Lintasarta Percepat Transformasi HR Berbasis AI dan Data Analytics

- 2 Juni 2026 - 12:22

PT Aplikanusa Lintasarta mempercepat transformasi bisnisnya sebagai perusahaan solusi Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital dengan membangun fondasi transformasi dari sisi sumber daya manusia (SDM). Melalui implementasi Human Resource Information System (HRIS) terintegrasi, advanced people analytics berbasis AI, hingga asisten virtual Talita HR, Lintasarta berhasil meningkatkan otomatisasi layanan SDM dari 47% menjadi 98%, menekan turnover talenta unggulan, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan budaya kerja berbasis data tanpa menghilangkan pendekatan human-centric. Strategi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan talenta menghadapi era ekonomi digital dan AI di Indonesia.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Lintasarta meningkatkan otomatisasi layanan SDM dari 47% menjadi 98% melalui implementasi HRIS terintegrasi, advanced analytics berbasis AI, dan automasi proses bisnis secara end-to-end.
■ Advanced people analytics berbasis machine learning yang dikembangkan Lintasarta mampu memprediksi potensi resign dan mengidentifikasi top talent dengan tingkat akurasi mencapai 90%-93%.
■ Melalui Talita HR, asisten virtual AI berbasis WhatsApp, karyawan dapat mengakses layanan HR secara real-time selama 24 jam tanpa menghilangkan pendekatan human-centric dalam pengelolaan SDM.


Ketika banyak perusahaan berlomba mengadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi bisnis, PT Aplikanusa Lintasarta memilih memulai transformasi dari area yang paling fundamental, yakni manusia.

Perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang kini berkembang menjadi penyedia solusi AI tersebut membangun transformasi organisasi melalui integrasi data SDM, automasi proses kerja, hingga pemanfaatan advanced analytics berbasis AI guna menciptakan talenta yang lebih adaptif, produktif, dan siap menghadapi era ekonomi digital.

Transformasi digital kini tidak lagi hanya berbicara mengenai migrasi sistem, cloud computing, atau infrastruktur teknologi. Bagi Lintasarta, keberhasilan transformasi justru ditentukan oleh kemampuan organisasi membangun budaya kerja, kualitas talenta, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Memasuki usia ke-38 tahun, Lintasarta tengah menjalani fase transformasi besar sebagai perusahaan ICT sekaligus AI solutions company. Transformasi tersebut didukung oleh lebih dari 412 fiber optic node, lebih dari 10.000 remote sites, tiga data center cloud infrastructure, serta kolaborasi strategis dengan NVIDIA dalam pengembangan ekosistem AI nasional.

Namun di balik investasi teknologi tersebut, perusahaan menempatkan SDM sebagai fondasi utama transformasi. “Kami percaya strategi perusahaan tidak akan berhasil tanpa budaya perusahaan yang kuat. Karena itu, kami membangun budaya ICARE: Innovation, Collaboration, Agility, Resilience, dan Ethics,” kata Retno Kusumorini Firdaus, Chief Human Resources Officer Lintasarta.

Bangun Fondasi Data SDM Berbasis AI

Transformasi SDM di Lintasarta dimulai sejak 2022 melalui pembangunan data foundation yang mengintegrasikan seluruh data karyawan ke dalam satu sistem terpusat.

Data yang sebelumnya tersebar di berbagai platform kini dikonsolidasikan dalam Human Resource Information System (HRIS) terintegrasi yang terkoneksi dengan berbagai aplikasi bisnis perusahaan.

Pendekatan tersebut memungkinkan Lintasarta melakukan automasi proses SDM secara menyeluruh sekaligus membuka jalan bagi implementasi AI dalam pengelolaan talenta.

Pada 2025, perusahaan memasuki fase baru ketika data tidak lagi hanya berfungsi sebagai arsip administratif, melainkan menjadi sumber insight strategis bagi manajemen.

“Kami ingin data bukan hanya tersimpan, tetapi benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan. Karena itu, kami membangun advanced analytics berbasis AI untuk mendukung talent strategy perusahaan,” ujar Retno.

Otomatisasi Meningkat hingga 98%

Transformasi tersebut menghasilkan perubahan signifikan dalam pengelolaan SDM perusahaan. Lintasarta mencatat tingkat otomatisasi layanan HR meningkat dari 47% menjadi 98%. Berbagai proses seperti business trip, medical claim, document request, hingga layanan administrasi lainnya kini dapat diproses secara digital dan real-time.

Para pimpinan unit bisnis juga memperoleh akses langsung terhadap dashboard talent analytics yang menampilkan data SDM secara cepat dan akurat untuk mendukung pengambilan keputusan.

Transformasi berbasis data ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan semakin memanfaatkan AI dan analytics untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sekaligus memperkuat strategi pengelolaan talenta.

Menurut berbagai riset global, penggunaan AI dalam fungsi human capital kini menjadi salah satu area investasi terbesar perusahaan karena mampu meningkatkan efisiensi, retensi karyawan, dan kualitas pengambilan keputusan.

AI Prediksi Risiko Resign dan Identifikasi Talenta

Salah satu implementasi AI yang menjadi fokus Lintasarta adalah pengembangan advanced people analytics berbasis machine learning, predictive modeling, dan correlation matrix.

Teknologi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi potensi resign, membaca pola perilaku karyawan, hingga memetakan kelompok top talent perusahaan.

Hasilnya, tingkat akurasi predictive analytics mencapai 90%-93%. “Kami tidak ingin predictive analytics hanya menjadi alat machine learning semata. Sistem ini harus mampu menjadi dasar pengambilan keputusan yang reliable bagi para leader,” ungkap Retno.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berhasil menurunkan turnover talenta unggulan dari 7% menjadi 3%.

Kemampuan memprediksi risiko kehilangan talenta menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja digital dan AI yang saat ini menjadi salah satu tantangan utama industri teknologi global.

Talita HR, Asisten AI Berbasis WhatsApp

Lintasarta juga mengembangkan Talita HR, asisten virtual berbasis AI yang terintegrasi langsung dengan HRIS dan berbagai aplikasi bisnis perusahaan.

Melalui platform berbasis WhatsApp tersebut, karyawan dapat mengakses informasi terkait cuti, kebijakan perusahaan, layanan administrasi, hingga kebutuhan HR lainnya secara real-time selama 24 jam.

“Yang membedakan solusi kami dengan kompetitor adalah integrasi penuh dengan HRIS dan business applications. Pengalaman pengguna menjadi lebih natural karena AI dapat menjawab layaknya HR secara langsung dan personal,” kata Retno.

Model AI assistant seperti ini mulai menjadi tren global karena mampu meningkatkan employee experience sekaligus mengurangi beban administratif yang sebelumnya harus ditangani tim HR secara manual.

Menjaga Sentuhan Manusia di Tengah Otomatisasi

Meski agresif mengadopsi AI, Lintasarta menegaskan bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia.

Perusahaan justru memperkuat pendekatan human-centric organization melalui berbagai program wellbeing yang mencakup aspek Physical Health, Intellectual Health, Spiritual Health, dan Emotional Health.

Berbagai program seperti Cut Sugar Challenge, Step Up to 37, Employee Assistance Program, mindfulness meditation, hingga layanan psikolog perusahaan menjadi bagian dari strategi menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.

Hasil evaluasi internal menunjukkan program tersebut berhasil menurunkan sekitar 7% risiko maupun biaya rawat inap dan rawat jalan karyawan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi digital yang berkelanjutan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan organisasi menjaga keseimbangan antara inovasi, produktivitas, dan kesejahteraan manusia. ●


DIGI-INSIGHTS:

Transformasi yang dilakukan Lintasarta menunjukkan bahwa gelombang AI berikutnya tidak lagi berpusat pada chatbot atau automasi layanan pelanggan semata. Perusahaan mulai mengarahkan investasi AI ke area yang lebih strategis, yakni pengelolaan talenta. Dalam beberapa tahun ke depan, kemampuan memanfaatkan people analytics kemungkinan akan menjadi faktor pembeda utama antara perusahaan yang mampu mempertahankan talenta digital dan perusahaan yang kehilangan daya saing.

Bagi industri perbankan dan jasa keuangan, pendekatan ini memiliki relevansi yang sangat tinggi. Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap data scientist, AI engineer, cybersecurity specialist, dan digital product manager, biaya kehilangan talenta semakin mahal. Karena itu, pemanfaatan predictive analytics untuk mengidentifikasi risiko resign, mengukur engagement, dan memetakan kompetensi akan menjadi bagian penting dari strategi manajemen SDM bank-bank modern.

Lebih jauh lagi, keberhasilan transformasi digital pada akhirnya bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki perusahaan, melainkan seberapa efektif organisasi mampu mengintegrasikan teknologi dengan budaya kerja. Pengalaman Lintasarta menunjukkan bahwa AI yang paling bernilai bukan sekadar AI yang menggantikan pekerjaan manusia, melainkan AI yang membantu organisasi mengambil keputusan lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai aset utama bisnis di era ekonomi digital. ●


DIGIONARY:

● Advanced Analytics: Analisis data tingkat lanjut untuk menghasilkan insight strategis. ● Artificial Intelligence: Teknologi yang memungkinkan sistem meniru kemampuan berpikir manusia. ● Cloud Infrastructure: Infrastruktur komputasi berbasis layanan cloud. ● Correlation Matrix: Metode analisis hubungan antarvariabel dalam data. ● Data Foundation: Fondasi data terintegrasi sebagai dasar pengambilan keputusan. ● Digital Transformation: Perubahan bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital. ● Employee Experience: Pengalaman keseluruhan karyawan selama bekerja. ● HRIS: Human Resource Information System untuk pengelolaan SDM terintegrasi. ● Human-Centric Organization: Organisasi yang menempatkan manusia sebagai pusat strategi. ● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data. ● People Analytics: Analisis data SDM untuk mendukung keputusan organisasi. ● Predictive Analytics: Analisis data untuk memprediksi kejadian di masa depan. ● Productivity: Kemampuan menghasilkan output secara efisien. ● Talent Retention: Strategi mempertahankan karyawan berkinerja tinggi. ● Workforce Planning: Perencanaan kebutuhan tenaga kerja organisasi.

#Lintasarta #ArtificialIntelligence #AI #TransformasiDigital #HRTech #HumanCapital #PeopleAnalytics #MachineLearning #DigitalTalent #TalentManagement #EmployeeExperience #HRTransformation #CloudComputing #CyberSecurity #DataAnalytics #FutureOfWork #DigitalEconomy #IndonesiaDigital #NVIDIA #TechInnovation

Comments are closed.