• Selasa, 17 Mei 2022

Persaingan bank digital bakal makin ramai pasca tuntasnya akuisisi Emtek atas Bank Fama

- Minggu, 26 Desember 2021 | 09:30 WIB
Emtek Group merupakan pemegang saham Grab Indonesia dan Bukalapak. Kabar santer menyebutkan calon Bank Emtek ini dikabarkan bakal dikembangkan menjadi bank digital dan eks CEO PT Bank CIMB Niaga Tbk Tigor M Siahaan digadang-gadang akan memimpin bank ini. Bila kabar ini benar, hampir bisa dipastikan persaingan bank digital di Indnesia akan semakin sengit. (Foto: Ilustrasi)
Emtek Group merupakan pemegang saham Grab Indonesia dan Bukalapak. Kabar santer menyebutkan calon Bank Emtek ini dikabarkan bakal dikembangkan menjadi bank digital dan eks CEO PT Bank CIMB Niaga Tbk Tigor M Siahaan digadang-gadang akan memimpin bank ini. Bila kabar ini benar, hampir bisa dipastikan persaingan bank digital di Indnesia akan semakin sengit. (Foto: Ilustrasi)

digitalbank.id - Datangnya era digitalisasi perbankan membuat minat investor untuk memiliki bank di Indonesia terus membuncah. Tak hanya investor asing, investor dalam negeri juga tergiur membei saham-saham bank mini untuk disulap menjadi bank digital.

Salah satunya adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) atau Emtek yang melalui anak perusahaannya PT Elang Media Visitama resmi pekan ini mengakuisisi PT Bank Fama International.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (24/12), PT Elang Media Visitama atau EMV telah menandatangani akta jual beli saham dan efektif mengakuisisi 93 persen saham Bank Fama pada 22 Desember 2021.

Baca juga: Saham bank digital jadi rebutan, hati-hati permainan isu!

“EMV melakukan pembelian saham FAMA sebanyak 9.089.503.800 lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp908,95 miliar. Jumlah itu mewakili 93% dari seluruh modal yang ditempatkan dan disetor dalam FAMA setelah semua persyaratan yang disepakati dan diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan terpenuhi,” demikian Corporate Secretary Emtek Titi Maria Rusli dalam keterangannya.

Pendanaan transaksi pengambilalihan akan menggunakan dana internal dari EMV. Selain itu, langkah akuisisi tersebut dinilai sejalan dengan rencana bisnis jangka panjang EMV untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.

Sementara itu, manajemen Bank Fama mengatakan akuisisi tersebut memungkinkan perseroan memanfaatkan kekuatan finansial, jaringan global, serta produk dan keahlian sektoral dari EMV untuk meningkatkan ambisinya dalam bertumbuh.

Baca juga: Gaspol, rights issue Bank KB Bukopin over subcribed!

Di sisi lain, EMTK perlu melakukan kerja keras dalam memperbaiki kinerja Bank Fama dalam beberapa tahun terakhir. Jika ditarik mundur, terakhir kali Bank Fama membukukan pertumbuhan laba pada 2017. Sejak saat itu, sepanjang 2018 hingga 2020, Bank Fama terus mengalami pelemahan kinerja.

Tahun 2020, misalnya, perusahaan hanya membukukan laba tahunan Rp11,25 miliar. Nominal ini merosot 20,54% dari laba tahunan 2019, yang mencapai Rp14,16 miliar. Pendapatan bunga bersih Fama pada 2020 yang berada di kisaran Rp41,43 miliar juga turun 8,38% dari Rp45,22 miliar secara tahunan (year-on-year/yoy). Bank Fama per Desember 2021 tercatat memiliki modal inti utama senilai Rp1,001 triliun. Sesuai dengan POJK 12/2020, modal inti minimum yang harus dipenuhi sebesar Rp2 triliun paling lambat 31 Desember 2021.

Halaman:

Editor: Deddy H. Pakpahan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keren, Bank Jago mulai cuan di 2021!

Jumat, 11 Maret 2022 | 17:53 WIB

Langkah BSI menjadi bank BUMN

Sabtu, 26 Februari 2022 | 21:56 WIB

Koreksi beruntun saham Bank Jago sampai kapan?

Minggu, 13 Februari 2022 | 08:10 WIB

Jenius makin serius garap reksa dana

Senin, 7 Februari 2022 | 08:00 WIB

Allo Bank kantongi Rp 4,8 triliun dari rights issue

Jumat, 4 Februari 2022 | 07:00 WIB
X