OJK prediksi risiko resesi ekonomi global, namun Indonesia bisa bertahan karena ditopang konsumsi domestik

- Senin, 5 Desember 2022 | 20:33 WIB
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) melihat risiko resesi ekonomi global semakin besar kemungkinannya. Namun, perekonomian Indonesia mampu bertahan dari gejolak karena ditopang oleh konsumsi domestik. (Foto: Ilustasi)
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) melihat risiko resesi ekonomi global semakin besar kemungkinannya. Namun, perekonomian Indonesia mampu bertahan dari gejolak karena ditopang oleh konsumsi domestik. (Foto: Ilustasi)

 

digitalbank.id - OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) melihat risiko resesi ekonomi global semakin besar kemungkinannya. Namun, perekonomian Indonesia mampu bertahan dari gejolak karena ditopang oleh konsumsi domestik. Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan perekonomian internasional ke depan akan semakin sulit akibat resesi global. “Dan apakah akan ada resesi global? Hal ini kemungkinan besar akan terjadi, setidaknya di negara maju, bahkan di Eropa, dan pertumbuhan cenderung melambat di AS," ujarnya dalam rilis aplikasi otomasi informasi IBPR-S, Senin (5/12/2022).

Mahendra menambahkan, apa yang dilakukan otoritas saat ini di negara maju tidak pernah atau jarang terjadi. Hal ini karena bank sentral di negara maju lebih cenderung peduli ketika perekonomian negaranya sedang tumbuh. "Dasarnya adalah Federal Reserve AS mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Mereka melihat ini sebagai ancaman serius dari inflasi yang tinggi," katanya. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini inflasi tinggi di negara-negara maju. Misalnya, inflasi di Amerika Serikat mencapai 8,8 persen, sedangkan di Inggris Raya mencapai 10 persen. Hal ini terjadi di tengah upaya Indonesia untuk mengendalikan inflasi.

Artinya, lanjut Mahendra, hampir tidak bisa dihindari karena bank sentral di negara maju tidak memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Di sisi lain, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melihat positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai anugerah akibat memburuknya kinerja ekonomi banyak negara. Misalnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,72 persen year-on-year (y/y/joy) pada kuartal ketiga 2022.

Baca Juga: Dukung eksistensi BPR dan dorong inklusi keuangan, OJK luncurkan aplikasi informasi IBPR-S

Lembaga internasional juga memprediksi perekonomian Indonesia dapat tumbuh sebesar 5,1 hingga 5,3 persen pada tahun 2023. Pejabat Indonesia di International Monetary Fund (IMF) juga memprediksi Indonesia akan mencapai target inflasi 3 persen untuk satu tahun ke depan di tengah ancaman resesi dan ekonomi global. perlambatan ekonomi. Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kinerja dan prediksi positif itu tak bisa dilepaskan dari sejumlah sektor ekonomi pendukung yang dimiliki oleh Indonesia. “Resiliensi ekonomi Indonesia tersebut ditopang oleh konsumsi domestik,” ujar Purbaya. 

Dia menjelaskan konsumsi domestik yang tinggi memitigasi dampak goncangan ekonomi global terhadap perekonomian nasional. Konsumsi domestik sendiri menyumbang 50,38 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, Purbaya juga mencontohkan Indeks Penjualan Eceran dan Indeks Produksi Manufaktur (PMI) yang masih tercatat di level ekspansif. “Kalau dilihat dari indikator ekonomi riil, masih menunjukkan perkembangan yang baik. Penjualan eceran tumbuh positif dan optimisme konsumen meningkat,” katanya.

Baca Juga: OJK sudah oke, bank bjb kini pegang 7,15% saham Bank Bengkulu

Purbaya juga mengungkapkan optimisme terhadap sektor perbankan nasional. Hal ini terlihat dari intermediasi yang terus membaik seiring dengan pulihnya perekonomian negara. Biaya pinjaman bank diperkirakan meningkat sebesar 11,9 persen tahun-ke-tahun pada Oktober 2022. Pembiayaan pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,4 persen tahun-ke-tahun, menunjukkan bahwa dana mulai mengalir kembali ke sektor riil untuk bangkitkan perekonomian kembali. “Industri perbankan nasional kita tetap stabil. Tingkat permodalan bank secara nasional sangat tebal mencapai 25,12 persen pada September 2022. Kita sama-sama melihat perbankan kita tidak menghadapi masalah serius di masa pandemi kemarin, salah satunya karena permodalan yang sangat tinggi,” kata Purbaya.(SAF)

Halaman:

Editor: Safaruddin Husada

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini dia tiga provinsi dengan risiko kredit tinggi!

Jumat, 13 Januari 2023 | 18:54 WIB
X