Kiat Bank Mandiri kelola likuiditas di saat suku bunga acuan BI yang tinggi

- Minggu, 22 Januari 2023 | 22:57 WIB
Likuiditas akan menjadi tantangan perbankan pada tahun ini di tengah tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang tinggi. (Foto: Ist)
Likuiditas akan menjadi tantangan perbankan pada tahun ini di tengah tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang tinggi. (Foto: Ist)

digitalbank.id - SUKU bunga acuan BI dari bulan Agustus 2022 itu telah mengalami kenaikan sebanyak enam kali secara beruntun. Konsekuensi logisnya, likuiditas akan menjadi tantangan perbankan pada tahun ini di tengah tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang tinggi.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) pun menyiapkan sejumlah cara dalam mengelola likuiditasnya tahun ini. Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan bahwa posisi likuiditas Bank Mandiri saat ini berada di level yang optimal. Loan to deposit ratio (LDR) Bank Mandiri secara bank only berada pada level 81,16 persen per November 2022.

Tercatat, pada periode yang sama dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri berhasil tumbuh sebesar 13,95 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.125,05 triliun. Kemudian kredit Bank Mandiri tumbuh 12,46 persen yoy menjadi Rp 920,43 triliun.

Baca Juga: Bank Indonesia prediksi transaksi perbankan digital tembus Rp67 ribu triliun di tahun 2023

"Untuk 2023 kami mempertimbangkan proyeksi bahwa penyaluran kredit akan meningkat seiring dengan kondisi bisnis dan perekonomian yang terus tumbuh. Bank Mandiri pun akan terus mengkaji serta memonitor kecukupan likuiditas dari waktu ke waktu secara prudent dan optimal," kata Rudi, Minggu (22/1/2023).

Sementara, dalam mengelola likuiditas, Bank Mandiri juga mengeksekusi strategi pendanaan. "Bank Mandiri akan mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain opsi instrumen yang tersedia, timing yang tepat, serta kondisi pasar," ungkap Rudi. Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebutkan bahwa likuiditas akan menjadi tantangan perbankan pada tahun ini di tengah tren suku bunga acuan BI yang tinggi. Sebab, pertumbuhan kredit diperkirakan masih meningkat secara bertahap sejalan pemulihan aktivitas bisnis masyarakat, sementara DPK masih akan tumbuh dengan laju lebih lambat.

Baca Juga: Sampai akhir 2022, BI melaporkan likuiditas perbankan terjaga baik

"Berlanjutnya peningkatan permintaan kredit akan menjadi tantangan bagi bank dalam mengelola likuiditasnya sekaligus tetap menjaga pertumbuhan kredit yang sehat," tulis LPS berdasarkan laporannya pada akhir bulan lalu. Sementara, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini telah memutuskan untuk kembali menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Suku bunga deposit facility pun naik sebesar 25 bps menjadi 5 persen, dan suku bunga lending facility naik sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.(SAF) 

Editor: Safaruddin Husada

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini dia tiga provinsi dengan risiko kredit tinggi!

Jumat, 13 Januari 2023 | 18:54 WIB
X