• Senin, 26 September 2022

Bank Raya salurkan kredit Rp1,5 triliun ke segmen gig economy

- Sabtu, 17 September 2022 | 20:58 WIB
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) terus menggali potensi segmen pekerja informal, yaitu gig economy. Dengan fokus tersebut, Bank Raya telah menyalurkan kredit senilai Rp1,5 triliun ke segmen gig economy. (Foto: Ilustrasi logo Bank Raya)
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) terus menggali potensi segmen pekerja informal, yaitu gig economy. Dengan fokus tersebut, Bank Raya telah menyalurkan kredit senilai Rp1,5 triliun ke segmen gig economy. (Foto: Ilustrasi logo Bank Raya)

digitalbank.id - PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) terus menggali potensi segmen pekerja informal, yaitu gig economy. Dengan fokus tersebut, Bank Raya telah menyalurkan kredit senilai Rp1,5 triliun ke segmen gig economy.

Gig economy adalah sistem ekonomi di mana perusahaan mengontrak pekerja untuk jangka waktu pendek atau tertentu. Ini adalah sistem di mana satu orang dibayar untuk setiap proyek yang akan dikerjakan berdasarkan kontrak. Kaspar Situmorang, Direktur Utama Bank Raya, mengatakan dalam laporannya di Public Expose Live 2022, pihaknya tetap fokus pada pekerja informal. Pasalnya, bank umum selama ini memberikan pelayanan terbaik kepada pekerja tetap.

Baca Juga: Bank Raya Indonesia (AGRO) segera gabung dengan BI-Fast

“Tapi kami menemukan ada masalah dengan pekerja informal, yaitu mereka tidak memiliki agunan, jadi kami bekerja dengan big data dan platform basis dalam memberikan pinjaman tanpa jaminan,” kata Kaspar, Sabtu (17/9/2022).

Inilah yang dibangun oleh anak perusahaan BRI Group ini, yakni model yang menggabungkan platform perusahaan, tampilan web (web view), atau application programming interface (API) dan menghubungkannya ke platform entitas lain. Kaspar mengeklaim bahwa pencairan kredit dari emiten bank berkode saham AGRO ini di bawah 10 menit, bertenor 7 hari, dan ticket size maksimum mencapai Rp25 juta dengan biaya yang diklaim kompetitif. “Jadi kita bisa dukung pekerja informal dan bayar Rp 1,5 triliun dalam enam bulan dengan rasio kredit bermasalah (NPL) 0,05%,” kata Kaspar.

Baca Juga: Kolaborasi dengan BRI, Bank Raya luncurkan layanan transaksi host to host

Dia menambahkan dengan retensi yang tinggi, para agen Laku Pandai yang mendapatkan pinjaman dari perseroan mampu melakukan pencairan hingga 4 – 5 kali setiap bulannya. “Kami juga memberikan apresiasi berupa insentif, semisal untuk pencairan ke-5 akan kami berikan insentif dan apabila kualitas kreditnya baik maka akan kami berikan kenaikan limit dan tenor, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan retensi pinjaman,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan dalam melakukan penetrasi pembiayaan digital, Bank Raya menggunakan dua cara, yakni secara direct sales maupun channeling yang mengoptimalkan community branch, BRI Group dan Fintech. Akhmad mengatakan Bank Raya juga akan terus mengoptimalisasi acquisition channel yang dimiliki perseroan untuk terus meningkatkan penyaluran kredit digital bagi para gig economy.(SAF)


Editor: Safaruddin Husada

Artikel Terkait

Terkini

OJK membubarkan Dana Pensiun Perum Perumnas

Rabu, 21 September 2022 | 21:25 WIB

Bank BSI membeli Wisma Antara senilai Rp755 miliar

Rabu, 21 September 2022 | 21:09 WIB
X