• Kamis, 8 Desember 2022

DPK perbankan mengalami pertumbuhan melambat sepanjang September 2022, ada apa?

- Sabtu, 12 November 2022 | 19:46 WIB
PADA September 2022, simpanan masyarakat di bank atau biasa disebut dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan melambat. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan hal ini akan berlanjut hingga tahun depan.  (Foto: Ilustrasi LPS)
PADA September 2022, simpanan masyarakat di bank atau biasa disebut dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan melambat. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan hal ini akan berlanjut hingga tahun depan. (Foto: Ilustrasi LPS)

digitalbank.id - PADA September 2022, simpanan masyarakat di bank atau biasa disebut dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan melambat. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan hal ini akan berlanjut hingga tahun depan. 

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total DPK pada September 2022 tumbuh 6,77 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp7.647 triliun. Laju pertumbuhan ini melambat dari bulan sebelumnya yakni 7,77 persen yoy karena didorong oleh perlambatan deposito.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan DPK perbankan pada tahun depan tumbuh 8 persen karena tersulut pertumbuhan ekonomi. Perkiraan itu lebih rendah dari realisasi pertumbuhan DPK pada 2021 yang mencapai 12,21 persen yoy.

Baca Juga: Sampai September 2022 ada 494,39 juta rekening nasabah perbankan yang dijamin LPS

Menurutnya, tren perlambatan DPK saat ini tengah mencari titik keseimbangan. “Karena ketika uang dipakai, uang keluar dari sistem bank. Namun, uang itu akan berputar dan saat normal akan kembali masuk ke sistem bank,” ujarnya saat di Nusa Dua, Bali, Rabu (9/11/2022).

Sementara itu, Anggota Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono menyampaikan seiring dengan pertumbuhan ekonomi, mau tidak mau, kredit akan jauh lebih tinggi dibandingkan DPK. Adapun, ketika ekonomi melambat, DPK akan lebih tinggi dari kredit. Didik menilai hal itu tidak perlu dirisaukan karena likuiditas perbankan masih terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) berada di level 81,22 persen pada September 2022.

Sementara itu, rasio rasio AL/NCD dan AL/DPK tetap terjaga di atas ambang batas. “Jadi wajar ekonomi akan tumbuh. Kalau kita lihat sebelum Covid-19, DPK jauh lebih rendah dari kredit sehingga LDR 95 persen, jika sekarang sekitar 82 persen masih ada ruang. Justru kita berharap kredit tumbuh untuk mendukung ekonomi,” tuturnya.

Baca Juga: LPS ajak negara anggota IADI berikan kontribusi dalam pelaksanaan green economy

Sampai dengan September 2022, Kredit perbankan tercatat tumbuh 11 persen yoy. Kenaikan ini ditopang oleh kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 12,26 persen yoy. Adapun, secara bulanan, nominal kredit perbankan naik Rp95,45 triliun menjadi Rp6.274,9 triliun.

Halaman:

Editor: Safaruddin Husada

Tags

Artikel Terkait

Terkini

OJK terbitkan aturan bagi penyertaan modal bank umum

Rabu, 16 November 2022 | 21:39 WIB
X