• Senin, 26 September 2022

Bunga simpanan tinggi, kenapa tidak?

- Senin, 27 Desember 2021 | 15:27 WIB
Penawaran bunga simpanan tinggi tidak menyalahi selama Bank telah menjelaskan kepada nasabah terkait risikonya. (Foto: Ilustrasi Wikipedia.org)
Penawaran bunga simpanan tinggi tidak menyalahi selama Bank telah menjelaskan kepada nasabah terkait risikonya. (Foto: Ilustrasi Wikipedia.org)

digitalbank.id -- KETUA DEWAN KOMISIONER Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, saat ini tingkat bunga penjaminan bank umum menjadi sebesar 3,5%, bank umum dalam valuta asing menjadi 0,25%.

Purbaya Yudhi Sadewa juga sempat mengatakan bahwa simpanan dengan bunga di atas bunga penjaminan tersebut tidak dijamin LPS. Oleh karena itu, Bank harus menjelaskan kepada nasabahnya bahwa deposito mereka tidak dijamin oleh LPS. Hal tersebut dilakukan agar nasabah mengetahui risikonya. Dia mengatakan penawaran bunga simpanan tinggi tidak menyalahi selama Bank telah menjelaskan kepada nasabah terkait risikonya.

Sebelumnya, pada akhir September 2021 lalu Rapat Dewan Komisioner (RDK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk menurunkan tingkat bunga penjaminan sebesar 50 basis poin untuk simpanan di bank umum dan BPR dalam rupiah. Sedangkan, untuk bank umum dalam valuta asing diturunkan sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: Vishal Tulsian: Teknologi digital adalah inti Amar Bank

Namun demikian, maraknya bank digital yang mengiming-imingi nasabah bunga simpanan atau deposito tinggi tetap mendapat perhatian serius Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Apalagi jika bank-bank digital tersebut menawarkan bunga simpanan jauh di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) LPS.

Herman Saheruddin, Direktur Group Riset LPS dalam webinar yang digelar Forwada bertajuk Menelisik Peran LPS dalam Memantik Pertumbuhan Kredit Perbankan, akhir pekan kemarin menuturkan, LPS terus berkoordinasi menyikapi fenomena ini. Menurutnya, baik LPS dan OJK terus berkoordinasi secara intensif agar perbankan digital tidak menimbulkan praktik moral hazard dan memicu perang suku bunga.

Koordinasi juga dilakukan agar perbankan digital ikut berkontribusi positif menjalankan fungsi intermediasi perbankan. “Kami, LPS dan OJK, berkoordinasi intensif mencermati suku bunga bank digital. Jangan sampai bank digital memanfaatkan perang suku bunga,” kata Herman.

Baca Juga: Persaingan bank digital bakal makin ramai pasca tuntasnya akuisisi Emtek atas Bank Fama

Diketahui, kemunculan bank-bank digital telah memberikan dampak positif terhadap industri perbankan di Tanah Air. Pun bank digital diharapkan tetap bisa menjaga kondusivitas industri perbankan dan berkontribusi positif terhadap pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.

Halaman:

Editor: Safaruddin Husada

Tags

Artikel Terkait

Terkini

OJK membubarkan Dana Pensiun Perum Perumnas

Rabu, 21 September 2022 | 21:25 WIB

Bank BSI membeli Wisma Antara senilai Rp755 miliar

Rabu, 21 September 2022 | 21:09 WIB
X