O2O): Model layanan yang mengintegrasikan kanal digital dengan layanan fisik atau jaringan lapangan.
● Outstanding Kredit: Total nilai kredit yang masih berjalan dan belum dilunasi oleh debitur.
● Pinang Dana Talangan: Produk pinjaman digital Bank Raya yang ditujukan bagi agen dalam ekosistem BRI dan Pegadaian.
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
#BankRaya #AGRO #BankDigital #PerbankanDigital #TransformasiDigital #BRIGroup #KreditDigital #DigitalSaving #AplikasiRaya #UMKM #FintechIndonesia #InovasiPerbankan #DanaPihakKetiga #LabaBank #SahamAGRO #EkonomiDigital #KeuanganDigital #BankIndonesia #IndustriKeuangan #DigitalBankingIndonesia
