Tiga inisiatif pembayaran digital versi Bank Indonesia untuk pemulihan ekonomi

- Selasa, 15 Februari 2022 | 14:00 WIB
Bank Indonesia mengungkapkan pembayaran digital menjadi penting dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.  BI melakukan tiga inisiatif sebagai bentuk aksi kolektif, kolaboratif dan inklusif di antara negara maju dan berkembang. (Foto: Ilustrasi Bank Indonesia)
Bank Indonesia mengungkapkan pembayaran digital menjadi penting dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. BI melakukan tiga inisiatif sebagai bentuk aksi kolektif, kolaboratif dan inklusif di antara negara maju dan berkembang. (Foto: Ilustrasi Bank Indonesia)

digitalbank.id - Bank Indonesia mengungkapkan pembayaran digital menjadi penting dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.  BI melakukan tiga inisiatif sebagai bentuk aksi kolektif, kolaboratif dan inklusif di antara negara maju dan berkembang.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo hal itu sejalan dengan tema Presidensi G20 2022 yaitu Recover Together, Recover Stronger. Ada tiga inisiatif yang dilakukan BI. Pertama, adalah percepatan konsolidasi industri sistem pembayaran yang terdiri atas perbankan maupun fintech.

Baca juga: Volume transaksi QRIS 2021 meningkat 331%, nilai transaksi naik 290%

Kedua, pengembangan infrastuktur sistem pembayaran yang terintegrasi, mendukung interoperabilitas dan interkoneksi, dengan inisiatif berupa Standar Open API Pembayaran (SNAP), ekspansi 15 juta pengguna QRIS dan BI-FAST. Ketiga, sinergi dan koordinasi yang mencakup elektronifikasi, integrasi transformasi, serta digitalisasi UMKM.

Dia mengatakan hal itu dalam seminar bertajuk Inovasi Sistem Pembayaran Digital, Senin (14//2).  Seminar ini merupakan bagian dari side event rangkaian pertemuan kedua tingkat Deputi Kementrian Keuangan dan Bank Sentral (Finance and Central Bank Deputies Meeting/FCBD) dan pertemuan pertama tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors Meetings/FMCBG) Presidensi G20 yang berlangsung 14-19 Februari 2022.

Baca juga: Customer experience dan risiko kejahatan di bank digital

Menurut Perry, layanan digital banking telah berkembang secara baik dalam menyediakan pembayaran ritel. Perkembangan digital memerlukan kunci utama yakni keseimbangan antara inovasi dan mitigasi risiko, serta bersama-sama menuju pembayaran mancanegara. Dalam kondisi saat ini, kolaborasi dan aksi bersama antara negara berkembang dan negara maju kian penting sejalan dengan tujuan dari G20.

“Di sisi domestik, berbagai strategi akan efektif apabila seluruh pemangku kepentingan bekerja sama melalui pendekatan yang inovatif dan kolaboratif,” katanya. (HAN)

 

Editor: Deddy H. Pakpahan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X