• Kamis, 8 Desember 2022

Perang tech talent dalam transformasi bank digital di Indonesia

- Kamis, 23 Desember 2021 | 21:19 WIB
Talenta teknologi yang punya high level of digital skill ini sangat-sangat kurang. (Foto: Ilustrasi)
Talenta teknologi yang punya high level of digital skill ini sangat-sangat kurang. (Foto: Ilustrasi)

digitalbank.id -- DALAM SEBUAH MAKALAH yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), disebutkan menjadi perusahaan digital membutuhkan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar berinvestasi dalam teknologi digital terbaru. Perusahaan perlu mencari model bisnis baru, secara fundamental memikirkan kembali model operasi mereka, mengubah cara mereka menarik dan mengembangkan bakat digital, dan pertimbangkan kembali bagaimana mereka mengukur keberhasilan bisnis.

Menurut Bayu Prawira Hie, Direktur Eksekutif Intellectual Business Community, masalah yang mendesak dan perlu diwaspadai dalam transformasi digital di Indonesia termasuk bank digital, adalah risiko perang tech talent di Indonesia. Maksudnya, permintaan dan kebutuhan akan ahli teknologi digital berbakat akan sangat tinggi di era transformasi bank digital dalam 2-3 tahun ke depan. Namun, suplai talenta digital ini sangat sedikit.

Di Indonesia, demikian Bayu, tidak banyak orang yang menguasai teknologi. Maksudnya menguasai lengkap implikasi teknologi, mengerti artificial intelligence, machine learning dan deep learning. "Talenta teknologi yang punya high level of digital skill ini sangat-sangat kurang," ujarnya lincah.

Baca Juga: RDN sebagai integrasi produk digital dari Bank Jago

"Maka yang akan terjadi adalah "perang" tech talent -- saling bajak talenta teknologi digital, karena defisit talenta. Bahkan ini bisa terjadi di hampir di setiap industri," ucap Bayu.

Menurut survey RockBird, kesenjangan talenta teknologi di Indonesia mencapai 50,4%. Anggaran rekruitmen hanya sekitar  19,3% dan kesenjangan kultural di perusahaan mencapai 13,9%.

Selain terbatasnya talenta teknologi, di sisi lain tingkat gaji atau remunerasi orang dengan kualifikasi ini juga sangat tinggi. Sedangkan pihak bank pun masih belum rela membayar mahal talenta teknologi. "Ini jelas akan menjadi tantangan transformasi bank digital," ucap doktor bidang transformasi digital bank pertama di Indonesia ini.

Baca Juga: Transformasi digital sering dipersepsikan sebagai mobile banking apps

Hal lain yang ikut menjadi tantangan transformasi bank digital adalah masalah kultur/budaya. Saat ini, yang duduk di top manajemen bank umumnya masih dari generasi X. Sedangkan talenta teknologi lahir dari generasi Y alias milenial. " Generasi milenial ini seringkali melihat manajemen bank itu lebih formal, kaku dan ada sisi feodalnya," ucap Bayu. Ini menjadi alasan generasi milenial lebih memilih bekerja di Fintech yang lebih fleksibel dan kekinian daripada bekerja di Bank.

Halaman:

Editor: Safaruddin Husada

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Metaverse: Peluang Bisnis Seumur Hidup?

Rabu, 9 Maret 2022 | 07:00 WIB

DBS Indonesia dan investasi berbasis ESG

Jumat, 11 Februari 2022 | 15:38 WIB

Bank Raya ditargetkan terus layani gig economy

Kamis, 10 Februari 2022 | 14:03 WIB

Selamat tinggal kantor cabang bank

Minggu, 19 Desember 2021 | 08:00 WIB

Masa depan bank digital ada di metaverse

Sabtu, 18 Desember 2021 | 07:56 WIB
X